
Penerbit: PT Intisari Mediatama Cetakan I Juli 2001 113 hal + vi |
Kata Pengantar
Pada tahun 1997 saya membaca buku Jesus CEO, Using Ancient Wisdom for Visionary Leadership, yang ditulis oleh Laurie Beth Jones, seorang spesialis dalam health care marketing di Kalifornia. Ternyata buku itu memberikan inspirasi yang kuat, untuk mengangkat hamparan fakta tentang relasi antamanusia di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, sebagai awal permenungan. Tugas saya sebagai praktisi di bidang psikiatri dan konseling, sekaligus kolumnis di media massa, memekarkan penghayatan keprihatinan pribadi terhadap carut-marut relasi antarmanusia, terutama di tengah masyarakat Indonesia yang diresapi warisan mindset koletif kekerasan sepanjang sejarah. Indonesia pada kurun 1997 meruyakkan beberapa peristiwa kekerasan kolektif dahsyat, dalam wujud serbaneka kerusuhan massa yang memakan korban nyawa manusia dan harta benda tak ternilai. Fakta ini menggiatkan khazanah mental untuk memandang kembali memori tentang peristiwa kekerasan dan kerusakan relasi antarinsan yang tidak menyenangkan secara substansial. Problem tersebut menyejarah, dan ketidaksehatan relasi itu ditandai penghambatan (bahkan pematian) aktualisasi serta tumbuh kembang khazanah potensi kemanusiaan di tengah relasi sesama warga Indonesia. Bahkan pada kurun masa kini pun, tiga tahun setelah "reformasi", berbagai peristiwa kekerasan masih bermunculan, dan relasi antarinsan masih sedemikian mengangkan, cenderung diwarnai kekerasan yang tidak sehat. Ironis, justru pada babak "reformasi" itulah riak-riak dan gelombang-gelombang problem relasi antarinsan kian mencerminkan spektrum lengkap kekerasan. Di situ kekerasan tidak semata merebak sebagai kekerasan fisik atau "kekerasan kasar dan terbuka" (overt dan crude violence), melainkan pula sebagai kekerasan halus dan tertutup (covert dan insidious violence), yaitu tindak penghambatan atau pematian aktualisasi dan tumbuh kembang khazanah potensi kemanusiaan yang dilakukan sama sekali tanpa kekerasan fisik, bahkan dilakukan dalam "koridor hukum", sama sekali tanpa melanggar hukum. Wujud-wujud kekerasan halus dan tertutup itu antara lain tindak pengkambinghitaman, tindak menyalah-nyalahkan dan mencerca-cerca pihak lain, penindasan kelompok mayoritas yang salah terhadap kelompok minoritas yang benar, praktik disinformasi, diskriminasi, pembunuhan kepribadian insani (character assassination), stigmatisasi, eksklusi, dan serbaneka varian tindak korupsi yang meniadakan meritokrasi. Di tengah kondisi demikian, kehidupan masyarakat sehari-hari ditebari serbaneka gejala relasi antarinsan yang tidak menyenangkan sekaligus tidak sehat. Tidak sehat dalam arti menghambat (bahkan mematikan) aktualisasi dan tumbuh kembang khazanah potensi kemanusiaan. Seluruh penghayatan hidup demikian itu melatarbelakangi bercak-bercak permenungan saya hingga kini. Bercak-bercak permenungan itu kemudian tertuang dalam penggal-penggal tulisan pendek, yang semuanya berkutat seputar keprihatinan tentang fakta relasi antarinsan yang buruk, serta keinginan untuk memikirkan upaya memperbaiki relasi antarinsan di tengah kehidupan masyarakat. Setelah terhimpun beberapa penggal tulisan, seputar akhir tahun 1997 saya menawarkan tulisan-tulisan itu kepada redaksi Majalah Intisari di Jakarta, lewat email. Di luar dugaan, ternyata redaksi majalah tersebut menyambut baik tulisan-tulisan itu. Akhirnya, tulisan-tulisan permenungan pendek tentang satu dua segi tertentu relasi antarmanusia, dimuat secara teratur pada setiap edisi Intisari sejak Januari 1998. Pada perkembangan kemudian, redaksi Intisari membingkai tulisan saya dalam rubrik "Cermin" pada setiap edisi hingga kini. Buku Tidak Mencerca Orang Lain ini hanyalah dokumentasi dari sebagian tulisan-tulisan permenungan tentang relasi antarinsan. Buku ini berisi dua puluh delapan tulisan, yang semuanya pernah dimuat dalam majalah Intisari. Setiap tulisan merupakan perpaduan pengamatan dan pengalaman yang saya dapatkan dari membaca, berpraktik sebagai psikiater dan konselor (terapis), melihat dan merasakan serta melibatkan diri dalam kehidupan riil sehari-hari bersama-sama orang lain dari berbagai lapisan masyarakat. Mudah-mudahan tulisan-tulisan pendek nan sederhana dalam buku ini bisa mengajak pembaca untuk lebih memperhatikan problem relasi antarmanusia di tengah masyarakat Indonesia masa kini. Mudah-mudahan pula para pembaca kemudian terinspirasi untuk ikut serta, dengan cara masing-masing, menumbuhkembangkan sikap dan tindakan yang mendukung perwujudan relasi antarinsan yang sehat, relasi yang menjadi lahan subur aktualisasi dan tumbuh kembang khazanah potensi kemanusiaan. Ketika kata pengantar ini ditulis, setidaknya dalam pengamatan saya, kondisi relasi antarinsan di tengah masyarakat masih ditebari berbagai keprihatinan. Di sana-sini orang bersorak-sorai hanya berlandaskan kepentingan dan nafsu masing-masing. Di sana-sini kekerasan halus dan tertutup merebak, dalam wujud-wujud tindak pengkambinghitaman, pembunuhan kepribadian insani, praktik disinformasi, pelindasan kelompok minoritas yang benar oleh kelompok mayoritas yang salah, ekslusi, stigmatisasi, serta varian-varian korupsi yang meniadakan meritokrasi. Relasi antarinsan di bumi Indonesia diwarnai lima kategori problem yang mengkhawatirkan. Kesatu, paradigma "dunia aku" yang picik melampaui paradigma "dunia kebersamaan". Kedua, penipisan kepekaan terhadap rasa dosa. Ketiga, paradigma "manusia keinginan" yang melampaui paradigma "manusia permenungan". Keempat, ketidakpercayaan. Kelima, rendahnya apresiasi terhadap aturan hukum serta tatanan. Di tengah seluruh keprihatinan itulah, buku kecil dan tipis ini diluncurkan. Banyak kekurangan yang terdapat dalam buku ini. Maka kritik, koreksi, dan saran para pembaca akan menjadi berkah besar bagi saya dan penerbit. Pada kesempatan ini saya ucapkan terima kasih yang tulus kepada majalah Intisari yang telah sudi memuat tulisan-tulisan saya dan memprakarsai penerbitan buku ini.
Malang, 2 Mei 2001 dr. Limas Sutanto, Sp.K.J |
|
![]()