globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Bahasa Kita

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

WAITER VS PELAYAN

Meskipun bahasa Indonesia tidak mengenal kata dalam “bentuk halus” dan “bentuk kasar” berdasarkan penggunaannya, ada saja kata-kata yang dihindarkan karena bermartabat rendah. Pemakaian kata pelayan misalnya. Sebutan pelayan dianggap kasar walaupun benar kata itu berkorelasi dengan pengertian melayani yang makna intrinsiknya sebetulnya biasa-biasa saja dan tidak kasar. Barangkali itu sebabnya pelayan di restoran mahal lebih senang dipanggil sebagai waiter, yaitu “pelayan” yang memperoleh tips 10% bila beruntung.

Dalam khasanah bahasa Inggris atau budaya Barat, waiter adalah orang yang menunggu untuk memberikan pelayanan (teristimewa di restoran, cafe, atau bar). Waiter jelas-jelas dibedakan dengan servant (yang berkonotasi 100% pelayan). Servant (= pelayan) benar-benar dikonfrontasikan dengan master (= majikan), sedangkan waiter tidak berhubungan dengan suatu makna yang menyangkut hirarki atasan-bawahan. Ada juga kata maid (pembantu wanita) yang bermakna gender feminin dan butler (= kepala pelayan rumah tangga) yang sebaliknya, bermakna gender maskulin.

Dalam konteks melayani, bahasa Indonesia memberi pilihan untuk menyebut pelakunya, antara lain: pelayan, pembantu, bujang, dayang-dayang, hulu balang, opas, (maaf) kacung, dan (maaf lagi) babu. Pemakaian kata “penunggu” sebagai padanan waiter akan dinilai berlebih-lebihan, apalagi dalam bahasa Indonesia kata “penunggu” sendiri memiliki makna eksklusif, yaitu roh gaib yang mendiami suatu tempat keramat. Lantaran memang tak ada pilihan yang lebih baik, orang lalu memilih kata waiter apa adanya dan dipergunakan dalam konteks yang bersesuaian dengan budaya Barat.

Orang kantoran lebih mengenal office boy atau office girl daripada padanan apapun dalam bahasa Indonesia. Dan orang tidak merasa terhina dipanggil office boy/girl. Jangan menyebut office boy di kantor dengan “kacung”, jika Anda tidak ingin berurusan dengan tuduhan melakukan penghinaan. Juga tidak perlu tiba-tiba memanggil office girl Anda dengan sebutan “dayang-dayang”, sebab alih-alih senang, dia akan mengira Anda sudah sinting atau berniat menggenitinya.

Kita bisa saja mencari, menemukan, dan  membakukan padanan kata Indonesia terhadap istilah asing di atas. Masalahnya, apakah masyarakat mau menerima kata padanan tersebut dan mempergunakannya mengingat kata asing yang ada telah sekian lama dipakai tanpa penolakan berarti. Entah dikira cari sensasi bila kita menyodorkan padanan bahasa Indonesianya.

Sosiologi masyarakat Indonesia tidak mengenal jenis pelayanan yang diberikan oleh seorang waiter (menunggui dan melayani orang yang sedang makan), itu sebabnya tidak dapat ditemukan padanan kata yang sesuai dalam bahasa Indonesia terhadap kata waiter tersebut. Penggunaan kata pelayan untuk seluruh jenis pekerjaan yang bersifat memberi pelayanan sebetulnya sudah tepat. Sayang, rasa kebahasaan kita belum mau berkompromi dengan istilah “pelayan” ini, meskipun kata “melayani” tidak dianggap berkonotasi buruk. Saran penulis, cobalah menyebut waiter dengan “juru tunggu”. Padanan maknanya barangkali pas, namun apakah nyaman berteriak memanggil seseorang dengan, “Hai, juru tunggu, kemarilah!”

Office boy/girl merupakan sebutan yang sudah mendarahdaging bagi orang kantoran. Akan sangat sulit juga mengalihkan sebutan itu kepada istilah bahasa Indonesia. Opas mungkin pilihan yang bagus, kendati nilai rasanya tidak terlampau membesarkan hati.

Dalam banyak kesempatan kita mendengar bahwa tak ada pekerjaan yang hina. Dengan demikian, seyogianya juga tak ada sebutan yang hina untuk suatu jabatan pekerjaan. Tukang kebun dan tukang sapu masing-masing mengacu dengan tegas kepada apa yang dilakukan seseorang. Sebutan tukang kebun dan tukang sapu dapat diterima dengan lapang dada. Apabila Anda suka, boleh juga menyebut tukang kebun Anda dengan istilah “perawat kebun”. Juga silakan memanggil tukang sapu dengan “petugas kebersihan”.

Wartawan tidak ngambek disebut kuli tinta, tetapi tidak usah mengolok-olok bos sebagai “kuli rupiah”. Soalnya bukan lagi masalah ketepatan makna atau nilai rasa melainkan mengenai kelanggengan kita bekerja, nilai THR, dan masa depan kita sendiri. @ (Lie Charlie, sarjana Tata Bahasa Indonesia lulusan Universitas Padjadjaran, Bandung)

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/