|
|
Bulan Januari 2001
|
|
Tapak
Dara Penumpas Kanker Payudara
Untuk mengetahui sejauh mana kanker yang dideritanya, Ibu Sri
memeriksakan diri ke dokter spesialis. Ternyata, inti tumor ganasnya
telah mencapai 3 cm. Awalnya memang dirasa sebagai benjolan seperti
bisul, tetapi lama kelamaan melebar dan membesar di sekitar puting
susu.
Benjolan itu mengeras bila diraba dan sakitnya tak kunjung hilang.
Akan bertambah buruk lagi jika sampai mengganda dan meradang.
Peradangan yang disertai dengan perdarahan biasanya merupakan gejala
awal dari kanker. Gejala ini disebabkan perkembangan sel-sel atau
jaringan abnormal secara tak terbatas dengan sangat cepat. Tidak
terkendalinya pembentukan jaringan tersebut akan merugikan jaringan
normal di sekitarnya. Akibatnya, jaringan normal itu rusak dan
terdesak.
Sel-sel abnormal yang dikenal dengan kanker ini selalu berpindah
melalui jaringan tempat mereka berada. Suatu waktu dapat menjangkau
bagian yang lebih jauh secara metastasis. Penularan ke seluruh tubuh
biasanya melalui kelenjar getah bening (limpa). Setelah itu baru ke
jaringan lain.
Pada penderita kanker payudara, yang diserang kulit maupun jaringan
ikat (karsinoma). Penyebabnya sampai saat ini belum jelas. Menurut
Walter H. Lewis dalam Medical Botany, ada beberapa faktor yang
berperan dalam tumbuhnya kanker payudara: gangguan hormonal (terutama
estrogen pada wanita), luka berat, kegagalan dalam perawatan setelah
kehamilan, penyakit peradangan tumor jaringan ikat (fibrocytis),
dan gangguan virus pada kelenjar susu.
Mampu menurunkan jumlah sel darah putih
Pengobatan dan pencegahan secara medis terhadap kanker payudara
melalui pengangkatan tumor, kemoterapi, atau radioterapi ternyata
menemui kendala. Tak seberapa lama, kankernya bisa muncul kembali. Tak
heran kalau kemudian penderita beralih mencoba pengobatan dengan
tanaman (herb therapy) dengan bermacam alasan. Cara terakhir
ini banyak membantu penderita sehingga dilakukan upaya penelitian
dalam bidang etnobotani maupun farmakologinya terhadap jenis tumbuhan
yang digunakan.
Penelitian itu dimulai tahun 1938 dengan objek penelitian adalah
tanaman Colchium autumnale yang mengandung alkaloid
colchicine. Hasil studi klinis ternyata mengecewakan. Hewan
percobaan yang digunakan mengalami keracunan sel. Para peneliti pun
beralih ke tanaman lain, seperti tapak dara, yang menunjukkan
tanda-tanda pencegahan.
Dari studi etnobotani di beberapa daerah, tapak dara menunjukkan hasil
yang menggembirakan dalam pengobatan di masyarakat. Misalnya, Eli
Lilly, Svoboda, Noble, dan Beer dari salah satu laboratorium
Universitas Western, Ontario, yang melakukan uji coba berkali-kali
ternyata hasilnya positif. Dari hasil uji tersebut tanaman tapak dara
bisa digunakan sebagai bahan pencegahan dan penumpas sel kanker.
Menurut para peneliti dari Kanada itu, beberapa senyawa alkaloid dari
ekstrak kasar tapak dara secara drastis mampu menurunkan jumlah sel
darah putih - khususnya butir-butir dalam protoplasma (granulum) -
pada tikus percobaannya. Ekstrak tadi juga sangat menekan aktivitas
sumsum tulang pada tikus yang menderita leukemia tersebut.
Dari pengamatan in vitro, pengaruh senyawa aktif tapak dara
yang melawan sel darah putih ternyata sangat luar biasa. Senyawa tadi
juga aktif mengalangi perkembangan sistem sirkulasi tumor. Dengan
pengembangan teknologi akhirnya tapak dara berperan penting pada
komersialisasi produk vinblastine dan vincristine
sebagai senyawa antikanker secara kemoterapi.
Perlu satu ton daun kering
Tapak dara (Catharanthus roseus) merupakan tumbuhan terna
menahun dari famili Apocynaceae (kamboja-kambojaan). Tanaman yang
berasal dari Amerika Tengah ini dapat tumbuh dari dataran rendah
sampai ketinggian 800 m dpl. Di Indonesia dikenal sebagai tanaman hias
yang menarik karena bunganya. Ada beberapa nama, tergantung lokasinya.
Di Jawa orang menyebut sebagai kembang tembaga, paku rane, tapak doro,
bunga serdadu; di Sumatra diberi nama ruru-ruru, rumput jalang; orang
Sulawesi memanggilnya sindapor; di Maluku disebut usia. Tanaman ini
dapat diperbanyak dengan biji, stek batang, atau akar.
Dalam Medicinal and Poisonous Plants 1 yang dilaporkan H.
Sutarno dan Radjiman (1999), selain vinblastine dan vincristine,
tapak dara juga mengandung alkaloid turunan seperti vindesine
dan vinorelbine. Dua senyawa pertama merupakan senyawa antimitotics
yang kerjanya terikat pada kelenjar dan saraf dengan mencegah
pembelahan sel kumparan. Kedua sel ini mengalangi pembelahan inti
sel-sel normal yang berkembang menjadi sel-sel kanker. Dengan melalui
proses induksi sel kanker ini dapat berkembang biak sehingga dapat
meluas ke jaringan di sekitarnya dalam bentuk benjolan (metafase).
Vinblastine digunakan sebagai bahan pengobatan penyakit
leukemia. Vincristine bahan pengobatan leukemia akut,
pembengkakan limpa, kanker cabang tenggorokan (broncial cancer),
perkembangan tumor ganas pada ginjal (nephroblastomas), kanker
payudara (intraductal carcinoma), dan berbagai jenis tumor
ganas yang awalnya menyerang urat saraf maupun otot (rhabdomysarcoma).
Vindesine adalah senyawa semi sintetis jadian dari vinblastine
yang digunakan pada pengobatan akibat bertambahnya sel darah putih
pada kelenjar getah bening (acut lymphatic leukemia) khususnya
pada anak-anak. Selain itu juga digunakan dalam pengobatan
pembengkakan setiap kelenjar getah bening (lympomas) yang
biasanya sulit disembuhkan. Bisa juga dipakai oleh penderita tumor
pigmen yang kulitnya mengalami bercak-bercak hitam (melanomas).
Vinorelbine (noranhydrovinblastine) dihasilkan dari anhydrovinblastine
sebagai bahan pengobatan untuk mencegah pembelahan kelenjar dan saraf
halusnya.
Dilaporkan, kandungan alkaloid total di dalam daun tapak dara antara
0,70 - 0,82%. Untuk memperoleh 50 mg vincristine dan 2 g vinblastine
dibutuhkan satu ton daun kering. Sedangkan pada seluruh bagian tanaman
antara 0,2 - 1%.
Beberapa senyawa utama bisa dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit
lain. Misalnya leurisine dan vindoline yang dipakai
sebagai bahan pengganti insulin karena berpengaruh pada penurunan
kadar gula darah (hipoglikemia) penderita diabetes; ajmalicine
merupakan bahan obat perangsang aliran darah ke otak maupun ke seluruh
tubuh.
Nilainya lebih dari AS$ 100 juta
Pemanfaatan tapak dara untuk pengobatan kanker payudara memerlukan:
Cara membuatnya: ketiga bahan tadi dicuci bersih kemudian direbus
dalam air sebanyak tiga gelas. Tambahkan gula merah secukupnya dan
biarkan mendidih sampai tinggal setengahnya. Setelah dingin saring
dengan saringan teh dan ramuan ini diminum tiga kali sehari (pagi,
siang, malam) masing-masing setengah gelas.
Menurut pengakuan Ibu Sri penyakitnya sembuh setelah ia mengonsumsi
ramuan tadi selama sebulan lebih. Adas pulasari merupakan jenis
tanaman yang mengandung senyawa anethol dan kumarin. Kedua senyawa
alkaloid itu digunakan untuk memperbaiki rasa dan pewangi oleh
industri obat, jamu, bumbu, tapal gigi, dll. Sedangkan senyawa kumarin
berkhasiat sebagai obat sariawan, penguat lambung, dan kejang lambung
(K. Heyne, 1987).
Secara kemoterapi, penggunaan obat vinblastine berpengaruh terhadap
penurunan sel darah putih (leucoenia) dengan tingkat yang
bervariasi dan kembali normal dalam waktu 1 - 2 minggu setelah
pemakaian obat dihentikan. Pengaruh terhadap darah merah dan platelet
sangat kecil. Untuk itu, dalam kondisi tubuh normal harus hati-hati
dengan dosis tertentu. Efek sampingan keracunan vinblastine adalah
penekanan jumlah sel darah putih dalam darah yang diproduksi sumsum
tulang.
Bila terjadi keracunan saraf agar dibatasi pemakaian obat vincristine.
Tetapi setelah pemakaian obat vindesine, keracunan saraf dan penekanan
sumsum tidak sekeras jika dibandingkan dengan pemakaian kedua obat
vincristin dan vinblastine. Jika keempat bahan obat tadi digunakan,
pengaruhnya kepada berkurangnya daya pembeku darah (thrombocytopaenia)
dan terjadi kebotakan (alopecia). Untuk lebih amannya,
penggunaan obat-obat tadi perlu dikonsultasikan dengan dokter.
Produk komersial dari vinblastine dan vincristine dalam perdagangan
obat dikenal dengan nama vincaleukoblastine sulfate
(vinblastine sulfate, VLB, Velban) dan leurocristine sulfate
(vincristine sulfate, VCR, Oncovin).
Seperti jamur maitake, daun tangguh, dan teh hijau yang sudah dijual
dalam bentuk kaplet (Intisari, Agustus 1997), tanaman tapak
dara pun sudah menjadi bahan baku obat komersial. Salah satu
perusahaan Amerika yang aktif dengan mengembangkan produk-produk yang
berasal dari tumbuhan bekerja sama dengan Ely Lilly memproduksi
senyawa antikanker vinblastine dan vincristine. Obat ini
bisa dipakai untuk mengobati leukemia.
Dalam Biodiversity Prospecting in Indonesia yang dilaporkan
Supriatna dan M. Guevin (1997), perusahaan Amerika itu mendatangkan
bahan bakunya dari Madagaskar. Ada pun hasil perdagangan kedua senyawa
tadi bernilai lebih dari AS $ 100 juta. |
|
|
© 1996 - 2000 Intisari Online
|