O P I N I                                                                               Jumat : 21 Dec 2007 16:21


Penghargaan, simpul kemajuan dan tantangan

(Membaca NTT Academia Award)

Oleh Willy Gaut

-------------------------

Ketua KMK Ledalero dan Sekretaris Redaksi Seri Buku VOX, jurnal ilmiah kampus Ledalero. Lahir di Cumbi, Manggarai pada 6 Juli 1985. Kini belajar Filsafat dan Teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero, Maumere, Flores.

------------------------

DALAM kadar tertentu, kebiasaan kita terkait sikap terhadap perilaku orang lain dicirikan oleh sebuah tegangan, antara ketakutan mengritik dan keengganan memuji, keseganan untuk menyatakan (menyingkapkan) kesalahan dan ketaktulusan mengakui dan mewartakan kebenaran. Pada ranah politik, ketakutan mengritik dan keengganan menyatakan kesalahan telah cukup menunjukkan dampak negatifnya. Sikap seperti ini kemudian berujung pada pembiaran atas pelbagai sikap dan perilaku yang tidak semestinya. Sedianya, keberanian mengritik dan ketulusan menyatakan penghargaan atau penilaian adalah dua sikap yang mesti ditunjukkan sebagai konkretisasi tanggung jawab sosial. Pada sisi lain sikap dan kebiasaan semacam ini memupuk kemapanan dalam status quo berikut tendensi memandang sebelah mata pelbagai kritikan yang konstruktif sekalipun yang lalu bermuara pada resistensi mutlak.

NTT Academia Award paling tidak merupakan sebuah terobosan sekaligus usaha membetot ciri yang melekat kuat pada sikap lama terhadap perlakuan orang lain sebagaimana telah disebutkan di atas. Dengannya, kita juga dibiasakan untuk menjadikan keberhasilan orang lain sebagai sasaran pujian dan penghargaan, bukannya kecemburuan sosial yang lahir dari sikap iri hati. Bukan suatu kebetulan pula bahwa terobosan seperti ini datang dari dunia akademis. Dunia intelektual (akademis) adalah sebuah dunia yang dicirikan oleh obyektivitas, cinta kebijaksanaan, kearifan, kebenaran dan kejujuran. Dalamnya, peluang terbuka lebar untuk mengungkapkan pujian (laudatio) terhadap apa yang benar dan baik, serta melontarkan perbaikan/pembenahan (corectio) terhadap apa yang salah. Pada tempatnya kalau dunia akademis mesti menempati garda depan dalam mempromosikan hal-hal yang menjadi perwujudan pada ranah konkret nilali-nilai yang menjadi unsur konstitutif jati dirinya.

Wujud penghargaan

NTT Academia Award mengusung paling kurang dua maksud. Pertama, memberi penghargaan yang proporsional kepada akademisi (intelektual) yang berhasil. Dengan ini kita juga belajar menghargai hasil karya dan usaha intelektual lokal kita. Sejarah perkembangan menunjukkan bahwa semua kemajuan berawal dari penghargaan terhadap setiap temuan dan gagasan baru. Barangkali Revolusi Industri di Inggris pada abad 18 tidak sampai terjadi kalau orang menganggap remeh dan akhirnya tidak mengakui penemuan mesin uap dan mesin pintal (tekstil) masing-masing oleh ilmuwan James Watt dan Richard Arkwright. Pengakuan dan penghargaan atas pelbagai ide dan penemuan baru melalui NTT Academia Award adalah sebuah simpul yang menentukan bagi kemajuan NTT ke depan.

Kedua, dalam dunia pedagogi, melengkapi kemampuan dasariah, ditemukan dua hal yang memacu pencapaian prestasi, yakni insentif dan motivasi. Dalam penggunaan harian, keduanya memang sering disalah-pakaikan, atau juga dipertukarkan secara tidak benar. Keduanya juga memang tidak berada dalam sebuah pemisahan mutlak. Sama-sama mengacu pada dorongan atau stimulus. Insentif adalah daya tarik atau stimulus yang datangnya dari luar diri seseorang, dari orang lain ataupun juga sesuatu yang berdaya pikat. Sementara, motivasi adalah dorongan atau stimulus yang datangnya dari dalam hati atau batin sendiri, yang menggerakkan perilaku sadar untuk mencapai tujuan tertentu. NTT Academia Award adalah insentif, sementara pencapaian atasnya adalah sebuah motivasi. NTT Academia Award dilihat sebagai insentif baru yang turut diperhitungkan dalam menarik minat dan semangat bertualang dalam dunia intelektual. Barangkali ini sebuah genjotan guna mendorong dan merevitalisasi kelesuan intelektual yang sudah cukup lama mewabah dalam dunia pendidikan lokal kita. NTT Academia Award bisa menjadi kekuatan yang memacu petualangan intelektual serta setan yang terus mengganggu kemapanan kita pada kemalasan, rasa cepat puas dan keengganan berpikir ekstra.

Simpul kemajuan

Hadiah diberikan kepada mereka yang dinyatakan mempunyai prestasi akademis tertentu. Salah satunya ialah keberhasilan menemukan dan membuat sesuatu yang baru, baik berupa ide maupun benda material, karya-karya akademis dalam bidang sains pun sastra. Penguasaan pengetahuan teoretis harus disertai dengan implementasi praktis. Di sinilah persisnya letak sumbangan dunia pendidikan bagi kehidupan dan kemajuan masyarakat. Dunia pendidikan menjadi pilar utama kemajuan masyarakat melalui pelontaran ide-ide baru yang bersifat konstruktif sampai pada peluncuran penemuan baru yang juga pada gilirannya mendukung kemajuan masyarakat. Roh, semangat dan "otak" kemajuan masyarakat ada dalam dunia pendidikan.

NTT Academia Award boleh dibilang hadir sebagai sebuah kontes. Kontes ilmiah-akademis. Dalam hal sumbangannya terhadap masyarakat, NTT Academia Award berbeda dari kontes-kontes pada bidang-bidang lain. Semua aktivitas yang diselenggarakan di dunia pendidikan tidak boleh pernah dipahami sebagai yang bertujuan akhir an sich. Pergelutan dalam dunia pendidikan hanyalah sementara, dalamnya setiap pribadi dipersiapkan (dilatih) untuk suatu tugas yang lebih besar pada kemudian hari di tengah masyarakat. Demikian pun halnya NTT Academia Award. Dalam tujuan jangka pendek mungkin bertitik sasar pada pemberian penghargaan terhadap prestasi akademis intelektual-intelektual lokal. Namun sebenarnya ada sesuatu yang lebih dari tujuan jangka pendek itu. NTT Academia Award memancing petualangan intelektual yang lebih intens, memacu proses berpikir kreatif dan inovatif, untuk kemudian melahirkan berbagai gagasan dan penemuan baru. Gagasan dan penemuan baru itu tidak lain adalah simpul-sumpul yang mesti dibentuk demi kemajuan NTT ke depan. Dunia pendidikan dengan segala aktivitas di dalamnya adalah motor dan sumber inspirasi bagi gerak kemajuan dan pembangunan masyarakat.

Tantangan

Pemberian adalah tanggung jawab. Ungkapan ini berlaku juga untuk NTT Academia Award. Seperti halnya setiap hadiah selalu berwajah ganda, antara pemberian dan peletakan tanggung jawab, demikian pun halnya dengan NTT Academia Award. NTT Academia Award merupakan hadiah serentak tanggung jawab yang teramat besar untuk para praktisi pendidikan serta pengambil dan pelaksana kebijakan. Singkatnya semua mereka yang dengan dan atas cara tertentu berurusan dengan penyelenggaraan pendidikan di NTT.

Sebagai penghargaan atas keberhasilan, NTT Academia Award sebenarnya juga mesti dilihat sebagai penghargaan atas kreativitas dan inovasi lebih. Pada titik inilah NTT Academia Award mesti pula dilihat sebagai tantangan bagi dunia pendidikan kita. Dunia pendidikan kita sedang ditantang dan didesak untuk menjadikan dirinya sungguh sebagai tempat dan ruang dalamnya pengembangan kreativitas dan pemunculan ide-ide yang bergerak dalam arus balik (alternatif) dipacu. Setiap ide dan penemuan baru selalu diawali dari secuil keberanian untuk berpikir dan bertindak alternatif. Akan sia-sia mengharapkan sebuah kebaruan, kalau setiap kali kita hanya mengulang-ulang yang sudah ada.

Ketika dunia pendidikan tidak memberi ruang yang cukup bagi pengembangan kreativitas dan inovasi, pada saat itu dunia pendidikan itu sedang mengkhianati kalau tidak mau dikatakan membunuh (karakter) dirinya sebagai agen kemajuan. Sebab bukan tidak mungkin lembaga pendidikan formal hanya menampilkan diri sebagai penjaga setia tradisi dan gagal menghadirkan diri sebaga ruang, dalamnya kreasi dan inovasi dirangsang pemunculannya.

Fenomen seperti inilah yang dicium lalu dikritik postmodernis Perancis Jean F. Lyotard (1924-1998). Pada masanya, ia menyindir tajam keberadaan lembaga pendidikan formal, khususnya universitas-universitas yang jamak tampil lebih sebagai penjaga tangguh lagi fanatik atas tradisi dan dengannya rentan tampil sebagai penghambat kemajuan. Dunia pendidikan semestinya menjadi ruang, darinya pemikiran kritis-kreatif dan petualangan eksploratif yang lalu menjelma dalam pelbagai wujud konkret diasalkan. Dengan ini pula proses pendidikan kita akan lebih holistik, mulai dari input, internalisasi sampai pada output berupa pluralitas bentuk karya-karya orisinal.

Penciptaan generasi akademisi yang kreatif dan inovatif sebagai target lain dari NTT Academia Award menuntut pembaruan iklim dan sistem pendidikan kita. Bukan suatu kebetulan belaka bahwa realisasi NTT Academia Award terjadi justeru pada saat lembaga-lembaga pendidikan kita gencar dengan pelaksanaan program kurikulum berbasis kompetensi (KBK). KBK tentu saja tidak cukup hanya diimplementasikan dengan penciptaan sebuah sistem dan mekanisme pengajaran yang lebih interaktif dalam ruang-ruang kelas. Peng-aktif-an peran para peserta didik tidak cukup sampai di situ. Implementasi KBK mesti ditunjukkan dalam hal-hal yang berciri melampaui ruang kelas. Artinya, peserta didik diberi bekal yang memadai untuk selanjutnya melibatkan diri pada proses pembelajaran yang mandiri, kreatif dan inovatif.

Akhirnya, NTT Academia Award adalah sebuah terobosan intelektual-akademis berdimensi ganda. Pemunculannya ke panggung akademis NTT menyadarkan kita tentang arti penting menghargai prestasi intelektual sebagai sebuah bentuk keberhasilan. Dengannya, rasa percaya diri intelektual akademisi lokal turut dikokohkan. Pada sisi lain, ia juga tampil sebagai simpul kemajuan. Kehadirannya memicu pikiran dan tindakan kreatif dan inovatif yang adalah juga prasyarat kemajuan. Serentak dengan itu, NTT Academia Award juga dirasakan sebagai tantangan bagi sebuah pengusahaan sistem dan mekanisme pendidikan yang memungkinkan lahirnya akademisi yang eksploratif, inovatif dan kreatif. *