globetiny.gif (852 bytes)N THE NET

W a r n a

Bulan Ini

Bulan Lalu

Buku Tamu

Mailing List

Di balik kisah

Info iklan

Email

Dog … Dog … Tenun Gedog dari Tuban

Tenun rasanya banyak jenisnya dan bisa ditemukan di banyak tempat di Indonesia. Salah satu yang khas berasal dari Tuban, Jawa Timur. Namanya aneh, dicomot begitu saja dari suara orang bertenun. Dog-dog-dog ...! Jadilah tenun gedog.

foto: dok. heri agung fitrianto

Cuma generasi tua yang masih menenun.

Kain gedog memang bentuk kerajinan tenun tradisional khas Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Hasil kerajinan yang sering dipilih wisatawan sebagai cinderamata itu dulunya kain yang biasa dikenakan kaum wanita di pedesaan untuk menggendong bocah atau bakul dari bambu. Tapi kini tak kurang Pemda Tuban menjadikan kain gedog sebagai bahan pakaian seragam yang dikenakan pada hari-hari tertentu.

 

Menenun untuk yang tua

Uniknya, kerajinan ini hanya dikerjakan oleh warga Desa Margorejo dan Karangrejo, Kecamatan Kerek, yang letaknya sekitar 27 km arah barat Tuban. Di sana suasana gedog amat terasa mendominasi berbagai aktivitas warga mulai dari menenun, membatik, menjahit, dan menjemur. Para perajin umumnya memiliki tugas masing-masing. Ada yang khusus menenun, membatik, atau melorot (membuang malam atau lilin pada kain setelah diwarnai). Tetapi dari bermacam kegiatan itu, kegiatan menenun jarang bisa ditemui. Lo?

Menurut Rukayah (40), ketua Kelompok Perajin Gedog Kesatrian di Desa Margorejo, hanya kaum ibu yang bersedia menenun. Itu pun rata-rata ibu yang sudah berusia lanjut. Jumlahnya juga tinggal segelintir saja.

Generasi muda di desa itu banyak yang memilih pekerjaan membatik daripada menenun. Alasannya, proses persiapan dan pengerjaan tenun gedog selain rumit juga butuh waktu lama. Untuk persiapan saja dibutuhkan waktu empat hari, sedangkan pengerjaannya biasanya bisa sampai satu bulan penuh.

Selain itu, kebiasaan warga yang lebih mengutamakan mengerjakan ladang atau sawahnya, membuat kerajian tenun gedog hanya sebagai pekerjaan sambilan. Akibatnya, “Bila tiba musim tanam atau panen, kerajinan gedog ditinggalkan. Tidak peduli meski sedang ada pesanan,” ujar Rukayah, peraih Upakarti bidang Pelestari Kerajinan Tradisional tahun 1992. Jadilah Rukayah dan kelompoknya terpaksa menolak pesanan dalam jumlah besar dari pembeli luar negeri, karena pembeli minta pesanan dikirim tepat waktu.

 

«     1  2  3  4     »

Active Channel

© Intisari Online

www.indomedia.com/intisari/