globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bulan Januari 2001

Selamat Tahun Baru, Selamat Memasuki Abad XXI dan Millenium III

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

STROKE? SEGERA BERTINDAK !

Pasti tidak enak kalau tiba-tiba stroke menyerang. Apalagi bila kehadirannya ketika kita masih muda. Namun, kalaupun harus mengalami, apa tindakan tepat untuk menekan dampak buruknya? Dan mengapa terserang stroke pada usia muda lebih “menguntungkan”?

Nasib baik rupanya dialami Bambang. Setelah selesai menjalani perawatan, restorasi, dan rehabilitasi sekitar setahun akibat serangan stroke, pria berusia 40 tahun ini bisa bekerja kembali di tempat kerjanya semula, meski fungsi tangan kanannya menurun, jalannya agak terseok dan kemampuan bicaranya sedikit melambat.

Itu semua berkat penanganan cepat yang diberikan keluarganya. Begitu terserang stroke, ia segera dibawa ke rumah sakit, menjalani pemeriksaan CT-Scan, dan tindakan medis berupa operasi. Kalau saja tindakan cepat tidak dilakukan, bisa-bisa dampak buruk stroke yang dideritanya lebih parah.

Yang Muda Bisa Pulih

Bila dilihat usianya, Bambang termasuk masih muda ketika serangan stroke datang. Tetapi nyatanya masih banyak lagi orang muda di negeri ini yang sudah merasakan “ganas”nya stroke.

Dari pengamatan Dr. dr. Sitti Airiza Ahmad, SpS(K), Kepala Penanggung Jawab Harian Unit Pelayanan Khusus Stroke (UPKS) “Soepardjo Roestam”, Subbag. Penyakit Dalam FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo, penderita stroke di Indonesia dan di negara-negara Timur pada umumnya, memang cenderung lebih muda dibandingkan dengan di negara Barat. Apa penyebabnya belum diketahui dengan pasti.

“Kemungkinan karena hipertensi di sini tidak ditangani dengan baik, sehingga lebih tinggilah risiko terjadinya stroke pada usia lebih muda. Kalau di luar negeri, hipertensi diberi obat dan ditangani dengan baik sehingga lebih terkontrol,” duga dr. Airiza.

Namun dr. Eka J. Wahjoepramono, ahli bedah saraf otak dari R.S. Siloam Glenneagles, Karawaci, punya pendapat sedikit berbeda. Pada kalangan muda (di bawah 35 tahun), kebanyakan stroke bukan karena faktor hipertensi tetapi justru karena kelainan pembuluh darah, seperti aneurisma (penggelembungan pembuluh darah, 0,5 – 1 cm, akibat lapisan dinding otot pembuluh darahnya lemah) atau arterio venous malformation (AVM), semacam varises pada pembuluh darah otak.

Apa pun penyebabnya, di mata dr. Airiza, kecenderungan tersebut justru lebih “menguntungkan”. “Karena menderitanya lebih muda dan jenisnya lakuner (ringan dan tidak berdarah), kalau ditangani dengan betul dia akan sembuh, mandiri, pulihnya lebih cepat dan lebih baik,” jelasnya.

Dr. Eka pun sepakat, stroke pada orang muda karena faktor hipertensi relatif lebih mudah diatasi, karena keadaan organnya rata-rata masih bagus. Secara umum daya tahan tubuh mereka pun lebih baik. Berbeda dengan orang tengah baya ke atas. Karena hipertensinya sudah menahun, mungkin sekali fungsi organ tubuh mereka sudah menurun. Apalagi kalau dibarengi penyakit diabetes atau penyakit jantung koroner! Tak mengherankan, pada penderita tengah baya lebih sering terjadi komplikasi pascaoperasi.

Stroke tergolong pembunuh terbesar di samping penyakit jantung koroner dan penyakit infeksi. Kalaupun penderita tak meninggal dunia, ya menurun kualitas hidupnya.

Menurut Prof. Dr. Sidiarto Kusumoputro SpS(K) dari Bagian Neurologi FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, seperti dikutip Kompas, 17 Februari 2000, bila bagian otak kiri yang terserang dan penderita cepat tertolong, dia akan mengalami gangguan berbahasa, berhitung, dan menulis.

Jika bagian otak kanan yang terserang, yang bersangkutan akan mengalami gangguan orientasi, misalnya orientasi ruangan, waktu, atau keseimbangan. Kecacatan yang berkaitan dengan fisik di antaranya kelumpuhan sesisi (hemiplegia atau hemiparalisis), kebutaan sesisi (hemianopia), dan gangguan perasaan pada permukaan tubuh sesisi macam kesemutan (hemiparetesia) dan baal (hemianestesia).

Akibat solider

Pada dasarnya stroke menyebabkan gangguan fungsi otak. Namun karena nyaris semua organ bekerja dengan kontrol otak, gangguan itu menyebabkan terganggunya fungsi organ. Misalnya, otak di sebelah kiri area broca sedikit ke depan adalah pusat untuk mengontrol berbicara, dan area wernicke untuk mendengar.

“Meski ada tugas masing-masing, semua bekerja dalam suatu network. Misalnya, terjadi stroke pada seseorang. Yang terganggu area broca, maka ia tidak bisa bicara. Tapi karena area itu biasa bekerja sama dengan area wernicke, pada waktu permulaan terserang stroke wernicke-nya juga tidak bekerja ... solider,” jelas dr. Airiza.

Pada kasus lain, sebenarnya yang terkena stroke cuma bagian tangan, tapi kakinya ikut lumpuh. Setelah beberapa waktu, kaki itu akan kembali fungsinya.

Dinyatakan oleh dr. Eka, faktor keturunan atau hipertensi esensial jauh lebih banyak penderitanya (95%), daripada faktor lain. Penelitian terakhir mengatakan, untuk mencegah stroke seseorang dengan tensi sistolik 140 ke atas disarankan minum obat hipertensi secara rutin untuk menghindari terjadinya stroke. Dosisnya, dokter yang menentukan. Kalau hendak melakukan olahraga, tekanan darah selalu diukur terlebih dahulu. Kalau ternyata tensinya tinggi sebaiknya olahraga ditunda.

Waktunya Hanya Tiga Jam

Apa yang dilakukan keluarga Bambang memang merupakan contoh baik bagi keluarga lain, yang anggota keluarganya terserang stroke. Kurang dari tiga jam Bambang sudah mendapat penanganan semestinya. Ini memang memerlukan pengetahuan memadai tentang stroke dan penanganannya.

Dulu kita masih bisa tenang-tenang melihat stroke, karena menurut definisinya stroke itu adalah kelainan yang menetap selama 24 jam. Namun dengan pemahaman yang lebih mendalam, kini orang meyakini bahwa stroke harus ditangani segera dalam waktu kurang dari 3 jam setelah terjadi.

Sebagai langkah awal tentu berusaha mengenali tanda-tanda datangnya serangan stroke. Cara termudah adalah dengan menggunakan skala stroke prarumah sakit (sebelum ke rumah sakit) “Cincinati”. Dalam skala ini ada tiga hal yang perlu kita amati, yakni kelemahan otot wajah, gerakan lengan, dan kemampuan bicara.

Kelemahan otot wajah bisa dilihat ketika seseorang tersenyum atau menyeringai. Bila satu sisi kurang bergerak, maka bisa kita sebut abnormal. Gerakan lengan bisa dilihat dengan menutup mata lalu mengangkat lengan sebahu. Disebut tidak normal bila satu sisinya kurang atau tidak bergerak.

Sedangkan kemampuan bicara bisa diketahui dengan memintanya berbicara “Kau tidak bisa mengajar anjing tua kiat baru”. Kalau bicaranya pelo, kalimat tidak memadai, atau tidak bisa bicara, bisa kita katakan tidak normal.

Dari ketiga parameter di atas, bila salah satu saja mendadak abnormal, kita harus mencurigai adanya serangan stroke.

Jangan diberi minum

Kalau sudah demikian, pertama, kalau pasien sadar, pasien kita tidurkan dengan kepala lebih tinggi dari jantung. Posisi berbaringnya 15o – 30o. Sedapat mungkin ia dipasok oksigen, karena sebenarnya bagian otak orang terserang stroke mengalami kekurangan darah, sehingga ia kekurangan oksigen dan glukosa darah. Oksigen diberikan 1,5 – 2 l per menit.

“Pasien tidak boleh diberi minum, karena lebih dari 60% pasien stroke mengalami gangguan menelan. Kalau diberi minum, dia bisa keselek,” pesan dr. Airiza. Kalau pasiennya gelisah betul, tidak bisa bicara, ada ajuran untuk memeriksa kandung kencingnya, penuh atau tidak. “Kadang-kadang dia kepingin kencing tapi segan atau sulit mengutarakannya,” tambahnya.

Kalau pasiennya tidak sadar dan muntah-muntah, baringkan dia miring ke sisi kiri supaya muntahnya keluar. Kepalanya tidak diangkat. Kalau dia tidak bernafas, berikan bantuan pernafasan dengan cara mouth to mouth respiration dan jantung dirangsang dengan memberi tekanan kejut.

Sesegera mungkin larikan dia ke rumah sakit. Posisi yang dianjurkan adalah posisi netral, yaitu pasien ditidurkan terlentang dengan kepala ditinggikan, 15o – 30o, dengan kaki sedikit ditekuk. Tujuannya, supaya tidak cepat terjadi peninggian tekanan di dalam kepala. Posisi ini tetap dipakai selama perawatan di rumah sakit. Dengan mulai kepala sedikit di atas, kita akan mudah mendudukkan pasien, tanpa menimbulkan masalah lain. Kalau keadaannya baik semua, dalam tiga kali 24 jam sudut kemiringannya bisa lebih tinggi lagi, misalnya 60o. Lalu bisa segera duduk.

Cara lama, pasien dibiarkan tidur selama dua minggu dengan posisi kepala rata badan. Akibatnya pasien kelak susah didudukkan, tekanan darahnya susah dikontrol, mengeluh pusing terus dan sebagainya.

Pasien sebaiknya ditemani keluarga yang bisa memberi keterangan tentang riwayat kesehatannya. Misalnya apakah pasien penderita diabetes? Informasi ini sangat diperlukan, karena diabetes bisa memperburuk keadaan pasien. Andaikan ya, pasien pun bisa cepat diperiksa kadar gulanya, lalu diputuskan perlu diberi insulin atau tidak, infusnya harus bagaimana, dst. Dari keluarga juga bisa diketahui, obat-obat apa saja yang telah diberikan.

Menurunkan risiko kematian

Penanganan di rumah sakit sangat ditentukan oleh jenis stroke yang menyerang. Stroke berdarah atau tidak? Metoda yang paling akurat adalah dengan menggunakan CT-scan. Inilah yang dinamakan pemeriksaan Golden. Yang lebih canggih lagi, menurut dr. Eka, menggunakan Magnetic Resonance Angiography (MRA). Tapi bila peralatan canggih ini tidak tersedia, dokter tetap mengandalkan pada gejala klinis.

Begitu hasil CT-Scan menunjukkan terjadi perdarahan, langsung diberikan obat yang segera dapat membekukan darah, agar darah tidak mengalir lebih luas. Sebaliknya kalau tidak terjadi perdarahan, diberikan obat yang segera dapat mengencerkan pembekuan darah. "Kalau pemberian obatnya terbalik, bisa fatal," tegas dr. Eka.

Penanganan stroke hemoragik ini umumnya dengan tindakan operasi. Tujuan pembedahan sebenarnya selain penyelamatan jiwa, juga untuk pembenahan pembuluh yang cacat.

Bila terjadi perdarahan, masih dipertimbangkan apakah perlu dilakukan pembedahan darurat, tidak dibedah sama sekali, ataukah dilakukan pembedahan kemudian. Pembedahan darurat biasanya dilakukan apabila volume perdarahan besar sehingga darah dikhawatirkan bisa mendorong posisi otak ke arah lain dan bisa berakibat fatal.

Dilakukan atau tidaknya pembedahan darurat juga dengan mempertimbangkan letak pembuluh darah yang pecah. Kalau pecahnya pembuluh darah membentuk gumpalan besar dan terletak di tempat yang mudah dijangkau, kemungkinan besar lebih baik dioperasi. Tindakan itu akan jauh lebih baik buat pasien.

Sebagai misal perdarahan terjadi di otak kecil, di bagian belakang kepala, sehingga menyumbat aliran liquor (cairan otak) dan tekanan ke orak semakin besar.

“Pasalnya, dalam sehari sekitar 400 cc cairan otak melewati daerah tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana kalau sampai terhalang! Bisa jadi keempat anggota badannya tidak lagi bisa digerakkan,” ungkap dr. Eka. Yang pasti, tingkat keberhasilan pembedahan darurat umumnya tinggi.

Tak boleh batuk

Sebaliknya, “Kalau perdarahan terjadi di tempat yang sulit, kita lebih memilih cara konservatif,” aku dr. Airiza. Pilihan ini lebih disebabkan keterbatasan peralatan canggih. Bila peralatannya mendukung, penanganan masih bisa dilakukan. Misalnya dengan embolisasi, seperti yang dilakukan dr. Eka.

Teknik ini dilakukan bila letak pembuluh lebih rumit atau kondisi pasien tidak memungkinkan untuk dibedah, misalnya koma atau terjadi pembengkakkan di otak. Pada teknik ini pembuluh darah yang sudah mulai bocor, misalnya karena aneurisma, disumpal dengan per (koil) mikro supaya perembesan darah terhenti dan pembuluh darah tidak pecah. Penyumpalan dilakukan menggunakan kateter dari pembuluh darah paha.

Setelah kondisi pasien membaik, bisa dilakukan tindakan pembedahan agar aneurisma tertanggulangi secara aman. Pembedahan dilakukan untuk menjepit (clipping) pembuluh darah yang mengalami aneurisma.

"Perawatan dalam periode menunggu tindakan pembedahan harus ekstra hati-hati, sebab pasien tidak boleh batuk, tidak boleh hipertensi dan tidak boleh duduk, agar tidak terjadi perdarahan kembali sebelum dilakukan penjepitan," kata dr. Eka yang mengaku sering merasa tegang menjalankan tindakan yang rumit ini.

Bila clipping tidak bisa dilaksanakan, misalnya karena ukuran gelembung aneuresma lebih dari 2,5 cm atau aneuresma terletak pada kantung otak, ditempuh bypass pembuluh otak yang dinamakan superfacial temporal artery (STA) atau intra-extra cranial bypass surgery.

Pembuluh darah yang menggelembung ditutup dan pembuluh arteri luar kepala di atas telinga (yang kalau diraba terasa berdetak) disambung langsung ke pembuluh darah otak lanjutan dari yang ditutup.

Pada kasus AVM, penderita diobati terlebih dahulu sebelum dibedah untuk membuang varisesnya. "Namun kalau letaknya rumit sehingga sulit dilakukan pembedahan bisa dicoba dengan embolisasi atau menyumbat bagian yang terganggu," tutur dokter ahli bedah syaraf yang banyak menggali keahliannya di Jepang ini. Cara lain lagi yang belum dilakukan di Indonesia dengan menyinaran gamma agar AVM mengkerut.

Bisa pulih, asal …

Target yang hendak dicapai dalam perawatan pasien stroke adalah pemulihan kondisi pasien. Memang, pulih di sini tidak berarti menjadi seperti orang sehat. “Dari cuma diam, kemudian bisa buka mata, itu termasuk pulih,” ujar dr. Airiza. Nah, dalam menunggu pemulihan itu, kondisi organnya harus dipelihara, supaya ketika pulih organnya masih dapat bekerja.

Keluarga harus membantu agar, sendi-sendi tangan dan kaki pasien, misalnya, digerak-gerakkan sampai maksimal supaya tidak kaku. Bersamaan dengan proses itu, secara perlahan sistem saraf yang mengatur organ tersebut akan kembali berfungsi.

Untuk pasien yang mengalami gangguan bicara, keluarga pasien sangat perlu untuk dilibatkan, terutama untuk mengerti bagaimana pasien berbicara.

“Kalau di rumah sakit, kita selalu berusaha dulu membantu pasien supaya mampu berkomunikasi. Bisa dengan menganggukkan dan menggelengkan kepala; atau mengacungkan jempol tangan ('ya') dan kelingking ('tidak'). Pada pasien yang hanya bisa menggerakkan mata, kami ajarkan satu kali kedip tanda 'ya', dua kali kedip tanda 'tidak'. Kalau pasien sudah mampu mengungkapkan perasaannya dengan 'ya' atau 'tidak', itu sudah pertanda bagus. Cepat pulihya,” ungkap dr. Airiza.

Cara berkomunikasi lainnya bisa macam-macam, misalnya dengan gambar yang dibuat keluarga pasien. Pasien cuma menjawab ya atau tidak. Pada tahapan selanjutnya, terapis wicara akan memberikan pelatihan. Misalnya dengan bahasa isyarat.

“Biasanya, kalau pasien tidak marah-marah, lega karena komunikasinya lancar, (organ-organ) yang lainnya akan cepat kembali berfungsi,” tambahnya.

Dalam proses perawatan, kandung kencing juga ditangani dengan betul, karena pasien seringkali tidak bisa menahan kecing. Untuk perawatan ini kapasitas kandung kencingnya betul-betul diukur. Dengan diketahuinya kapasitas kandung kencing, pengeluaran urine bisa dilakukan secara bertahap. “Kalau dipasangi selang terus di kandung kencingnya, pasien jadi susah dilatih kencing,” ungkap dr. Airiza.

Pencapaian target pemulihan tergantung sekali pada fungsi sistemik orang itu. Karenanya, penyakit yang menyebabkan munculnya stroke mesti selalu dikontrol. Bila pasien mengalami stroke akibat hipertensi, tim medis terus berusaha supaya tensinya tidak tinggi. Atau, kalau pasien menyandang diabetes, kadar gula darahnya diupayakan selalu normal. Untuk itu, dokter dari berbagai keahlian dilibatkan. Inilah yang disebut restorasi.

Lima grade

Yang khas untuk pasien stroke adalah proses restorasi harus dilakukan terus menerus. Dari menit ke menit. Dari jam ke jam. Ketika di rumah sakit, proses restorasi betul-betul dipegang oleh perawat. Perawat terus merangsang.dan memelihara supaya organ (yang tidak berfungsi) tetap bekerja. “Terapis lebih mengarahkan. Sehingga dikatakan inti dari unit stroke adalah perawat khusus stroke,” jelas dr. Airiza.

Perawatan pasien di rumah sakit tidak mungkin sampai pulih betul. “Pemulihannya bisa di rumah, karena jalannya (pemulihan) pelan sekali. Masa pemulihan itu saya katakan enam bulan. Tapi kalau tatalaksana tidak maksimal pemulihannya bisa lebih dari setahun,” imbuhnya.

Dr. Eka menyebutkan pemulihan sehabis stroke terbagi atas 5 grade. Pemulihan termasuk grade I apabila Glasgow outcome scale(GOS)-nya bagus, yaitu pemulihannya sempurna. Termasuk grade II apabila ia cacat tapi masih mampu kembali ke pekerjaan semula, misalnya hanya tangan kirinya saya yang lumpuh sehingga ia masih dapat bekerja dengan tangan kanan. Termasuk grade III apabila ia tidak lagi mampu kembali ke pekerjaan semula, tetapi tetap masih bisa bekerja. Apabila hidupnya sudah tergantung pada orang lain atau tidak lagi bisa mengurus dirinya sendiri, termasuk grade IV. Yang terburuk atau termasuk grade V apabila ia hanya mampu berbaring akibat batang otaknya mengalami kerusakan. Ia tidak lagi bisa berkomunikasi serta fungsi luhurnya hilang.

Memanjakan, malah lambat pulih

Nah, perawatan di rumah mesti dilakukan seperti di rumah sakit hingga pasien mandiri. “Karenanya, sebelum pasien pulang, keluarganya kita beri edukasi secara menarik. Karena pasien sangat tergantung pada keluarga pasien. Dia belum mandiri,” ungkap dr. Airiza.

Ironisnya, yang menjadi “penyakit” orang Indonesia bila ada anggota keluarga yang sakit adalah suka membantu secara berlebihan atau memanjakannya. Padahal, hal inilah yang justru memperlambat proses pemulihan.

Untuk mencegah terulangnya serang stroke, pasien mesti menjalani pola hidup sehat dengan melakukan olahraga secara teratur. Olahraga di sini bukanlah yang kompetitif.

“Kami menganjurkan olah raga yang diintegrasikan dengan cara hidup sehari-hari. Misalnya, meletakkan pesawat telepon tidak di meja tulis, sehingga kalau telepon berdering dia harus berjalan untuk mengangkatnya. Kalau di kantor ada lift, jangan naik lift terus, coba naik tangga. Kalau parkir mobil pilih tempat jauh, supaya ada kesempatan untuk jalan kaki,” anjur dr. Airiza. Hal-hal seperti ini juga diajarkan kepada keluarga pasien ketika hendak meninggalkan rumah sakit.

“Banyak juga pasien yang saya anjurkan untuk memasak. Karena memasak itu mengasyikkan, cepat jadi, dan kelihatan hasilnya. Apalagi kalau dinikmati orang, dia bisa senang. Sebenarnya kalau pasien laki-laki mau memasak, bagus sekali,” tutur dr. Airiza lagi.

Bagaimana pun juga, stroke tak bisa dipisahkan dengan gaya hidup. Dengan gaya hidup sehat; makan dengan gizi seimbang dan cukup aktivitas fisik, risiko terserang stroke bisa ditekan. (I Gede Agung Yudana/Nanny Selamihardja)

Boks 1: Bila Di Rumah Anda Ada Pasien Stroke...

Boks 2: Tak Cukup Hanya Pencuci Mulut

Active Channel

© 1996 - 2000 Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/

Counter by Pandawa

Jelang Milenia III

Click to add search to YOUR web site! sing tak go gawe hompej