|
|
Cermin |
|
MENEPIS
KETIDAKPEDULIAN Hiruk
pikuk pertikaian antarelite Indonesia setelah tumbangnya Orde Baru layak
dipetik hikmahnya. Namun,
jangan lewatkan satu fakta penting ini: kehidupan elite masa kini semakin
diwarnai ketidakpedulian terhadap rakyat. Padahal lawan dari
ketidakpedulian, yaitu kepedulian atau solidaritas, merupakan salah satu
prasyarat terpenting terwujudnya relasi antarinsan yang baik. Maka
ketidakpedulian merupakan kata kunci yang mencerminkan bercokolnya problem
relasi yang mendasar, di tengah kehidupan masyarakat. Problem tersebut
memanifestasikan pertikaian-pertikaian, yang sesungguhnya tidak bermanfaat
bagi kemajuan kehidupan.
Dengarkanlah
apa yang dibicarakan elite. Isi pembicaraan mereka sebagian besar adalah
tetek bengek seputar perebutan pengaruh, pelestarian kekuasaan, dan
pengambinghitaman pihak lain. Bahkan di sana-sini dihiasi pula oleh gertak
sambal dan tudingan. Padahal semua varian isi pembicaraan itu tidak
dibutuhkan rakyat kecil. Rakyat jelata sehari-hari hanya berjuang untuk
mencari nafkah, dan mempertahankan hidup. Mereka bercocok tanam, berjualan
dan mendistribusikan serbaneka produk, membuat kue lewat industri atau
rumahan, bekerja sebagai tukang untuk memproduksi berbagai barang. Bisa
jadi sayur-mayur yang disantap elite setiap hari, adalah juga sayur-mayur
yang dihasilkan para petani di pedesaan. Mungkin buah-buahan pencuci mulut
kaum elite adalah hasil tanaman rakyat jelata. Namun,
ironis benar, urusan elite adalah pertikaian yang merusak, bahkan mematikan
kehidupan. Sulit ditemukan elite politik yang sedemikian bersemangat berada
di tengah para petani di desa, membicarakan upaya terobosan berproduksi yang
lebih efisien dan efektif. Itu
semua mencerminkan ketidakpedulian yang mewakili kondisi relasi buruk
antarlapisan masyarakat. Padahal sesungguhnya perebakan ketidakpedulian
sangat membahayakan. Di tengah ketidakpedulian yang makin meluas,
solidaritas atau kesetiakawanan makin menipis. Prinsip ... Berat sama
dipikul, ringan sama dijinjing, tidak berlaku lagi. Yang berlaku justru
... Aku ya aku, kamu ya kamu, milikku ya milikku, milikmu ya milikmu,
masalahku ya masalahku, masalahmu ya masalahmu. Lalu bisa jadi,
Indonesia akan terbagi-bagi dalam kapling-kapling: kaplingku dan kaplingmu.
Bukankah ini inti dari disintegrasi?
|
|||||