|
|
W a r n a |
|
TAMAN MUSEUM OASIS JIWA Long Island City, bagian dari wilayah Queens di Kota New York, memang kawasan industri. Pabrik, gudang, pul truk, tempat parkir, saling berdesakan di antara rumah dan apartemen. Tak sangka, di antara kesesakan itu terselip sebuah museum di suatu lahan bekas pabrik.
Mulanya
pada 1960 Isamu Noguchi membangun studio yang baru dibuka tahun 1985 dengan
nama Taman Museum Isamu Noguchi. Di tempat yang oleh banyak orang dinilai
kurang tepat untuk dijadikan museum itu digelar lebih dari 250 potong karya
seniman kelahiran Los Angeles, 17 November 1904. Karyanya
tersebar di taman seluas 2.700 m2.
Diam membisu di antara tegaknya pepohonan ceri, katsura, magnolia, bambu,
pinus hitam jepang, dll. Sementara itu ruang-ruang dalam museum seluas 3.600
m2 pun tak sepi oleh
sejumlah karya lainnya. Penataan
unik membuat orang bisa memandang taman dari balik jendela kaca dalam
ruangan berisi sejumlah karya patung. Semuanya menjelma menjadi kesatuan
yang unik dan tidak biasa. Semangat yang saling berbeda itulah yang ingin
ditampilkan anak pasangan penyair Jepang Yonejiro Noguchi dengan penulis AS
Leonie Gilmour ini. Halus
dan kasar, runcing dan tumpul, tegas dan lentur tampak menjiwai
karya-karyanya. Mungkinkah dikotomi itu terbangun juga atas dua darah
budaya, Barat dan Timur, yang mengalir dalam dirinya? Mungkin saja. Lepas
dari semua itu, keseriusan dalam menggarap sesuatu merupakan modal utamanya.
Terbukti, di museum itu tersedia katalog super yang ditulis sendiri oleh
Noguchi. Di dalamnya ditampilkan sekitar 200 karyanya, masing-masing
dilengkapi dengan komentar sang seniman. Dari yang tersurat itulah gamblang
terbaca semua yang ada di pikirannya. Salah
satunya, pada ”Core” buatan tahun 1978, ia menulis, ”Terkadang, pada
saat kita merasa putus asa dan ingin menyerah, sebongkah batu mampu
memberikan pesan. Kebijaksanaan alam tampil, sedikit demi sedikit, sampai
kita mampu menerima dan memahaminya. Akhirnya, semua kembali ke tempat
keberadaannya semula.” Jenis
materi bukan sesuatu yang harus rumit dipilih, meski kemudian ia lebih
banyak mengolah granit dan basal.
|
|||||||||