|
|
T e r a w a n g |
|
BOM WAKTU WARISAN VOC Kalau ada pemilihan kongsi dagang paling kontroversial sepanjang sejarah, barangkali VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) pemenangnya. Ia satu-satunya perusahaan swasta yang sejak lahir sudah dibekali hak-hak politik menemukan dan memelihara tanah jajahan. Maka ketika Kerajaan Belanda hendak merayakan 400 Tahun VOC tahun ini, puji dan caci datang silih berganti. Apa relevansinya buat Indonesia?
Lima
puluh tahun menjelang bangkrut, VOC bahkan tak lagi punya sparring
berkelahi tangguh dari para pemimpin lokal. Ia kian leluasa menguras
kekayaan alam, memonopoli perdagangan, dan membelenggu kebebasan ribuan
budak pribumi. Ironisnya, di akhir hayatnya organisasi ini meninggalkan
utang 137 juta gulden, konon lebih dari 20 kali modal awalnya. Lantas,
mana jutaan (bahkan mungkin miliaran) gulden lain dari kekayaan alam negeri
ini? Belum lagi budak dan orang tak berdaya yang mereka perangi. Sebagai
ahli waris Wawasan Nusantara, kita berhak memaki VOC dan antek-anteknya.
Tapi cukupkah itu? Mona Lohanda, sejarawan peneliti di Arsip Nasional
Republik Indonesia (ANRI) menyebut, takkan kembali masa lalu dikejar.
Makanya, selain mencak-mencak (perlu demi keseimbangan lahir-batin), kajian
kritis tetap harus dilakukan. Kalau
tidak, bom waktu berupa warisan budaya sosial politik VOC, tanpa kita sadari
sebenarnya masih membelenggu hingga kini. Sebagian sudah terkikis
modernisasi dan reformasi. Tapi sebagian lagi, menunggu saatnya meledak. Bummm!!! Pesta sepanjang tahun Niat
Pemerintah Belanda merayakan the glorious time VOC sama
kontroversialnya dengan nasib VOC. Menurut mereka, VOC adalah kenyataan
sejarah yang membanggakan, karena telah memberi nilai tambah buat rakyatnya,
membawa kemakmuran dan kekayaan budaya buat Belanda, serta membuka cakrawala
baru dengan menaklukkan kawasan-kawasan dunia baru. Bahkan VOC berhasil
mendorong perkembangan kemasyarakatan dan memperkaya pengetahuan Belanda
tentang bangsa-bangsa lain.
|
|