|
* Sergey Chikachev
Berkeliling dunia tanpa biaya
BERKELILING dunia tidak selamanya membutuhkan biaya sangat besar, terutama untuk biaya akomodasi dan transportasi. Hal ini dibuktikan Sergey Chikachev (33), pria asal Moscow-Rusia.
Sudah tiga tahun, Sergey bertualang dengan mendatangi negara-negara di hampir seluruh belahan bumi. Semuanya dilakukan tanpa biaya kecuali untuk keperluan diri.
Pada Rabu (20/6/2007), Sergey tiba di Kota Kupang dan tinggal bersama keluarga Finith di Kelurahan Pasir Panjang-Kupang. Didampingi Laura Finith, Sergey berkunjung ke Redaksi Pos Kupang, Kamis (21/6/2007) pagi.
Dalam rilisnya yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Sergey menjelaskan bahwa dia seorang petualang (hitch-hiking) tanpa mengeluarkan biaya untuk transportasi. Ia meninggalkan Moscow dan mulai bertualang sejak tanggal 13 Agustus 2004. Negara-negara yang pernah dikunjunginya, antara lain Mongolia, Cina, Laos, Thailand, Malaysia, Singapura dan Indonesia.
"Saya di Indonesia sudah delapan bulan, dan sudah berkunjung ke bebagai tempat. Setelah berkunjung itu, saya akan menulis artikel dan buku tentang daerah itu," jelas Sergey melalui penterjemahnya, Laura Finith.
Menurut dia, pertualangannya bertujuan mempelajari budaya, tradisi, gaya hidup, sejarah dari negara dan wilayah yangdikunjunginya.
Selama pertualangan, ia tidak tinggal di hotel, tapi lebih memilih tinggal di kediaman masyarakat setempat agar bisa mengenal dan mengerti serta mendapat informasi yang penting dan aktual untuk dipublikasikan.
Tujuan lainnya adalah untuk menguji kemampuan dirinya dalam menghadapi keadaan yang paling sulit.
"Contoh, ketika saya menjelajahi gurun pasir Gobi di Mongolia dengan berjalan kaki. Sudah tiga hari di sana, persediaan air saya habis. Tapi, saya mendapatkan air dari matahari. Saya bisa menjelajahi gurun pasir itu selama tujuh hari," katanya.
Pria yang sudah beristri ini menjelaskan, di Indonesia ia mendapat kemudahan transportasi dari PT. Merpati Nusantara Airlines untuk bisa menumpang pesawat Merpati dan dari PT. Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) untuk menumpang kapal-kapan Pelni secara gratis.
Sergey mengaku ibunya selalu mencemaskan keselamatannya, tapi juga bisa mengerti akan keinginannya mengelilingi dunia. Ia pun tidak takut dengan bahaya-bahaya kirminal atau politik yang bisa mengancam keselamatan dirinya. Buktinya, sudah tiga tahun ini ia tidak menemukan masalah tersebut.
Mengenai biaya hidupnya, Sergey mengatakan, dirinya adalah seorang penulis untuk sebuah majalah yang terbit setiap minggu di Eropa. Oplahnya tiga juta eksemplar, menjangkau banyak negara. Dari setiap tulisannya itulah ia mendapat biaya hidup.
Sementara untuk transportasi, ia mendapatkanya dengan gratis. Misalnya, meminta tolong pada kendaraan pribadi, supir truk dan kendaraan lain-nya tanpa harus mengeluarkan biaya.
Menurut rencana, Sergey akan melanjutkan perjalanannya ke Timor Leste dan kembali ke negaranya tiga tahun kemudian.(alf)