|
|
Perkara Kriminal |
|
keputusan rahasia
Hanya
dalam hitungan detik aku tiba di sumber suara itu. Ternyata Yuli, kakak
perempuanku, yang berteriak. Wajahnya yang sepucat kertas putih menatap
pintu kamar ibuku yang terbuka. Pada saat hampir bersamaan penghuni rumah
ini bermunculan. Kakak tertuaku, Vera, dengan daster panjangnya, dan kakak
laki-lakiku, Edwin, yang hanya bercelana pendek. Kami menatap ke arah pintu
rumah yang terbuka lebar. Samar-samar terlihat tubuh kaku ibu terbujur di
tempat tidur, namun yang tampak jelas adalah genangan begitu banyak darah di
lantai sekitarnya. Pembunuhan atau bunuh diri? Kejadian
selanjutnya tidak dapat kuingat lagi. Yang jelas aku segera membangunkan
istriku, lalu duduk di ruang tamu menunggu kedatangan polisi. Pagi itu
terasa amat hening, karena nyaris semua mulut penghuni rumah ini tak ada
yang mengeluarkan suara. Istriku bersandar lemas di pundakku. Sementara Yuli
menangis diam-diam. Vera diam mematung, sedangkan Edwin mondar-mandir saja
sehingga suasana makin mencekam. Untung
polisi yang datang cukup ramah. Saat ambulans telah membawa jenazah Ibu,
sekelompok petugas memeriksa kamar Ibu. Polisi yang kelihatannya pemimpin
itu kemudian mengumpulkan kami. Istriku yang sakit beberapa hari ini tidak
ikut, karena ia merasa pusing dan ingin berbaring. ”Perkenalkan,
saya Ronald, ingin mengajukan beberapa pertanyaan pada Bapak-Ibu
sekalian,” katanya sambil tersenyum, yang sayangnya tak mampu memancing
senyum dari kami. ”Siapa saja yang tinggal di rumah ini?” Edwin
menyahut, ”Kami empat bersaudara. Vera, anak pertama, Yuli nomor dua, lalu
saya, Edwin, yang ketiga, si bungsu Bill dengan istrinya, Lidia, serta
seorang pembantu, Bi Minah.” ”Semua
tinggal di sini?” ”Ya.
Sebenarnya saya tidak, hanya mampir karena ada urusan pekerjaan. Saya
beserta istri tinggal di Kalimantan,” lanjut Edwin. ”Siapa
yang pertama kali menemukan Ibu Anda?” Yuli
mengangkat kepalanya, ”Saya, Pak.”
|
|