|
|
F l o n a |
|
BABIRUSA, BABI ATAU RUSA Sebagai satwa yang aktif di malam hari, kehidupan babirusa bisa dibilang unik. Suka menyendiri, senang ”mandi lulur” di kubangan lumpur, dan gampang marah bila sedang birahi. Bahkan para pejantannya suka berkelahi rebutan ”calon istri”.
Apa
artinya sebuah nama! Tapi, nama yang kurang lazim selalu memunculkan tanda
tanya. Contohnya babirusa. Babi atau rusakah? Kegundahan itulah yang menimpa
sejumlah pakar biologi ketika harus memberi nama ilmiah untuk binatang yang
wujudnya tak lazim. Bentuknya yang lebih menyerupai babi, membuatnya masuk
keluarga Suidae alias babi-babian. Tapi, lantaran berbeda dengan babi
yang sudah ada, binatang ini dimasukkan dalam genus Babyrousa.
Sedangkan untuk nama jenisnya, dipakai lagi kata babirusa dengan sedikit
modifikasi. Jadilah Babyrousa babyrussa. Satwa ini tercatat
sebagai salah satu binatang asli Pulau Sulawesi dan sekitarnya. Pulau ini
menjadi bagian dari wilayah Wallacea yang memiliki campuran flora-fauna
berciri Asia dan Australia. Moyang
babirusa diperkirakan merupakan babi liar asal Pulau Kalimantan.
Terisolasinya pulau ini dalam kurun waktu cukup lama menyebabkan babi liar
ini berevolusi menjadi babirusa macam sekarang. Taring ke arah mata Dengan berat badan
dapat mencapai 100 kg lebih, bentuk fisik babirusa sepintas mirip babi
biasa. Hanya saja ukurannya memang sedikit lebih besar. Badannya gendut di
belakang, lantas menciut di bagian depan sampai ke ujung hidung. Sementara
bagian leher tidak jelas keberadaannya. Kulit babirusa
berwarna abu-abu kecoklatan, dengan lapisan tebal berlipat-lipat. Di atasnya
tumbuh rambut-rambut kecil, halus, dan jarang. Kalau berjalan, badannya yang
gendut ikut bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Taringnya adalah satu
hal yang membuat binatang ini istimewa. Pada babi hutan biasa alias celeng,
taring muncul keluar dari mulutnya. Bahkan ada jenis babi yang dua pasang
taringnya keluar memanjang dari rangkaian gigi-giginya. Tetapi semua itu
tetap lewat ”prosedur” resmi, keluar melalui bibir samping. Sedangkan
pada babirusa tidak selazim itu. Sepasang taring bawah tumbuh biasa, keluar
dari samping bibir. Tapi sepasang lagi berada di rahang atas, keluar
berbelok arah menembus rahang atas sekaligus kulit di atasnya dan nyelonong
terus ke arah belakang.
Berdasarkan riset yang
dilakukan oleh Alfred Russell Wallace, peneliti berkebangsaan Inggris yang
banyak mendata flora-fauna di Sulawesi, diketahui babirusa mengasah
taring-taringnya dengan cara menggesek-gesekkannya pada pohon-pohon kecil.
Pada taring bagian atas yang lebih panjang pun, ternyata ditemukan banyak
goresan dan retakan-retakan. Hal ini menjadi alasan kuat bahwa taring
babirusa, khusus yang jantan, berguna sebagai senjata dalam perkelahian
antarsesama babirusa. Biang keladi bentrokan umumnya untuk mempertahankan
wilayah ataupun memperebutkan betina untuk dijadikan pacar.
|
|||