SEARAH DENGAN SEJARAH
Waktu itu Indonesia sedang memperingati ulang tahunnya yang ke-18. Masih muda memang. Pun begitu tak tergurat kecewa dan sesal ketika lahir sebuah "jabang bayi" dari rahim Auwjong Peng Koen (yang lantas dikenal PK Ojong) dan Jakob Oetama. Bayi yang bernama Intisari itu sungguh lucu dan menggemaskan! Lebih dari pada itu, ia lahir justru ketika banyak "teman-temannya" yang mati.
|
Intisari mulai dengan kelompok kecil terdiri atas 4 orang. Dari kiri: Jakob Oetama, PK Ojong (alm.), J. Adisubrata, dan Irawati. |
Bobot bayi Intisari hanyalah 128 halaman, terdiri atas 22 artikel di luar berita-berita kecil dan pengantar berjudul Mengantarkan Intisari. Sebagian terjemahan (Komplotan Mafia di Inggris, kisah tentang Marilyn Monroe, Samuel Morse dan Telgrap, dan lain-lain), sebagian dinukil dari buku (Sang Saka Merah Putih, Surat Bung Karno dari pendjara Sukamiskin), dan ada juga dari pengalaman pribadi tokoh-tokoh yang sebelum dan sesudahnya sangat tenar. Ada pengalaman Nugroho Notosusanto (alm.) di London, kesan kunjungan ke Bali yang ditulis Arief Budiman (waktu itu masih bernama Soe Hok Djin), pengalaman sebagai sarjana kedua dan dokter pertama yang diterjunkan ke Irian (Barat) dalam Operasi Mandala tulisan Ben Mboi. Ada pula kisah Usmar Ismail ketika pertama kali menyutradarai film.
Menginjak bulan kedua usianya, Intisari masih saja lugu, lucu, dan belagu. Namun ada perubahan di mana dalam daftar isi disertai pula nama penulis atau sumber terjemahannya. Di halaman dalam mulai berhias dengan adanya lukisan ilustrasi. Nugroho Notosusanto, Soe Hok Djin, dan J Adi masih menyumbangkan tulisan, selain ada wawancara P Swantara dengan "Bapak Kamus Indonesia", WJS Poerwadarminta, serta Pertemuan Pertama dengan Baitullah karya H Asrul Sani. Salah satu materi yang memberi bobot nomor ini adalah Analisa Ekonomi karya Prof Dr Widjojo Nitisastro, yang kemudian terkenal sebagai arsitek ekonomi Orde Baru. Edisi ini juga menampilkan tulisan tentang Bing Slamet, juga Humor Seniman Indonesia karya Nashar.
Sejak nomor perdana Intisari sudah tak malu lagi menerima iklan. Namun pada nomor keduanya ada pemberitahuan: "INTISARI AKAN BERBADJU! Jang kini masih berkutang sadja, dalam bulan Nopember atau Desember 1963 akan berbadju, - sesuai dengan permintaan pembatja". Pemberitahuan itu diulang-ulang sampai Intisari benar-benar memakai "baju" pada bulan Desember 1963, saat berusia 5 bulan. Bajunya dari kertas HVO dengan corak ilustrasi tangan dalam 2 warna. Selain itu ada pula motto "Madjalah Bulanan untuk Umum" yang tertera lewat goresan pena. Intisari sudah menampilkan sosoknya sebagai bacaan yang layak baca meski bisa berfungsi sebagai kipas ketika pembacanya kepanasan.
|
Ketika terbit perdana, Agustus 1963. Tanpa sampul, serba lugu, dan bersahaja. Simbol masa sulit itu. |
Edisi Januari 1964 memuat berbagai karangan tentang tokoh tenar, kisah sejarah, dan pahlawan. Misalnya riwayat Jos Sudarso yang pemuatannya sempat tertunda, kisah Panglima Besar Soedirman (ditulis oleh P Swantoro, bukan lagi P Swantara seperti pada wawancara dengan Poerwadarminta), Sentot Alibasah Prawirodirdjo (oleh Drs R Moh Ali), Presiden Kennedy, dll. Muncul pula cikal bakal artikel yang sangat digemari pembaca, kisah kriminal, tentang pengacara Marshall Hall yang disarikan Auwjomh Peng Koen SH. Terdapat pula karya Soe Hok Gie (alm), adik Arief Budiman yang dikenal sebagai tokoh mahasiswa demonstran. Edisi ini juga sudah memakai "Daftar Isi", bukan seperti pada nomor-nomor sebelumnya: "Isinya".
Tepat setahun usia Intisari, baju yang dikenakan mulai menterang: huruf cetakan halus dalam latar 3 warna. Sistem kerja dan organisasi mulai rapi pada nomor ini dan nomor-nomor selanjutnya. Mekanisme pelangganan pun lebih tertata, dari kantor redaksi dan tata usaha di Jl. Pintu Besar Selatan 86 - 88, Djakarta Kota, sampai ke alamat pelanggan, selain didistribusikan lewat agen dalam kota juga dikirim ke luar kota dengan pos terjatat.
Hal ini berlangsung sampai 4 tahun berikutnya. Tentu, perbaikan dan penambahan terus dilakukan. Dari segi isi, Intisari makin bisa dijadikan acuan karena cukup komplet. Yang agak istimewa adalah wawancara dengan Ibu Tien Soeharto di tahun 1966, ketika Pak Harto masih menjabat Menpangad. Dalam jajaran penulis, nama-nama besar makin bermunculan. Sebut saja politikus sekaliber Mr Mohamad Roem, sastrawan Ajip Rosidi, tokoh Islam dan pengarang Bahrum Rangkuti, sosiolog Parsudi Suparlan, juga penulis olahraga sohor Tan Liang Tie. Pada saat yang sama, muncul penulis-penulis produktif lewat majalah ini. Umpamanya Drs F Tan Fat Tjhion yang kemudian dikenal sebagai Felix Tan, Bondan Winarno, Ir Sudjito Danusutjipto, dan Drs Gan Koen Hik. Menyusul Wildan Jatim, Jasso Winarto, Andi Hakim Nasoetion, dan MT Zen menyusul di dekade 70-an. Sebentar kemudian menyusul Slamet Soeseno yang sampai kini tak pernah absen memunculkan karya-karyanya. Juga pengeliling dunia Haris Otto Kamil (HOK) Tanzil.
Sejak terbitan ke-65, Desember 1968, kertas sampul dipertebal. Gambarpun sudah seksi dengan 4 warna, meski masih lukisan tangan. Lompatan teknologi terlihat pada edisi ke-90, Djanuari 1970, saat cetakan foto - umumnya gambar alam - diperkenalkan sebagai sampul. Ini terjadi karena persaingan antarmedia cetak semakin meruyak sehingga menjadi keharusan untuk mengikuti perkembangan zaman. Khazanah bacaan cukup komplet, sementara masukan dari luar negeri sudah tak menjadi persoalan.
|
Akhir 1980-an, Intisari menggunakan "pahatan kertas" (paper sculpture) sebagai sampulnya. Sebuah karya unik, langka, dan megah, membuatnya satu-satunya majalah yang berkover begini. Bendera bahkan menjadi berlipat-lipat, ditempati iklan. |
Memasuki tahun 80-an, modernisasi total tak terhindarkan lagi. Teknologi cetak yang semakin maju dan tiras yang semakin menggembung memaksa Intisari memoles wajahnya dan tubuhnya. Dipasanglah "bendera sampul" (cover flag) yang ditulisi judul-judul isian, di atas foto alam yang kemudian berganti dengan motif tenun tradisional. Ada saatnya, karena posisinya yang strategis, "bendera" ini dikontrak pemasang iklan. Keragaman sampul dan isi disusul dengan langkah fenomenal saat mendekati tahun 1990; sampul berupa "ukiran kertas" (paper sculpture) menjadikannya satu-satu media cetak berkover model begini.
Sayang, ukiran kertas tersebut hanya sempat mendandani remaja Intisari selama 2 tahun. Awal 1992, perombakan wajah dilakukan sesuai dengan usia Intisari yang mulai matang. "Bendera" tak lagi ada, dan sampul depan berupa gabungan foto dan gambar di atas latar bergradasi warna. Geliat usia Intisari mulai terasa, gurat-gurat di wajahnya mulai menampakkan kedewasaan dan kematangan.
Hingga kini, Intisari masih menapaki dunia pers Indonesia. Dalam usianya yang 34 (1997), ia telah ikut memberi warna pers Indonesia. Dilihat dari sejarah tumbuh-kembangnya, ditilik dari segi isi dan pengelolaannya, serta keterlibatannya dalam proses pencerdasan bangsa hingga menggembung menjadi industri media, riwayatnya telah menjadi reputasi yang tinggi. Ulat yang malu-malu menggeliat kini telah menjadi kupu-kupu yang indah berwarna-warni. (Disarikan dari Intisari, 30 tahun berpretasi/Yds)