|
|
W a r n a |
|
TEGUH KARYA, GURU YANG TIDAK MENDIKTE Dunia film dan drama Indonesia
kehilangan salah satu tokohnya, Teguh Karya, yang berpulang pada 11 Desember
2001. Seniman kelahiran Maja, dekat Pandeglang, Jawa Barat, 22 September
1937, dengan nama Steve Liem Tjoan Hok itu membekaskan sederet prestasi yang
sulit disaingi. Tak cuma meraih enam Piala Citra sebagai sutradara terbaik,
tapi juga membuat sinetron dan drama yang bermutu; pembuka jalan bagi
munculnya bintang, sutradara, dan tenaga kreatif perfilman. Ia juga
membangun apresiasi masyarakat lewat sanggarnya, Teater Populer, beserta
komunitasnya. Tulisan ini adalah kesan Dr. Dewi Matindas, psikolog anggota
Teater Populer yang sempat belajar dari Teguh Karya, juga mengamati peran
sang tokoh sebagai guru yang membagikan kemampuannya
Ada
banyak orang yang pernah ”nyantrik” alias berguru kepada Teguh
Karya. Di masa awal kiprah Teater Populer, ada sederet nama seperti Slamet
Rahardjo, Riantiarno, Sylvia Nainggolan, Henky Solaiman, Boyke Roring,
George Kamarulah, dan banyak lagi. Hampir semuanya sekarang menjadi
orang-orang ternama di bidang seni pertunjukan. Mereka
mengaku bahwa Teguh Karya adalah gurunya. Anehnya, masing-masing orang itu,
tampil sangat berbeda satu dengan lainnya. Guru yang satu ini tidak mencetak
murid-muridnya menjadi orang yang serupa. Sebaliknya, ia membangkitkan dan
mengembangkan jati diri tiap cantriknya untuk berkembang secara optimal
menjadi pribadi yang profesional. Pertama
kali berguru pada Teguh Karya, saya sering dibuat bingung oleh sikap dan
caranya membina kami, para ”cantriknya”. Ia benar-benar tidak mirip
dengan guru-guru lain yang pernah mengajar saya. Ketika mengajarkan gerak
tari, seorang guru tari saya pernah mengatakan, ”Tangan kamu harus seperti
ini, menolehnya harus ke kiri.” Pernah juga guru voli mengatakan, ”Kalau
memukul bola di depan net harus melompat dan harus seperti ini.” Guru-guru
lain juga bilang, ”... harus seperti ini.”
|
|||||||