globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Cermin

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

MENEPIS KETIDAKPEDULIAN

 Hiruk pikuk pertikaian antarelite Indonesia setelah tumbangnya Orde Baru layak dipetik hikmahnya.  Namun, jangan lewatkan satu fakta penting ini: kehidupan elite masa kini semakin diwarnai ketidakpedulian terhadap rakyat. Padahal lawan dari ketidakpedulian, yaitu kepedulian atau solidaritas, merupakan salah satu prasyarat terpenting terwujudnya relasi antarinsan yang baik. Maka ketidakpedulian merupakan kata kunci yang mencerminkan bercokolnya problem relasi yang mendasar, di tengah kehidupan masyarakat. Problem tersebut memanifestasikan pertikaian-pertikaian, yang sesungguhnya tidak bermanfaat  bagi kemajuan kehidupan.

ilustrasi antonLihatlah, elite berlomba ngomong di depan publik lewat media massa. Namun sesungguhnya mereka berbicara sendirian, karena apa yang dibicarakan tidak benar-benar berkaitan dengan kebutuhan dan kepentingan rakyat luas. Elite sebegitu bangga berbicara dengan penampilan jas dan dasi yang mewah di layar kaca, namun justru busana mereka mencerminkan keterpisahan dan ketidakpedulian dengan rakyat jelata yang sehari-harinya bersandal dan berkaus oblong. Maka Profesor J.E. Sahetapy,  pakar hukum yang menjadi anggota DPR, sengaja hanya mengenakan kaus dan jaket untuk bekerja sehari-hari di Gedung MPR-DPR. Menurut Sahetapy, penampilannya adalah ekspresi protes terhadap para sejawatnya di lembaga legislatif, yang dinilai tidak lagi peduli pada rakyat jelata.

Dengarkanlah apa yang dibicarakan elite. Isi pembicaraan mereka sebagian besar adalah tetek bengek seputar perebutan pengaruh, pelestarian kekuasaan, dan pengambinghitaman pihak lain. Bahkan di sana-sini dihiasi pula oleh gertak sambal dan tudingan. Padahal semua varian isi pembicaraan itu tidak dibutuhkan rakyat kecil. Rakyat jelata sehari-hari hanya berjuang untuk mencari nafkah, dan mempertahankan hidup. Mereka bercocok tanam, berjualan dan mendistribusikan serbaneka produk, membuat kue lewat industri atau rumahan, bekerja sebagai tukang untuk memproduksi berbagai barang.

Bisa jadi sayur-mayur yang disantap elite setiap hari, adalah juga sayur-mayur yang dihasilkan para petani di pedesaan. Mungkin buah-buahan pencuci mulut kaum elite adalah hasil tanaman rakyat jelata.

Namun, ironis benar, urusan elite adalah pertikaian yang merusak, bahkan mematikan kehidupan. Sulit ditemukan elite politik yang sedemikian bersemangat berada di tengah para petani di desa, membicarakan upaya terobosan berproduksi yang lebih efisien dan efektif.

Itu semua mencerminkan ketidakpedulian yang mewakili kondisi relasi buruk antarlapisan masyarakat. Padahal sesungguhnya perebakan ketidakpedulian sangat membahayakan. Di tengah ketidakpedulian yang makin meluas, solidaritas atau kesetiakawanan makin menipis. Prinsip ... Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, tidak berlaku lagi. Yang berlaku justru ... Aku ya aku, kamu ya kamu, milikku ya milikku, milikmu ya milikmu, masalahku ya masalahku, masalahmu ya masalahmu. Lalu bisa jadi, Indonesia akan terbagi-bagi dalam kapling-kapling: kaplingku dan kaplingmu. Bukankah ini inti dari disintegrasi?

 

«     1  2     »

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/