|
|
Bulan Januari 2001
|
|
STROKE? SEGERA BERTINDAK
!
Itu semua berkat penanganan cepat yang diberikan keluarganya. Begitu
terserang stroke, ia segera dibawa ke rumah sakit, menjalani
pemeriksaan CT-Scan, dan tindakan medis berupa operasi. Kalau saja
tindakan cepat tidak dilakukan, bisa-bisa dampak buruk stroke yang
dideritanya lebih parah.
Yang Muda Bisa Pulih
Bila dilihat usianya, Bambang termasuk masih muda ketika serangan
stroke datang. Tetapi nyatanya masih banyak lagi orang muda di negeri
ini yang sudah merasakan “ganas”nya stroke.
Dari pengamatan Dr. dr. Sitti Airiza Ahmad, SpS(K), Kepala Penanggung
Jawab Harian Unit Pelayanan Khusus Stroke (UPKS) “Soepardjo
Roestam”, Subbag. Penyakit Dalam FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo,
penderita stroke di Indonesia dan di negara-negara Timur pada umumnya,
memang cenderung lebih muda dibandingkan dengan di negara Barat. Apa
penyebabnya belum diketahui dengan pasti.
“Kemungkinan karena hipertensi di sini tidak ditangani dengan baik,
sehingga lebih tinggilah risiko terjadinya stroke pada usia lebih
muda. Kalau di luar negeri, hipertensi diberi obat dan ditangani
dengan baik sehingga lebih terkontrol,” duga dr. Airiza.
Namun dr. Eka J. Wahjoepramono, ahli bedah saraf otak dari R.S. Siloam
Glenneagles, Karawaci, punya pendapat sedikit berbeda. Pada kalangan
muda (di bawah 35 tahun), kebanyakan stroke bukan karena faktor
hipertensi tetapi justru karena kelainan pembuluh darah, seperti
aneurisma (penggelembungan pembuluh darah, 0,5 – 1 cm, akibat
lapisan dinding otot pembuluh darahnya lemah) atau arterio venous
malformation (AVM), semacam varises pada pembuluh darah otak.
Apa pun penyebabnya, di mata dr. Airiza, kecenderungan tersebut justru
lebih “menguntungkan”. “Karena menderitanya lebih muda dan
jenisnya lakuner (ringan dan tidak berdarah), kalau ditangani dengan
betul dia akan sembuh, mandiri, pulihnya lebih cepat dan lebih
baik,” jelasnya.
Dr. Eka pun sepakat, stroke pada orang muda karena faktor hipertensi
relatif lebih mudah diatasi, karena keadaan organnya rata-rata masih
bagus. Secara umum daya tahan tubuh mereka pun lebih baik. Berbeda
dengan orang tengah baya ke atas. Karena hipertensinya sudah menahun,
mungkin sekali fungsi organ tubuh mereka sudah menurun. Apalagi kalau
dibarengi penyakit diabetes atau penyakit jantung koroner! Tak
mengherankan, pada penderita tengah baya lebih sering terjadi
komplikasi pascaoperasi.
Stroke tergolong pembunuh terbesar di samping penyakit jantung koroner
dan penyakit infeksi. Kalaupun penderita tak meninggal dunia, ya
menurun kualitas hidupnya.
Menurut Prof. Dr. Sidiarto Kusumoputro SpS(K) dari Bagian Neurologi
FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, seperti dikutip Kompas, 17
Februari 2000, bila bagian otak kiri yang terserang dan penderita
cepat tertolong, dia akan mengalami gangguan berbahasa, berhitung, dan
menulis.
Jika bagian otak kanan yang terserang, yang bersangkutan akan
mengalami gangguan orientasi, misalnya orientasi ruangan, waktu, atau
keseimbangan. Kecacatan yang berkaitan dengan fisik di antaranya
kelumpuhan sesisi (hemiplegia atau hemiparalisis), kebutaan sesisi
(hemianopia), dan gangguan perasaan pada permukaan tubuh sesisi macam
kesemutan (hemiparetesia) dan baal (hemianestesia).
Akibat solider
Pada dasarnya stroke menyebabkan gangguan fungsi otak. Namun karena
nyaris semua organ bekerja dengan kontrol otak, gangguan itu
menyebabkan terganggunya fungsi organ. Misalnya, otak di sebelah kiri
area broca sedikit ke depan adalah pusat untuk mengontrol
berbicara, dan area wernicke untuk mendengar.
“Meski ada tugas masing-masing, semua bekerja dalam suatu network.
Misalnya, terjadi stroke pada seseorang. Yang terganggu area broca,
maka ia tidak bisa bicara. Tapi karena area itu biasa bekerja sama
dengan area wernicke, pada waktu permulaan terserang stroke wernicke-nya
juga tidak bekerja ... solider,” jelas dr. Airiza.
Pada kasus lain, sebenarnya yang terkena stroke cuma bagian tangan,
tapi kakinya ikut lumpuh. Setelah beberapa waktu, kaki itu akan
kembali fungsinya.
Dinyatakan oleh dr. Eka, faktor keturunan atau hipertensi esensial
jauh lebih banyak penderitanya (95%), daripada faktor lain. Penelitian
terakhir mengatakan, untuk mencegah stroke seseorang dengan tensi
sistolik 140 ke atas disarankan minum obat hipertensi secara rutin
untuk menghindari terjadinya stroke. Dosisnya, dokter yang menentukan.
Kalau hendak melakukan olahraga, tekanan darah selalu diukur terlebih
dahulu. Kalau ternyata tensinya tinggi sebaiknya olahraga ditunda.
Waktunya Hanya Tiga Jam
Apa yang dilakukan keluarga Bambang memang merupakan contoh baik bagi
keluarga lain, yang anggota keluarganya terserang stroke. Kurang dari
tiga jam Bambang sudah mendapat penanganan semestinya. Ini memang
memerlukan pengetahuan memadai tentang stroke dan penanganannya.
Dulu kita masih bisa tenang-tenang melihat stroke, karena menurut
definisinya stroke itu adalah kelainan yang menetap selama 24 jam.
Namun dengan pemahaman yang lebih mendalam, kini orang meyakini bahwa
stroke harus ditangani segera dalam waktu kurang dari 3 jam setelah
terjadi.
Sebagai langkah awal tentu berusaha mengenali tanda-tanda datangnya
serangan stroke. Cara termudah adalah dengan menggunakan skala stroke
prarumah sakit (sebelum ke rumah sakit) “Cincinati”. Dalam skala
ini ada tiga hal yang perlu kita amati, yakni kelemahan otot wajah,
gerakan lengan, dan kemampuan bicara.
Kelemahan otot wajah bisa dilihat ketika seseorang tersenyum atau
menyeringai. Bila satu sisi kurang bergerak, maka bisa kita sebut
abnormal. Gerakan lengan bisa dilihat dengan menutup mata lalu
mengangkat lengan sebahu. Disebut tidak normal bila satu sisinya
kurang atau tidak bergerak.
Sedangkan kemampuan bicara bisa diketahui dengan memintanya berbicara
“Kau tidak bisa mengajar anjing tua kiat baru”. Kalau bicaranya
pelo, kalimat tidak memadai, atau tidak bisa bicara, bisa kita katakan
tidak normal.
Dari ketiga parameter di atas, bila salah satu saja mendadak abnormal,
kita harus mencurigai adanya serangan stroke.
Jangan diberi minum
Kalau sudah demikian, pertama, kalau pasien sadar, pasien kita
tidurkan dengan kepala lebih tinggi dari jantung. Posisi berbaringnya
15o – 30o. Sedapat mungkin ia dipasok oksigen,
karena sebenarnya bagian otak orang terserang stroke mengalami
kekurangan darah, sehingga ia kekurangan oksigen dan glukosa darah.
Oksigen diberikan 1,5 – 2 l per menit.
“Pasien tidak boleh diberi minum, karena lebih dari 60% pasien
stroke mengalami gangguan menelan. Kalau diberi minum, dia bisa
keselek,” pesan dr. Airiza. Kalau pasiennya gelisah betul, tidak
bisa bicara, ada ajuran untuk memeriksa kandung kencingnya, penuh atau
tidak. “Kadang-kadang dia kepingin kencing tapi segan atau sulit
mengutarakannya,” tambahnya.
Kalau pasiennya tidak sadar dan muntah-muntah, baringkan dia miring ke
sisi kiri supaya muntahnya keluar. Kepalanya tidak diangkat. Kalau dia
tidak bernafas, berikan bantuan pernafasan dengan cara mouth to
mouth respiration dan jantung dirangsang dengan memberi tekanan
kejut.
Sesegera mungkin larikan dia ke rumah sakit. Posisi yang dianjurkan
adalah posisi netral, yaitu pasien ditidurkan terlentang dengan kepala
ditinggikan, 15o – 30o, dengan kaki sedikit
ditekuk. Tujuannya, supaya tidak cepat terjadi peninggian tekanan di
dalam kepala. Posisi ini tetap dipakai selama perawatan di rumah
sakit. Dengan mulai kepala sedikit di atas, kita akan mudah
mendudukkan pasien, tanpa menimbulkan masalah lain. Kalau keadaannya
baik semua, dalam tiga kali 24 jam sudut kemiringannya bisa lebih
tinggi lagi, misalnya 60o. Lalu bisa segera duduk.
Cara lama, pasien dibiarkan tidur selama dua minggu dengan posisi
kepala rata badan. Akibatnya pasien kelak susah didudukkan, tekanan
darahnya susah dikontrol, mengeluh pusing terus dan sebagainya.
Pasien sebaiknya ditemani keluarga yang bisa memberi keterangan
tentang riwayat kesehatannya. Misalnya apakah pasien penderita
diabetes? Informasi ini sangat diperlukan, karena diabetes bisa
memperburuk keadaan pasien. Andaikan ya, pasien pun bisa cepat
diperiksa kadar gulanya, lalu diputuskan perlu diberi insulin atau
tidak, infusnya harus bagaimana, dst. Dari keluarga juga bisa
diketahui, obat-obat apa saja yang telah diberikan.
Menurunkan risiko kematian
Penanganan di rumah sakit sangat ditentukan oleh jenis stroke yang
menyerang. Stroke berdarah atau tidak? Metoda yang paling akurat
adalah dengan menggunakan CT-scan. Inilah yang dinamakan pemeriksaan
Golden. Yang lebih canggih lagi, menurut dr. Eka, menggunakan Magnetic
Resonance Angiography (MRA). Tapi bila peralatan canggih ini tidak
tersedia, dokter tetap mengandalkan pada gejala klinis.
Begitu hasil CT-Scan menunjukkan terjadi perdarahan, langsung
diberikan obat yang segera dapat membekukan darah, agar darah tidak
mengalir lebih luas. Sebaliknya kalau tidak terjadi perdarahan,
diberikan obat yang segera dapat mengencerkan pembekuan darah.
"Kalau pemberian obatnya terbalik, bisa fatal," tegas dr.
Eka.
Penanganan stroke hemoragik ini umumnya dengan tindakan operasi.
Tujuan pembedahan sebenarnya selain penyelamatan jiwa, juga untuk
pembenahan pembuluh yang cacat.
Bila terjadi perdarahan, masih dipertimbangkan apakah perlu dilakukan
pembedahan darurat, tidak dibedah sama sekali, ataukah dilakukan
pembedahan kemudian. Pembedahan darurat biasanya dilakukan apabila
volume perdarahan besar sehingga darah dikhawatirkan bisa mendorong
posisi otak ke arah lain dan bisa berakibat fatal.
Dilakukan atau tidaknya pembedahan darurat juga dengan
mempertimbangkan letak pembuluh darah yang pecah. Kalau pecahnya
pembuluh darah membentuk gumpalan besar dan terletak di tempat yang
mudah dijangkau, kemungkinan besar lebih baik dioperasi. Tindakan itu
akan jauh lebih baik buat pasien.
Sebagai misal perdarahan terjadi di otak kecil, di bagian belakang
kepala, sehingga menyumbat aliran liquor (cairan otak) dan tekanan ke
orak semakin besar.
“Pasalnya, dalam sehari sekitar 400 cc cairan otak melewati daerah
tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana kalau sampai terhalang! Bisa jadi
keempat anggota badannya tidak lagi bisa digerakkan,” ungkap dr.
Eka. Yang pasti, tingkat keberhasilan pembedahan darurat umumnya
tinggi.
Tak boleh batuk
Sebaliknya, “Kalau perdarahan terjadi di tempat yang sulit, kita
lebih memilih cara konservatif,” aku dr. Airiza. Pilihan ini lebih
disebabkan keterbatasan peralatan canggih. Bila peralatannya
mendukung, penanganan masih bisa dilakukan. Misalnya dengan
embolisasi, seperti yang dilakukan dr. Eka.
Teknik ini dilakukan bila letak pembuluh lebih rumit atau kondisi
pasien tidak memungkinkan untuk dibedah, misalnya koma atau terjadi
pembengkakkan di otak. Pada teknik ini pembuluh darah yang sudah mulai
bocor, misalnya karena aneurisma, disumpal dengan per (koil) mikro
supaya perembesan darah terhenti dan pembuluh darah tidak pecah.
Penyumpalan dilakukan menggunakan kateter dari pembuluh darah paha.
Setelah kondisi pasien membaik, bisa dilakukan tindakan pembedahan
agar aneurisma tertanggulangi secara aman. Pembedahan dilakukan untuk
menjepit (clipping) pembuluh darah yang mengalami aneurisma.
"Perawatan dalam periode menunggu tindakan pembedahan harus
ekstra hati-hati, sebab pasien tidak boleh batuk, tidak boleh
hipertensi dan tidak boleh duduk, agar tidak terjadi perdarahan
kembali sebelum dilakukan penjepitan," kata dr. Eka yang mengaku
sering merasa tegang menjalankan tindakan yang rumit ini.
Bila clipping tidak bisa dilaksanakan, misalnya karena ukuran
gelembung aneuresma lebih dari 2,5 cm atau aneuresma terletak pada
kantung otak, ditempuh bypass pembuluh otak yang dinamakan superfacial
temporal artery (STA) atau intra-extra cranial bypass surgery.
Pembuluh darah yang menggelembung ditutup dan pembuluh arteri luar
kepala di atas telinga (yang kalau diraba terasa berdetak) disambung
langsung ke pembuluh darah otak lanjutan dari yang ditutup.
Pada kasus AVM, penderita diobati terlebih dahulu sebelum dibedah
untuk membuang varisesnya. "Namun kalau letaknya rumit sehingga
sulit dilakukan pembedahan bisa dicoba dengan embolisasi atau
menyumbat bagian yang terganggu," tutur dokter ahli bedah syaraf
yang banyak menggali keahliannya di Jepang ini. Cara lain lagi yang
belum dilakukan di Indonesia dengan menyinaran gamma agar AVM
mengkerut.
Bisa pulih, asal …
Target yang hendak dicapai dalam perawatan pasien stroke adalah
pemulihan kondisi pasien. Memang, pulih di sini tidak berarti menjadi
seperti orang sehat. “Dari cuma diam, kemudian bisa buka mata, itu
termasuk pulih,” ujar dr. Airiza. Nah, dalam menunggu pemulihan itu,
kondisi organnya harus dipelihara, supaya ketika pulih organnya masih
dapat bekerja.
Keluarga harus membantu agar, sendi-sendi tangan dan kaki pasien,
misalnya, digerak-gerakkan sampai maksimal supaya tidak kaku.
Bersamaan dengan proses itu, secara perlahan sistem saraf yang
mengatur organ tersebut akan kembali berfungsi.
Untuk pasien yang mengalami gangguan bicara, keluarga pasien sangat
perlu untuk dilibatkan, terutama untuk mengerti bagaimana pasien
berbicara.
“Kalau di rumah sakit, kita selalu berusaha dulu membantu pasien
supaya mampu berkomunikasi. Bisa dengan menganggukkan dan
menggelengkan kepala; atau mengacungkan jempol tangan ('ya') dan
kelingking ('tidak'). Pada pasien yang hanya bisa menggerakkan mata,
kami ajarkan satu kali kedip tanda 'ya', dua kali kedip tanda 'tidak'.
Kalau pasien sudah mampu mengungkapkan perasaannya dengan 'ya' atau
'tidak', itu sudah pertanda bagus. Cepat pulihya,” ungkap dr.
Airiza.
Cara berkomunikasi lainnya bisa macam-macam, misalnya dengan gambar
yang dibuat keluarga pasien. Pasien cuma menjawab ya atau tidak. Pada
tahapan selanjutnya, terapis wicara akan memberikan pelatihan.
Misalnya dengan bahasa isyarat.
“Biasanya, kalau pasien tidak marah-marah, lega karena komunikasinya
lancar, (organ-organ) yang lainnya akan cepat kembali berfungsi,”
tambahnya.
Dalam proses perawatan, kandung kencing juga ditangani dengan betul,
karena pasien seringkali tidak bisa menahan kecing. Untuk perawatan
ini kapasitas kandung kencingnya betul-betul diukur. Dengan
diketahuinya kapasitas kandung kencing, pengeluaran urine bisa
dilakukan secara bertahap. “Kalau dipasangi selang terus di kandung
kencingnya, pasien jadi susah dilatih kencing,” ungkap dr. Airiza.
Pencapaian target pemulihan tergantung sekali pada fungsi sistemik
orang itu. Karenanya, penyakit yang menyebabkan munculnya stroke mesti
selalu dikontrol. Bila pasien mengalami stroke akibat hipertensi, tim
medis terus berusaha supaya tensinya tidak tinggi. Atau, kalau pasien
menyandang diabetes, kadar gula darahnya diupayakan selalu normal.
Untuk itu, dokter dari berbagai keahlian dilibatkan. Inilah yang
disebut restorasi.
Lima grade
Yang khas untuk pasien stroke adalah proses restorasi harus dilakukan
terus menerus. Dari menit ke menit. Dari jam ke jam. Ketika di rumah
sakit, proses restorasi betul-betul dipegang oleh perawat. Perawat
terus merangsang.dan memelihara supaya organ (yang tidak berfungsi)
tetap bekerja. “Terapis lebih mengarahkan. Sehingga dikatakan inti
dari unit stroke adalah perawat khusus stroke,” jelas dr. Airiza.
Perawatan pasien di rumah sakit tidak mungkin sampai pulih betul.
“Pemulihannya bisa di rumah, karena jalannya (pemulihan) pelan
sekali. Masa pemulihan itu saya katakan enam bulan. Tapi kalau
tatalaksana tidak maksimal pemulihannya bisa lebih dari setahun,”
imbuhnya.
Dr. Eka menyebutkan pemulihan sehabis stroke terbagi atas 5 grade.
Pemulihan termasuk grade I apabila Glasgow outcome scale(GOS)-nya
bagus, yaitu pemulihannya sempurna. Termasuk grade II apabila
ia cacat tapi masih mampu kembali ke pekerjaan semula, misalnya hanya
tangan kirinya saya yang lumpuh sehingga ia masih dapat bekerja dengan
tangan kanan. Termasuk grade III apabila ia tidak lagi mampu
kembali ke pekerjaan semula, tetapi tetap masih bisa bekerja. Apabila
hidupnya sudah tergantung pada orang lain atau tidak lagi bisa
mengurus dirinya sendiri, termasuk grade IV. Yang terburuk atau
termasuk grade V apabila ia hanya mampu berbaring akibat batang
otaknya mengalami kerusakan. Ia tidak lagi bisa berkomunikasi serta
fungsi luhurnya hilang.
Memanjakan, malah lambat pulih
Nah, perawatan di rumah mesti dilakukan seperti di rumah sakit hingga
pasien mandiri. “Karenanya, sebelum pasien pulang, keluarganya kita
beri edukasi secara menarik. Karena pasien sangat tergantung pada
keluarga pasien. Dia belum mandiri,” ungkap dr. Airiza.
Ironisnya, yang menjadi “penyakit” orang Indonesia bila ada
anggota keluarga yang sakit adalah suka membantu secara berlebihan
atau memanjakannya. Padahal, hal inilah yang justru memperlambat
proses pemulihan.
Untuk mencegah terulangnya serang stroke, pasien mesti menjalani pola
hidup sehat dengan melakukan olahraga secara teratur. Olahraga di sini
bukanlah yang kompetitif.
“Kami menganjurkan olah raga yang diintegrasikan dengan cara hidup
sehari-hari. Misalnya, meletakkan pesawat telepon tidak di meja tulis,
sehingga kalau telepon berdering dia harus berjalan untuk
mengangkatnya. Kalau di kantor ada lift, jangan naik lift terus, coba
naik tangga. Kalau parkir mobil pilih tempat jauh, supaya ada
kesempatan untuk jalan kaki,” anjur dr. Airiza. Hal-hal seperti ini
juga diajarkan kepada keluarga pasien ketika hendak meninggalkan rumah
sakit.
“Banyak juga pasien yang saya anjurkan untuk memasak. Karena memasak
itu mengasyikkan, cepat jadi, dan kelihatan hasilnya. Apalagi kalau
dinikmati orang, dia bisa senang. Sebenarnya kalau pasien laki-laki
mau memasak, bagus sekali,” tutur dr. Airiza lagi.
Bagaimana pun juga, stroke tak bisa dipisahkan dengan gaya hidup.
Dengan gaya hidup sehat; makan dengan gizi seimbang dan cukup
aktivitas fisik, risiko terserang stroke bisa ditekan. (I Gede
Agung Yudana/Nanny Selamihardja)
Boks 1: Bila Di Rumah Anda Ada Pasien
Stroke...
Boks 2: Tak Cukup Hanya Pencuci Mulut |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|