|
|
Infotekno |
|
SAMPAH BISA MENDATANGKAN BERKAH Kendati sudah menyandang nama beken sanitary landfill, pengelolaan sampah akhir di Indonesia tetap saja amatiran. Padahal, bila sistem itu diadopsi sungguh-sungguh, lautan sampah justru bisa mendatangkan berkah, bukan masalah. Gas yang dihasilkan bisa menerangi 3.600 buah rumah dan mendatangkan duit senilai Rp 300 - 750 juta rupiah.
Kenyataan
melegakan itu antara lain sudah bisa dinikmati oleh Kota Edmonton, Kanada,
yang mengusung sistem sanitary landfill dalam pengelolaan sampahnya.
Tempat Pemusnahan Akhir Sampah (TPA) Bantargebang, Bekasi, pun sebenarnya
sudah menerapkan sistem yang sama. Tapi, boro-boro bisa meraup uang dan
mengalirkan listrik, kehadirannya malah mendatangkan hujan protes warga
sekitar. Juga DPRD setempat. Pangkal sebabnya,
sistem sanitary landfill atau gali-uruk sehat ini bopeng di sana-sini
dalam manajemen dan implementasinya. Sampai-sampai Menteri Lingkungan Hidup,
Nabiel Makarim, mengecam pengelolaan TPA, seperti dikutip Warta Kota,
21 Desember 2001. ”Sistem sanitary landfill tidak dijalankan dengan
benar,” katanya saat berkunjung ke kawasan ini. Memang secara kasat
mata saja tertangkap kesan betapa buruknya penanganan sampah di TPA
Bantargebang itu. Jalan menuju lokasi pembuangan tampak dipenuhi lumpur
bercampur air sampah. Bahkan air perasan sampah yang hitam pekat itu sampai
mengalir dan menggenangi kawasan di Kelurahan Sumur Batu yang berbatasan
dengan lokasi TPA itu. Kondisi itu tidak lain
terjadi akibat sistem penyekat yang bocor hingga air perasan sampah leluasa
merambah ke mana-mana. Lingkungan menjadi tercemar. Jutaan lalat dan bau tak
sedap jadi menu harian warga sekitar. Penyakit kulit dan infeksi saluran
pernapasan atas menjadi penyakit umum yang mudah dijumpai. Kenyataan pahit inilah
yang diprotes masyarakat sekitarnya terutama oleh warga di tiga kelurahan
yang berbatasan langsung dengan lokasi TPA: Ciketing Udik, Sumur Batu, dan
Cikiwul. Buntut dari kegondokan warga direspons oleh Pemda Bekasi dengan
menutup TPA seluas 108 ha itu pada 10 Desember 2001. Seperti Madonna Penutupan TPA yang
mendadak ini menimbulkan persoalan baru. Pemda DKI tak siap dengan langkah
drastis itu. Warga Jakarta yang setiap harinya menghasilkan 6.250 ton atau
sebanyak 25.000 m3
sampah menghadapi bencana. Sampah teronggok di sudut-sudut Ibukota.
Truk-truk sampah cuma berputar-putar, tak jelas ke mana limbah di
punggungnya hendak dibuang.
Untung saja, lima hari
kemudian, setelah mendapatkan tekanan dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Kota
Bekasi memberikan dispensasi kepada Pemda DKI. Truk-truk sampah kembali
diizinkan membuang sampahnya ke TPA Bantargebang hingga 31 Januari 2002.
Akan tetapi dispensasi itu diberikan dengan menetapkan syarat-syarat yang
ketat. Di antaranya, pembatasan jumlah sampah yang dapat dibuang ke TPA
Bantargebang. ”Sampah memang sedang jadi idola, seperti Madonna,” kata seorang komandan jaga sampah yang tak mau disebutkan namanya saat ditemui di TPA Bantargebang, Bekasi. Maksudnya pasti merujuk pada kepopuleran penyanyi wanita ternama Amerika, Madonna. Menurut sang Komandan, pada bulan-bulan ketika ”perseteruan” antara Pemda Bekasi dan Pemda DKI perihal sampah mencapai puncaknya, puluhan media baik koran, radio, ataupun televisi rajin mendatangi kawasan Bantargebang. ”Mondar-mandir, enggak berhenti-berhenti,” katanya.
|
|||||||