|
Menuju rumah penderita tumor gondok
Asal ibu wartawan mau basah ...
KONDISI GEOGRAFIS Pulau Sumba, khususnya Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) sangat unik jika dibandingkan kabupaten lain. Ia memiliki interior alamiah yang terdiri dari bukit cadas (kapur) yang terjal dan dataran tinggi yang kering meranggas saat musim kemarau. Uniknya di setiap lereng bukit selalu bermukim penduduk, meski rumah mereka jumlahnya tidak mencapai sepuluh. Para penduduk yang tinggal di lereng bukit enggan pindah mencari kehidupan yang lebih baik, karena tempat tinggal mereka adalah warisan nenek moyang. Padahal, wilayah itu sangat terisolasi, baik dari segi fisik karena tidak bisa dilalui kendaraan, bahkan kuda. Juga jauh dari sarana dan prasarana umum, seperti kesehatan dan pendidikan. Kondisi ini ditelusuri setelah perjalanan sehari menyisir rumah penderita tumor gondok, Lukas Ndaku Mbira, laki-laki yang telah menderita sakit sejak 13 tahun. Untuk menge-tahui lika liku perjalanan menuju rumah Lukas, wartawati Pos Kupang, Syarifah Sifat, menyajikannya dalam serial mulai hari ini.
MENUJU rumah Lukas, kaki harus kuat dan badan harus fit. Setelah Senin (30/5) malam mendapat tugas dari redaksi untuk menulis lebih jauh tentang Lukas Ndaku Mbira, seorang anak penderita gondok di Kampung Laimbonga, Kabupaten Sumba Timur, saya langsung menelepon dr. Dani.
Dokter Dani adalah salah seorang anggota tim dokter saat Lukas berobat gratis melalui kegiatan bakti sosial (baksos) yang digelar Gereja Bethel bekerja sama dengan Gereja Singapura New Beginning Church selama dua hari, Jumat-Sabtu (27-28/5), di Gereja Bethel-Waingapu. Namun saat itu, Lukas tidak dapat dioperasi karena peralatan medis dan dokter ahli pengoperasi belum memadai. Untuk mengoperasi gondok seberat 2,5 kg itu membutuhkan multi dokter spesialis.
Setelah saya menyampaikan maksud kepada dr. Dani Christian, ia pun bersedia mengantar saya ke rumah Lukas. Tapi, saat itu ia berjanji baru bisa berangkat ke rumah Lukas, Rabu (1/6). Jawaban dr. Dani ini meresahkan saya. Sebab, saya butuh cepat. Dan, karena rasa khawatir terus menghantui pikiran saya, saya pun terpaksa menghubungi Pendeta (Pdt) Andreas Hani, selaku ketua panitia pengobatan gratis yang memiliki peran besar ingin mem-bebaskan anak itu dari derita yang dijalaninya selama 12 tahun lebih.
Kepada Pdt. Andreas, saya pun menceritakan kalau ada yang berniat membantu. Pdt. Andreas pun kemudian berjanji mengantar saya. Dan, ia menyampaikan bahwa untuk menempuh perjala-nan ke Laimbonga, kampung Lukas, harus bisa melanggar kali dan melewati bukit yang tingginya sekitar dua kilometer.
"Kalau ibu wartawan mau pergi, asal mau basah, karena ketinggian air hingga di leher. Tapi, ada sampan asal bisa berenang. Juga harus bisa mendaki bukit karena rumah Lukas berada di seberang bukit dan pada bagian lerengnya," kata Pdt. Andreas dari balik telepon.
Tanpa banyak menimbang, saya pun langsung mengatakan kepada Pdt bahwa saya bisa. Namun, pada Rabu (1/6), dr. Dani kembali dari Waikabubak dan menelepon saya supaya siap berangkat. Tetapi, karena saya masih mengejar deadline maka saya minta ditunda, Kamis (2/6). Pada hari Kamis pagi, sekitar pukul 09.00 Wita, kami berangkat menuju Desa Kiritana. Jaraknya dari Kota Waingapu sekitar 20-an kilometer.
***
SEBELUM berangkat, dr. Dani mencoba memberikan kekuatan kepada saya. Dikatakannya, pada tahun-tahun sebelumnya, jalan menuju Desa Kiritana memang sangat jelek dan harus melewati tanjakan-tanjakan dan tikungan-tikungan yang berbahaya. Tapi dalam dua tahun terakhir ini (tahun 2003-2004) jalannya sudah bagus.
Desa Kiritana terkenal sangat subur. Sama suburnya dengan Desa Maulumbi, Kecamatan Kota Waingapu. Sebab, kedua desa ini sama-sama dialiri DAS Kambaniru.
Seperti dikatakan dr. Dani, medan menuju Desa Kiritana tidak terlalu sulit. Namun, untuk menuju ke desa itu, para pengemudi kendaraan perlu hati-hati, karena jalannya berbukit dan sempit. Setiap memasuki tikungan, para pengemudi kendaraan harus membunyikan klakson. Tanpa klakson, bisa saja terjadi tabrakan. "Sebelum dilakukan pengerasan, medannya sangat berat. Apalagi di musim hujan, kendaraan tidak bisa lewat. Tapi sekarang, jalan yang dikelilingi bukit itu sudah dibuat pengerasan. Dan, pada tikungan-tikungan yang cukup tinggi sudah diaspal," kata dr. Dani.
Di lereng-lereng bukit Kam-pung Matawai di Desa Kiritana, tampak tanaman-tanaman liar, termasuk pohon pisang, mangga, pohon kesambi. Padahal, sekitar beberapa meter dari jalan itu membentang Sungai Kambaniru yang airnya meluap dan baru dipergunakan sekitar 1/8 persen.
Meski airnya banyak, namun belum dimanfaatkan maksimal oleh masyarakat di pinggir DAS itu. Para petani umumnya menanam lombok kecil, pepaya, pisang yang tumbuh tidak teratur, jagung seadanya dan tomat. Kalaupun ada kangkung, lebih banyak kangkung darat yang tumbuh sendiri. Kangkung itu diambil oleh masyarakat petani untuk dijual di pasar dengan harga apa adanya.
Seorang petani kepada Pos Kupang mengakui, hanya bisa menanam jagung dalam lokasi satu are. Kalau sampai 20-50 are mereka tidak sanggup menyiram, meski air tak terpisah dari bantaran sungai itu. Bahkan, di kali selebar sekitar 50 meter dengan kedalaman berkisar satu sampai tiga meter sempat dibuat keramba ikan melalui proyek dinas perikanan. Namun keramba itu hancur ketika terbawa banjir pada musim hujan. Sedangkan sebagian kerambanya dirusakan pencuri.
Hal yang sama terlihat di Kampung Mbidipraing, Kabandang. Ada beberapa warga dari desa lain datang menambang pasir di Sungai Kambaniru untuk dijual. Harga pasir yang dijual warga Rp 80.000,00/truk. Pemilik truk kemudian menjualnya Rp 200.000,00/truk.
Memasuki kampung-kampung di Desa Kiritana, kita hanya melihat rumah-rumah panggung. Di sini tidak terlihat rumah mewah. Di sana juga masih ada pekuburan megalitik, juga pekuburan Kristen. Meski sudah pukul 10.00 Wita, masyarakatnya terlihat masih duduk berselimut dalam rumah. Tidak ada aktivitas di DAS yang membentang luas itu.
Hari itu, perjalanan hanya sampai di Kampung Kabandang, karena informasi dari warga setempat bahwa Kampung Laimbonga sangat jauh. Sudah menjadi kebiasaan, kalau orang Sumba menyebut kata jauh sambil mengarahkan tangannya ke atas dengan jari telunjuknya condong bengkok ke atas, itu berarti sangat jauh.
Karena itu, kami hanya berpesan kepada orang tua Lukas untuk membawa Lukas ke rumah Pdt. Andreas Hani. Kami kemudian memutuskan kembali. Namun, hati saya terasa enggan kembali karena merasa penasaran ingin melihat sejauh mana desa itu sehingga dikatakan jauh.
Menapaki tebing bebatuan, menghindari maut
SABTU, 4 Juni 2005, Pdt. Andreas Hani, pimpinan Gereja Bethel-Waingapu menelepon saya. Beliau menanyakan, apakah saya jadi ketemu dengan Lukas? Setelah saya menjawab tidak jadi ketemu, Pdt. Andreas menginformasikan kalau keluarga Lukas saat itu sudah di Waingapu. "Tapi sayang, Lukasnya masih ada di kampung. Kalau begitu, besok (Minggu, 5/6, Red) kita ke Laimbonga," kata Pdt. Andreas, sembari menawarkan menggunakan mobilnya.
Tawaran itu pun disambut dengan antusias. Hari Minggu pagi, saya bergegas ke rumah Pdt. Andreas. Pukul 09.00 Wita, paman Lukas, Yulius Sina Andunara, tiba di rumah Pdt. Andreas, menyampaikan kalau Lukas dan ibunya juga baru tiba dari Kampung Laimbonga dan sedang menuju ke rumah Pdt. Andreas.
Mendengar cerita itu, saya langsung menemui Lukas dan ibunya di samping Gereja Bethel. Lukas terlihat cukup lelah. Raut mukanya pucat. Belum sempat saya mewawancarai ibunya, Pdt. Andreas, yang barusan keluar dari gereja langsung menyampaikan kepada saya agar saya ikut ke Kampung Laimbonga, tempat tinggal Lukas. Sebab, Lukas dan ibunya mau pulang ke kampungnya.
Saya pun menyanggupi permintaan Pdt. Andreas. Bersama-sama keluarga Lukas, ponaan Pdt. Andreas, Omi dan empat mahasiswa Sekolah Tinggi Thelogia (STT), Jimi, Ester, Eden dan Mesakh, menumpang mobil tanpa Pdt. Andreas. Menurut Pdt. Andreas, keluarga Lukas sangat bahagia jika saya bisa sampai di Kampung Laimbonga, Desa Kiritana, Kecamatan Pandawai.
"Kampung itu tidak jauh. Saya sering pergi, hanya mengikuti lereng bukit. Cuma kalinya harus pakai sampan, kalau tidak basah karena kedalaman air di kali itu hingga leher ukuran orang dewasa. Tapi kalau saya pergi, biasanya saya jalan dengan basah-basah numpang sampan," jelas Pdt. Andreas.
Mobil Pdt. Andreas, yang kami pakai pun melaju sekitar pukul 10.00 Wita dari Kota Waingapu. Kami tiba di Kampung Kabandang, Desa Kiritana sekitar pukul 11.00 Wita. Kami mencari aliran sungai yang lebih dangkal sekitar satu meter dan di tempat itu tersedia sampan. Kebetulan para penambang pasir kali yang saban hari menambang pasirnya sedang mengeruk pasir.
Kami kemudian meminta sampan Yohanes untuk mengantar menyeberangi Sungai Kambaniru yang airnya dapat mengairi 1.000 lebih hektar sawah. Kami diantar satu per satu. Saya memilih ikut bersama Lukas dan ibunya dalam satu sampan. Mengingat sampan itu panjang dan cekung ke dalam, maka kami bertiga duduk sangat hati-hati. Lukas pun memahami kondisi itu.
***
SAMPAI di seberang sungai yang tanpa berpenduduk itu, kami langsung berjalan menuju kampung Lukas. Apalagi matahari sudah semakin tinggi. Kami mulai melewati tebing demi tebing dan menaiki bukit perlahan-lahan.
Karena jalan itu nampak curam, praktis tidak ada tempat untuk kami menarik napas. Kalaupun ingin menahan agar dengkul tidak gemetaran, kami berdiri sebentar. Jalan kecil berbentuk lorong itu hanya terdiri dari bebatuan. Lukas terlihat agak capai. Ibunya sesekali menggendong Lukas ketika melihat wajah Lukas memelas minta digendong. Urat lehernya mulai terlihat kehijau-hijauan dan membesar seperti jari tangan orang dewasa.
Karena perjalanan kami melewati bukit yang tinggi dan tidak membawa bekal, terutama air minum, beberapa mahasiswa STT terlihat kecapaian. Para mahasiswa putra asli Sumtim campuran Rote dan Sabu ini sebelumnya tidak mengetahui medan sehingga tidak mempersiapkan bekal, terutama air.
Para mahasiswa ini menduga, rumah Lukas ada di pinggir kali. Ternyata, dugaan mereka meleset. Bagi orang baru, perjalanan menuju rumah Lukas harus benar-benar siap secara fisik. Perut harus terisi, menyiapkan bekal secukupnya di jalan. Omi yang tak kuat mendaki bukit setinggi satu sampai dua kilometer itu akhirnya pingsan. Saya pun tak kuat menahan haus. Kami semua akhirnya istirahat di atas bukit sambil memijit-mijit tangan dan kaki Omi.
Tidak ada rumah di atas bukit itu. Yang ada hanya hutan. Konon, ada benda-benda bersejarah di puncak bukit peninggalan nenek moyang orang Sumba ketika berperang dulu. Namun, kami tak berani untuk terus berjalan menuju bukit itu, meski ketinggiannya hanya sekitar 50 meter lagi.
Saat kami sedang beristirahat, tiba-tiba muncul kakak perempuan Lukas, Rambu dan temannya. Dari kejauhan, kami berteriak minta tolong dibawakan air minum. Meski teman Rambu tidak bisa berbahasa Indonesia, tapi ia mengerti karena ditimpali dengan seruan ibu Lukas.
Namun, karena sudah sekitar 30 menit Rambu belum juga tiba, saya bersama Jimi, Lukas dan ibunya memutuskan meneruskan perjalanan yang tinggal satu kilometer itu. Tiga mahasiswa, Mesakh, Eden dan Ester, menyetujui kami mendahului mereka, meski saya sangat khawatir dengan kondisi Omi. Tapi ibu Lukas menguatkan kami bahwa jalan itu tidak jauh lagi dan kami akan singgah di rumah pendeta.
"Tinggal sedikit lagi. Kalau ada pohon kelapa, itu Kampung Laimbonga. Dan, rumah pertama yang kita singgah untuk minum air adalah rumah Pak Pendeta," kata ibu Lukas sambil menunjuk ke depan arah kami melangkah.
Tetapi, daun kelapa yang disebutnya sebagai tanda itu belum juga terlihat. Padahal, jalan di lereng tebing bebatuan itu hanya selebar sekitar setengah meter. Menengadah ke atas hanya melihat tebing bebatuan, sementara melihat ke bawah hanya melihat jurang yang dalam sekitar satu kilometer. Jika terjatuh maka harapan hidup sangat tipis.
Di jurang itu hanya terlihat monyet. Jumlah monyetnya sangat banyak. Ada yang masih kecil dan ada yang sudah dewasa yang besarnya seperti anjing dewasa. Monyet-monyet itu terlihat bertengger di atas pohon. Ada juga yang sedang bermain-main di bawah tebing.
Menurut ibu Lukas, jika kita berjalan sendirian, monyet-monyet itu suka menggoda. Kita harus selalu waspada. Jika tidak, barang bawaan kita dirampas dan kita digigit. "Monyet-monyet yang ada di hutan ini sering menggali ubi milik masyarakat jika masyarakat tidak berada di kebun. Monyet-monyet pun sering turun ke kali mencari ikan," kata ibu Lukas.
Sambil bercerita, kami pun terus berjalan. Kami tiba di rumah Pdt. Andreas, sekitar pukul 12.30 Wita. Beberapa saat kemudian, Omi dan teman-temannya juga tiba setelah meneguk air segelas yang dibawa Rambu dan temannya.
KAMPUNG Laimbonga, di Kecamatan Pandawai, Sumba Timur jaraknya hanya sekitar 20 kilometer dari Kota Waingapu. Namun, medan yang harus dilalui untuk mencapai kampung itu cukup berat. Belum ada sarana dan prasarana yang mampu membuka isolasi fisik di wilayah itu. Jangankan jalan menuju kampung, jalan menuju pusat pedesaan pun membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebab, medan yang dilalui kendaraan sangat sulit.
Meski saban tahun, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) berupaya membuka jalan-jalan pedesaan untuk meretas isolasi, namun upaya itu belum bisa menjawabi semua persoalan isolasi fisik yang dihadapi masyarakat di wilayah itu. Kondisi geografis Sumtim yang terdiri dari bukit-bukit cadas memberi kontribusi yang besar dalam memperlambat upaya meretas isolasi fisik itu.
Keadaan ini mengakibatkan konsentrasi kepadatan penduduk menjadi tidak seimbang. Masyarakat umumnya ingin menetap di Kota Waingapu. Jumlahnya memang cukup fantastis. Sekitar 50.000-an lebih penduduk Kota Waingapu datang dari desa, plus pendatang yang bermukim di kota itu.
Konsentrasi penduduk yang tidak seimbang ini membutuhkan perhatian pemerintah untuk segera memikirkan bagaimana jalan keluarnya sehingga cepat keluar dari isolasi, baik fisik maupun informasi, sehingga akses informasi dari dan ke kampung bisa cepat.
Di Kampung Laimbonga, jarak rumah penduduknya cukup jauh. Di lereng bukit hanya terkonsentrasi sekitar lima sampai enam rumah. Untuk mendapatkan rumah lainnya, kita harus melewati bukit-bukit dengan batu cadas yang runcing. Juga harus melewati kali. Tapi, untuk melewati bukit-bukit itu, kita bisa menggunakan kuda.
Begitu kami tiba di Kampung Laimbonga, Pendeta di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Lulu Kawaka, Lukas Lau (55) yang barusan selesai memimpin ibadah, Minggu (5/6), bersama istrinya, Tabita Lau (54), langsung menemui kami yang duluan duduk di atas dipan depan rumanya. Melihat kondisi kami yang kelelahan dan haus, ia langsung meminta jemaatnya memetik buah kelapa muda. Kami pun disalami para jemaat satu persatu. Juga keluarga Lukas, si penderita tumor gondok itu.
Meski perjalanan itu sangat melelahkan, namun Lukas tidak mengeluh. Ia tampak tenang meski terlihat sangat lelah. Teman-teman lain seperjalanan menarik napas sembari mencari tempat untuk istirahat. Sementara saya terus ngobrol bersama pendeta, istri, keluarga Lukas dan jemaatnya.
Pendeta Lukas mengakui, ia sudah mengabdi di kampung itu sejak tahun 1983 hingga saat ini. Meski sempat pindah-pindah ke tempat lain hingga tahun 1992, ia akhirnya kembali ke Laimbonga tahun 2004. "Kampung Laimbonga merupakan kampung nenek moyang sehingga masyarakatnya tidak mau meninggalkan kampung ini meski medan menuju kampung ini cukup berat," kata Pdt. Lukas.
Diakui, pemukiman penduduk di Laimbonga yang tidak terkonsentrasi dan terisolasi menyulitkan warga jika terjadi sakit atau meninggal. "Jika ada warga yang sakit keras, mereka mesti menyeberang sungai dan mendaki bukit karena sarana kesehatan seperti pustu belum ada. Bahkan, anak-anak yang ingin sekolah harus melewati jalan yang jaraknya mencapai empat kilometer melalui bukit dan sungai," kata Pdt. Lukas.
Pendeta yang memiliki gedung gereja ukuran sekitar 4 x 5 meter dengan dinding bebak yang telah lapuk ini mengakui, untuk sarana pendidikan, pihaknya telah dijanjikan WVI, sebuah LSM Internasional. LSM ini menjanjikan akan membantu membuka sekolah paralel.
"Jemaat saya sekitar 100 lebih orang dan semuanya berada di lereng-lereng bukit. Anak-anak mereka jarang yang tamat sekolah, mereka lebih banyak buta huruf. Karena itu, kami senang kalau ada perhatian dari WVI," kata Pdt. Lukas.
Lukas mengakui, penduduk setempat bisa bertani dan bisa menjala ikan kali. "Kami semua punya kebun, tapi hasil kebun kami belum dapat menghasilkan uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Sebab jalannya terlalu jauh. Kalau bawaannya hanya sayur kangkung sekarung, habis di biaya angkutan. Karena itu, kita kumpul hasil bumi, seperti kelapa dan sayur-sayuran lebih banyak agar dapat menjualnya di Pasar Inpres Waingapu. Hasilnya bisa untuk beli beras," katanya.
Makanan warga sehari-hari bukan hanya beras, tapi juga jagung dan ubi. Sehingga tidak setiap hari warga harus ke pasar membeli beras. Sekali ke pasar, sembilan bahan kebutuhan pokok dibeli. "Kami membeli ala kadarnya sesuai kemampuan uang yang kami miliki," katanya.
Setiap hari, Pdt. Lukas dan istrinya sibuk menanam sayuran. Kesibukan ini sekaligus memberikan contoh kepada masyarakat bagaimana cara menanam sayur yang baik. "Kita kekurangan bibit-bibit sayuran karena itu kita menanam apa adanya, seperti sayur kangkung, terung, lombok. Kami mengambil air dari kali untuk menyiram tananam yang sudah kita tanam di bibir kali," kata Pdt. Lukas.
Sementara ayah Lukas, penderita tumor gondok, setiap hari bersama dua orang anak lelakinya bekerja mengail ikan di kali. Di rumah, ibu Lukas menganyam tikar dari daun pandan. Tikar itu kemudian dijual seharga Rp 3.000,00-5.000,00/lembar. Tikar itu tidak dijual setiap hari, tapi menunggu sampai banyak. Rumah warga Kampung Laimbonga umumnya berdinding gedek dan berlantaikan tanah.
(syarifah sifat/bersambung)