globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

Perkara Kriminal

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

keputusan rahasia

davidSuasana pagi yang hening itu pecah oleh suatu lengkingan teriakan yang nyaring dan bergema ke semua ruangan rumah. Aku bangun dari tidur yang kurang lelap. Meski sudah terjaga sejak tadi, rasanya aku belum ingin bangkit karena sekarang hari libur, sampai terdengar teriakan tadi. Karena kulirik istriku masih tidur nyenyak, kuputuskan untuk bangkit tanpa membangunkannya.

Hanya dalam hitungan detik aku tiba di sumber suara itu. Ternyata Yuli, kakak perempuanku, yang berteriak. Wajahnya yang sepucat kertas putih menatap pintu kamar ibuku yang terbuka. Pada saat hampir bersamaan penghuni rumah ini bermunculan. Kakak tertuaku, Vera, dengan daster panjangnya, dan kakak laki-lakiku, Edwin, yang hanya bercelana pendek. Kami menatap ke arah pintu rumah yang terbuka lebar. Samar-samar terlihat tubuh kaku ibu terbujur di tempat tidur, namun yang tampak jelas adalah genangan begitu banyak darah di lantai sekitarnya.

 

Pembunuhan atau bunuh diri?

Kejadian selanjutnya tidak dapat kuingat lagi. Yang jelas aku segera membangunkan istriku, lalu duduk di ruang tamu menunggu kedatangan polisi. Pagi itu terasa amat hening, karena nyaris semua mulut penghuni rumah ini tak ada yang mengeluarkan suara. Istriku bersandar lemas di pundakku. Sementara Yuli menangis diam-diam. Vera diam mematung, sedangkan Edwin mondar-mandir saja sehingga suasana makin mencekam.

Untung polisi yang datang cukup ramah. Saat ambulans telah membawa jenazah Ibu, sekelompok petugas memeriksa kamar Ibu. Polisi yang kelihatannya pemimpin itu kemudian mengumpulkan kami. Istriku yang sakit beberapa hari ini tidak ikut, karena ia merasa pusing dan ingin berbaring.

”Perkenalkan, saya Ronald, ingin mengajukan beberapa pertanyaan pada Bapak-Ibu sekalian,” katanya sambil tersenyum, yang sayangnya tak mampu memancing senyum dari kami. ”Siapa saja yang tinggal di rumah ini?”

Edwin menyahut, ”Kami empat bersaudara. Vera, anak pertama, Yuli nomor dua, lalu saya, Edwin, yang ketiga, si bungsu Bill dengan istrinya, Lidia, serta seorang pembantu, Bi Minah.”

”Semua tinggal di sini?”

”Ya. Sebenarnya saya tidak, hanya mampir karena ada urusan pekerjaan. Saya beserta istri tinggal di Kalimantan,” lanjut Edwin.

”Siapa yang pertama kali menemukan Ibu Anda?”

Yuli mengangkat kepalanya, ”Saya, Pak.”

 

 «     1  2  3  4  5  6  7  8     »

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/