|
|
Bahasa Kita |
|
WAITER VS PELAYAN Meskipun
bahasa Indonesia tidak mengenal kata dalam “bentuk halus” dan “bentuk
kasar” berdasarkan penggunaannya, ada saja kata-kata yang dihindarkan
karena bermartabat rendah. Pemakaian kata pelayan misalnya. Sebutan pelayan
dianggap kasar walaupun benar kata itu berkorelasi dengan pengertian melayani
yang makna intrinsiknya sebetulnya biasa-biasa saja dan tidak kasar.
Barangkali itu sebabnya pelayan di restoran mahal lebih senang dipanggil
sebagai waiter, yaitu “pelayan” yang memperoleh tips 10% bila
beruntung. Dalam
khasanah bahasa Inggris atau budaya Barat, waiter adalah orang yang
menunggu untuk memberikan pelayanan (teristimewa di restoran, cafe,
atau bar). Waiter jelas-jelas dibedakan dengan servant (yang
berkonotasi 100% pelayan). Servant (= pelayan) benar-benar
dikonfrontasikan dengan master (= majikan), sedangkan waiter
tidak berhubungan dengan suatu makna yang menyangkut hirarki atasan-bawahan.
Ada juga kata maid (pembantu wanita) yang bermakna gender feminin dan
butler (= kepala pelayan rumah tangga) yang sebaliknya, bermakna
gender maskulin. Dalam
konteks melayani, bahasa Indonesia memberi pilihan untuk menyebut pelakunya,
antara lain: pelayan, pembantu, bujang, dayang-dayang, hulu balang, opas,
(maaf) kacung, dan (maaf lagi) babu. Pemakaian kata “penunggu” sebagai
padanan waiter akan dinilai berlebih-lebihan, apalagi dalam bahasa
Indonesia kata “penunggu” sendiri memiliki makna eksklusif, yaitu roh
gaib yang mendiami suatu tempat keramat. Lantaran memang tak ada pilihan
yang lebih baik, orang lalu memilih kata waiter apa adanya dan
dipergunakan dalam konteks yang bersesuaian dengan budaya Barat. Orang
kantoran lebih mengenal office boy atau office girl daripada
padanan apapun dalam bahasa Indonesia. Dan orang tidak merasa terhina
dipanggil office boy/girl. Jangan menyebut office boy
di kantor dengan “kacung”, jika Anda tidak ingin berurusan dengan
tuduhan melakukan penghinaan. Juga tidak perlu tiba-tiba memanggil office
girl Anda dengan sebutan “dayang-dayang”, sebab alih-alih senang,
dia akan mengira Anda sudah sinting atau berniat menggenitinya. Kita
bisa saja mencari, menemukan, dan membakukan
padanan kata Indonesia terhadap istilah asing di atas. Masalahnya, apakah
masyarakat mau menerima kata padanan tersebut dan mempergunakannya mengingat
kata asing yang ada telah sekian lama dipakai tanpa penolakan berarti. Entah
dikira cari sensasi bila kita menyodorkan padanan bahasa Indonesianya. Sosiologi
masyarakat Indonesia tidak mengenal jenis pelayanan yang diberikan oleh
seorang waiter (menunggui dan melayani orang yang sedang makan), itu
sebabnya tidak dapat ditemukan padanan kata yang sesuai dalam bahasa
Indonesia terhadap kata waiter tersebut. Penggunaan kata pelayan
untuk seluruh jenis pekerjaan yang bersifat memberi pelayanan sebetulnya
sudah tepat. Sayang, rasa kebahasaan kita belum mau berkompromi dengan
istilah “pelayan” ini, meskipun kata “melayani” tidak dianggap
berkonotasi buruk. Saran penulis, cobalah menyebut waiter dengan
“juru tunggu”. Padanan maknanya barangkali pas, namun apakah nyaman
berteriak memanggil seseorang dengan, “Hai, juru tunggu, kemarilah!” Office
boy/girl merupakan sebutan
yang sudah mendarahdaging bagi orang kantoran. Akan sangat sulit juga
mengalihkan sebutan itu kepada istilah bahasa Indonesia. Opas mungkin
pilihan yang bagus, kendati nilai rasanya tidak terlampau membesarkan hati. Dalam
banyak kesempatan kita mendengar bahwa tak ada pekerjaan yang hina. Dengan
demikian, seyogianya juga tak ada sebutan yang hina untuk suatu jabatan
pekerjaan. Tukang kebun dan tukang sapu masing-masing mengacu dengan tegas
kepada apa yang dilakukan seseorang. Sebutan tukang kebun dan tukang sapu
dapat diterima dengan lapang dada. Apabila Anda suka, boleh juga menyebut
tukang kebun Anda dengan istilah “perawat kebun”. Juga silakan memanggil
tukang sapu dengan “petugas kebersihan”. Wartawan tidak ngambek disebut kuli tinta, tetapi tidak usah mengolok-olok bos sebagai “kuli rupiah”. Soalnya bukan lagi masalah ketepatan makna atau nilai rasa melainkan mengenai kelanggengan kita bekerja, nilai THR, dan masa depan kita sendiri. @ (Lie Charlie, sarjana Tata Bahasa Indonesia lulusan Universitas Padjadjaran, Bandung) |
|||||