|
|
T e r a p i |
|
AWAS “OMA” BISA BIKIN TULI Telinga terkadang kurang mendapat cukup perhatian dibandingkan dengan jantung atau otak. Padahal fungsinya tak kalah penting. Kalau organ pendengaran itu terganggu, karena infeksi misalnya, akibatnya bisa fatal. Bahkan, jika tidak segera disembuhkan, radang di telinga juga bisa menjadi awal penyakit yang mengancam nyawa, seperti meningitis dan abses otak.
Pernah
mendengar istilah otitis media? Bisa dipastikan tidak semua dari kita
mengenalnya. Kita mungkin lebih akrab dengan istilah stroke, hipertensi,
diabetes, atau kanker. Keempatnya memang penyakit sangat populer. Kalau
tidak bikin sengsara seumur hidup, ya bisa menyeret kita ke pintu kematian
lebih cepat. Mungkin karena itulah keempatnya jadi ngetop. Lain
lagi dengan otitis media (OM). Penyakit yang umumnya dikenal sebagai congek
(kalau sudah parah) ini bisa juga bikin sengsara. Namun, karena menyerang
telinga, biasanya tidak terlalu mendapat perhatian. Padahal, kalau sampai si
otitis media datang dan tak segera ditangani, akibat yang
ditimbulkannya tak kalah mengerikan. Bisa jadi tuli. Atau, bisa sampai
menimbulkan komplikasi, di antaranya meningitis atau radang otak yang dapat
berakhir dengan kematian. Bayi dan anak-anak lebih rentan Otitis
media sebenarnya radang telinga
tengah. Nama keren ini berasal dari kata oto yang artinya telinga, itis
berarti radang, dan media yang menunjukkan bagian tengah. Jadi, otitis
media itu peradangan sebagian atau seluruh telinga tengah. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud telinga tengah, coba tengok sebentar anatomi
organ pendengaran kita. Telinga dibagi atas tiga bagian, yakni telinga luar,
tengah, dan dalam. Telinga luar meliputi daun telinga sampai membran timpani
atau gendang telinga, yang menjadi pembatas antara dunia luar dengan rongga
telinga tengah. Rongga telinga ini juga menjadi muara tuba eustachius,
saluran yang menghubungkan daerah nasofaring di rongga mulut dengan rongga
telinga. Tuba
eustachius memiliki peranan cukup penting. Selain sebagai ventilasi agar
tekanan di rongga telinga sama dengan tekanan udara luar, saluran ini juga
merupakan penghalang masuknya kuman dari nasofaring ke telinga tengah.
Secara normal tuba dalam keadaan tertutup. Kalau telinga tengah perlu
oksigen, ketika mengunyah, menelan, atau menguap, saluran ini baru terbuka.
|
|||