HUMBALORATA                                                                                    Kamis: 23 Jun 2005 01:28


* Pilkada di Sumba Timur,

Yang tertekan biasanya juara

 

Waingapu, PK

Calon Bupati Sumba Timur (Sumtim) Ir. Umbu Mehang Kunda, mengatakan, pihak yang tertekan biasanya tampil sebagai juara (pemenang) dalam suatu kontes politik termasuk pilkada, asalkan sabar menerima hujatan, cercaan bahkan makian sekalipun. "Biarkan mereka (lawan politik) bermain pingpong. Kalau bolanya nyangkut di net, kitalah yang mendapat poin. Saya hanya berdoa, kiranya Tuhan mengampuni mereka tentang apa yang mereka perbuat terhadap saya. Tuhan yang punya hak untuk menghakimi," ujar

Mehang Kunda ketika berkampanye di Kampung Tangga Mangu, Kelurahan Kawangu, Kecamatan Pandawai, Senin (20/6). Di hadapan simpatisan dan massa pendukungnya di Tangga Mangu, Mehang mengajak masyarakat Sumtim agar melihat fakta pembangunan selama lima tahun kepemimpinannya. "Apa yang terpampang (maksudnya balibo yang bergambar, bangunan, jalan, orang yang diwisuda, sekolah serta sarana lainnya di Sumtim, Red) adalah hasil karya bersama masyarakat dan pemerintah. Saya hanya berfungsi sebagai manajer. Ketika saya menjabat bupati, Sumtim dalam kondisi masih terbelakang. Melihat dokumen yang telah dibuat sebelumnya, saya padukan dengan fakta lapangan untuk membangun sarana dan prasarana agar masyarakat bisa hidup sejahtera. Bukan saya tidak buat apa-apa," tandas Mehang.

Dirinya, kata Mehang, bukan tipe pemimpin Soto Madura sehingga tidak mempercayai aparat di tingkat basis. "Berikan kesempatan kepada para camat, kepala desa, lurah, agar mereka bekerja sesuai tupoksi. Jangan merampas pekerjaan mereka. Ke depan, para kepala desa tidak lagi hanya berfikir pembangunan, namun bagaimana membaca potensi di desanya," tandas Mehang.

Mehang mengaku tidak memiliki program ‘akan’ namun dirinya sudah memberikan bukti nyata dengan membangun sarana dan prasarana, gedung-gedung untuk kesejahteraan rakyat. "Saya omong fakta, bukan program ‘akan’. Semuanya sudah kita buat bersama dan kita hasilkan bersama. Sudah saatnya kita melanjutkan pembangunan tersebut untuk meningkatkan perekonomian keluarga," katanya.

Mehang mengaku, dalam kepemimpinan sebelumnya dan lima tahun ke depan, pihaknya memberikan rasa aman kepada masyarakat tanpa membedakan suku, agama ras dan golongan. "Kita semua sama, tidak ada yang besar atau kecil. Sekarang rakyat berkuasa, rakyatlah rajanya," tegas Mehang. (iva)


Jangan curiga berlebihan

Kapolres Sumba Timur, AKBP Budi Prasetyo, meminta tim sukses paket calon bupati di daerah itu agar tidak menaruh curiga secara berlebihan sehingga proses pilkada berjalan aman dan lancar. Ia menyarankan tim sukses menggunakan perangkat hukum untuk menggugat Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sumtim jika dinilai tidak menjalankan tugas sesuai koridor hukum yang berlaku.

"Jangan berpikir supaya pilkada ini ditunda. Kalau melihat KPUD bekerja tidak sesuai prosedur, silahkan gugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) melalui Pengadilan Negeri (PN) Waingapu. Kalau pilkada ditunda, rakyat yang rugi karena semuanya menggunakan uang rakyat," kata Prasetyo di Waingapu, Senin (20/6).

Menanggapi pernyataan Kapolres Prasetyo, beberapa anggota tim sukses paket calon, di antaranya EK Anakonda dan Yohanes Hamanduna, mengatakan, tidak rugi jika pilkada di daerah itu ditunda. "Pilkada harus ditunda daripada rakyat dirugikan karena ada oknum calon yang bermain curang," kata Anakonda.

Hal senada disampaikan tim sukses Lukman, Yohanes Hamanduna. "Kita minta agar di setiap kotak suara dipasang stiker pasangan calon tapi ditolak, stiker dari kepolisian juga dibatalkan. Kami mau meminimalisir kecurangan. Kami siap kalah asalkan dengan cara yang terhormat," kata Yohanes.

Terhadap masalah ini, Kapolres Prasetyo, meminta para tim sukses agar menempatkan saksi pada setiap tahapan pilkada untuk meminimalisir kecurangan. "Kalau saksi kuat, tidak ada kecurangan," katanya. Ia mengatakan, undang-undang (UU) Pilkada secara jelas mengatur jika di TPS terjadi kecurangan, pemilihan di TPS itu diulang. "Sekarang siapkan saksi dan biarkanlah para saksi bekerja untuk pendukungnya," tegas Prasetyo. (iva)


Lukas susah bernafas

MASIH ingat kisah Lukas R Ndaku Mbira, laki-laki berumur 13 tahun yang menderita tumor gondok di lehernya seberat 2,5 kg? Di Rumah Sakit (RS) Darmo-Surabaya, Lukas, begitu ia disapa belum dapat di CT Scan oleh dokter setempat. Menurut dr. Dany Christian, ketika di RS Darmo-Surabaya, Lukas susah bernapas sehingga dokter belum dapat melakukan CT Scan untuk mengetahui jenis penyakit yang dideritanya.

"Pak Pendeta (Pdt) Andreas yang membawa Lukas ke RS Darmo. Tapi saat hendak diperiksa, Lukas ketakutan. Mungkin ia baru pertama kali melihat peralatan medis. Apalagi, untuk CT Scan, Lukas harus masuk dalam terowongan sehingga tidak bisa diam. Sudah dilakukan berulang-ulang kali, namun tidak bisa. Ini yang mengakibatkan ia sesak napas," kata dr. Dany di Waingapu, Rabu (22/6).

Menurut dr. Dany, berat timbangan Lukas saat ini sangat kurang dari umurnya. "Saat ini, Lukas yang berumur 13 tahun, tinggi 103 meter beratnya hanya 18 kg. Karena itu, untuk menyeimbangkan badan Lukas, setiap hari kami memberikan makanan untuk meningkatkan gizinya," kata dr. Dany.

Untuk pemeriksaan selanjutnya, kata dr. Dany, Lukas mesti dibawa langsung ke Singapura untuk dioperasi. Namun masih membutuhkan keringanan dan uluran tangan dari semua pihak. Hal yang sama diakui, Pdt. Andreas Hani. Dikatakannya, ketika tiba di Surabaya, Lukas tidak dapat di ST Scan. "Lukas terus brontak sehingga dokter di RS Darmo belum melakukan pemeriksaan," kata Pdt. Andreas, melalui handphone-nya dari Surabaya.

Menurut Pdt. Andreas yang berangkat bersama Lukas dua pekan lalu, Lukas bisa langsung dibawa ke Singapura. Namun, untuk menuju ke sana pihaknya masih membutuhkan uluran tangan hamba-hamba Tuhan. "Sekarang Lukas sudah pulang ke Waingapu dan sambil kita melihat perkembangan tubuhnya. Kita berharap lebih cepat mengoperasi gondoknya sehingga gondok itu tidak terus membesar," harap Pdt. Andreas.

Menurut Pdt. Andreas, setelah Lukas ditulis di Pos Kupang, ia terus ditelepon berbagai pihak untuk memberikan bantuan, namun Lukas belum memiliki tabungan. Sekarang, kata Pdt. Andreas, rekening Lukas sudah dibuka di BRI Cabang Waingapu No: 0141-01-010270-50-6 atas nama Lukas Rangga Ndaku Bira CQ Serly Amaya. "Kita berharap semua pihak dapat membantu agar Lukas cepat dioperasi," katanya. Ia juga menuturkan, Lukas ketika dibawa beroperasi ke Surabaya di atas pesawat ia melihat ditelinga orang ada walkman atau tape telinga langsung merengek minta. "Setelah turun dari pesawat, saya langsung belikan dia," kata Pdt. Andreas. (iva)