globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

W a r n a

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

TEGUH KARYA, GURU YANG TIDAK MENDIKTE

Dunia film dan drama Indonesia kehilangan salah satu tokohnya, Teguh Karya, yang berpulang pada 11 Desember 2001. Seniman kelahiran Maja, dekat Pandeglang, Jawa Barat, 22 September 1937, dengan nama Steve Liem Tjoan Hok itu membekaskan sederet prestasi yang sulit disaingi. Tak cuma meraih enam Piala Citra sebagai sutradara terbaik, tapi juga membuat sinetron dan drama yang bermutu; pembuka jalan bagi munculnya bintang, sutradara, dan tenaga kreatif perfilman. Ia juga membangun apresiasi masyarakat lewat sanggarnya, Teater Populer, beserta komunitasnya. Tulisan ini adalah kesan Dr. Dewi Matindas, psikolog anggota Teater Populer yang sempat belajar dari Teguh Karya, juga mengamati peran sang tokoh sebagai guru yang membagikan kemampuannya

repro: teguh karya dan teater populer 1998 - 1993

Dewi Matindas (waktu itu bernama Dewi Sawitri - kanan) berperan sebagai Rosalie dalam pentas drama Teater Populer tahun 1970, Bapakku Sayang Bapakku Malang, karya Arthur Kopit.

Ada banyak orang yang pernah ”nyantrik” alias berguru kepada Teguh Karya. Di masa awal kiprah Teater Populer, ada sederet nama seperti Slamet Rahardjo, Riantiarno, Sylvia Nainggolan, Henky Solaiman, Boyke Roring, George Kamarulah, dan banyak lagi. Hampir semuanya sekarang menjadi orang-orang ternama di bidang seni pertunjukan.

Mereka mengaku bahwa Teguh Karya adalah gurunya. Anehnya, masing-masing orang itu, tampil sangat berbeda satu dengan lainnya. Guru yang satu ini tidak mencetak murid-muridnya menjadi orang yang serupa. Sebaliknya, ia membangkitkan dan mengembangkan jati diri tiap cantriknya untuk berkembang secara optimal menjadi pribadi yang profesional.

Pertama kali berguru pada Teguh Karya, saya sering dibuat bingung oleh sikap dan caranya membina kami, para ”cantriknya”. Ia benar-benar tidak mirip dengan guru-guru lain yang pernah mengajar saya. Ketika mengajarkan gerak tari, seorang guru tari saya pernah mengatakan, ”Tangan kamu harus seperti ini, menolehnya harus ke kiri.” Pernah juga guru voli mengatakan, ”Kalau memukul bola di depan net harus melompat dan harus seperti ini.” Guru-guru lain juga bilang, ”... harus seperti ini.”

 

«     1  2  3  4     »

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/