|
|
J e d a |
|
Antena TV Warna-warni Kejadiannya
pada awal tahun 1970-an. Saat itu, meski daerah kami tergolong ibukota
kecamatan, pesawat televisi masih dianggap sebagai barang mewah. Mereka yang
memiliki kotak ajaib itu bisa dihitung dengan jari tangan. Tak heran,
pemirsanya banyak banget, tak kalah dengan penonton layar tancap. Nah,
keramaian model begini menjadi pemandangan yang gampang dilihat di rumah
kami. Terutama sejak kami membeli sebuah pesawat TV hitam putih 12 inci,
sekitar tahun 1974. Setiap sore hingga malam, ruang tamu berubah memjadi
tempat lesehan tetangga. Awalnya,
acara nonton bareng dan celoteh banyak orang ini menjadi hiburan tersendiri.
Tapi lama-kelamaan, kok ya mulai terasa menjengkelkan. Pasalnya, sebagian
besar dari mereka tidak mau beranjak dari tempat duduknya sampai seluruh
tayangan berakhir. Saking jengkelnya, abang tertua kami kerap mencari akal
untuk memulangkan para penonton itu. Caranya,
dengan memutar antena luar televisi hingga tayangan hilang sama sekali. Atau
membuka sekering listrik, seolah-olah strumnya tidak tersedia. Lebih
“gila” lagi, dia bahkan pernah menyembunyikan teve di kamar. Saat
ditanya hadirin, dia menjawab ringan, “Sedang dalam perbaikan.” Tahun
berikutnya, mulai banyak tetangga yang memiliki si kotak ajaib. Namun
sialnya, tradisi nonton bareng di rumah kami ternyata tak kunjung hilang.
Apa mau dikata, akal-akalan abang terpaksa terus dijalankan. Ketika akhirnya televisi berwarna mulai dipasarkan, abang pun tak mau ketinggalan trend. Bukan dengan membeli teve baru, tapi dengan mengubah tampilan antena televisi kami yang dicat warna-warni. Kalau ditanya mengapa tayangan televisinya masih hitam-putih, dengan enteng dia menjawab, “Ada alat di televisi yang belum diganti.” @ (Purwandi Dj., di Sanggau, Kalimantan Barat) Argumentasi tidak selalu berdasarkan pemahaman yang baik atas suatu masalah. n La Fontaine |
|||||