globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

W a r n a

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

TAMAN MUSEUM OASIS JIWA

Long Island City, bagian dari wilayah Queens di Kota New York, memang kawasan industri. Pabrik, gudang, pul truk, tempat parkir, saling berdesakan di antara rumah dan apartemen. Tak sangka, di antara kesesakan itu terselip sebuah museum di suatu lahan bekas pabrik.

 

Cincin Ajaib (1970). repro: smithsonian
Tanaman dari Barat dan Jepang menyatu dalam Taman Museum rancangan Noguchi, simbol warisan dua budaya dalam dirinya.
Isamu Noguchi tahun 1933 menunjukkan tangan kirinya yang patah karena jatuh dari trapeze di studio.
Bagian dalam museum harus menjadi satu kesatuan pandang yang utuh dengan taman di bagian luar.

Mulanya pada 1960 Isamu Noguchi membangun studio yang baru dibuka tahun 1985 dengan nama Taman Museum Isamu Noguchi. Di tempat yang oleh banyak orang dinilai kurang tepat untuk dijadikan museum itu digelar lebih dari 250 potong karya seniman kelahiran Los Angeles, 17 November 1904.

Karyanya tersebar di taman seluas 2.700 m2. Diam membisu di antara tegaknya pepohonan ceri, katsura, magnolia, bambu, pinus hitam jepang, dll. Sementara itu ruang-ruang dalam museum seluas 3.600 m2 pun tak sepi oleh sejumlah karya lainnya.

Penataan unik membuat orang bisa memandang taman dari balik jendela kaca dalam ruangan berisi sejumlah karya patung. Semuanya menjelma menjadi kesatuan yang unik dan tidak biasa. Semangat yang saling berbeda itulah yang ingin ditampilkan anak pasangan penyair Jepang Yonejiro Noguchi dengan penulis AS Leonie Gilmour ini.

Halus dan kasar, runcing dan tumpul, tegas dan lentur tampak menjiwai karya-karyanya. Mungkinkah dikotomi itu terbangun juga atas dua darah budaya, Barat dan Timur, yang mengalir dalam dirinya? Mungkin saja.

Lepas dari semua itu, keseriusan dalam menggarap sesuatu merupakan modal utamanya. Terbukti, di museum itu tersedia katalog super yang ditulis sendiri oleh Noguchi. Di dalamnya ditampilkan sekitar 200 karyanya, masing-masing dilengkapi dengan komentar sang seniman. Dari yang tersurat itulah gamblang terbaca semua yang ada di pikirannya.

Salah satunya, pada ”Core” buatan tahun 1978, ia menulis, ”Terkadang, pada saat kita merasa putus asa dan ingin menyerah, sebongkah batu mampu memberikan pesan. Kebijaksanaan alam tampil, sedikit demi sedikit, sampai kita mampu menerima dan memahaminya. Akhirnya, semua kembali ke tempat keberadaannya semula.”

Jenis materi bukan sesuatu yang harus rumit dipilih, meski kemudian ia lebih banyak mengolah granit dan basal. 

 

«     1  2     »

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/