
ANDA tinggal di luar
NTT? Di mana saja, di Amerika, Eropa, Australia, Asia, Afrika atau di dalam negeri Indonesia dari Sabang sampai Merauke? Tuliskan pengalaman Anda saat tinggal di sana. Siapa tahu bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi pembaca rubrik ini. Isinya bisa layanan publik, pengalaman Anda yang menyenangkan, cerita perjalanan Anda di sana, lingkungan hidup, penegakan hukum, demokratisasi atau apa saja. Asal tidak berbau pornografi, SARA dan fitnah, kami akan memuatnya di rubrik "Surat dari Rantau". Selamat mencoba. Secara khusus kami mengundang partisipasi putra-putri NTT di mana pun Anda berada saat
ini. Dan jangan lupa sertakan FOTO DIRI bila ingin ditampilkan. Jika dimuat, seluruh isi dari tulisan tersebut adalah tanggung jawab penulis. Dan,
pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh tulisan tersebut tak bisa menuntut pengelola Pos Kupang online.
Kirimkan tulisan Anda ke e-Mail: poskpg@yahoo.com, tony_kleden@yahoo.co.id, naikoten@yahoo.com atau dionbata@yahoo.com.
Cantumkan kode:
Surat Dari
Rantau.
Expand 1st header | Collapse 1st header | Toggle 2nd header
Ken Sila - Merasa Aman di Negeri Orang
Enam tahun sudah saya menikmati keseharian hidup di Lisabon. Kota kecil nan permai, antik dan mempesona dengan berbagai monumen yang terawat rapi, bukti sejarah kejayaan masa lalu negeri ini. Hampir di setiap sudut kota, terutama di downtown dan sepanjang sungai Tagus, menyimpan sejuta kenangan bersejarah. Siapa sangka kota kecil ini telah menjadi pusat dunia. Museum-museum untuk segala suka dan rasa, gereja-gereja, benteng-benteng dan monumen-monumen menjadi saksi sejarah yang terus menggemakan sebuah peradaban, tersebar dari Utara sampai Selatan Portugal. Mungkin ada yang akan mempertanyakannya dari segi kolonialisme misalnya. Tapi itu bukanlah pokok persoalan yang ingin saya kemukakan di sini. Saya hanya ingin menggarisbawahi satu hal yang patut dicatat di sini yakni keseriusan menjaga obyek-obyek sejarah sebagai milik "kesayangan" sebuah bangsa. Usaha konservasi peninggalan sejarah dan kekayaan budaya menjadi prioritas tersendiri, di samping sebagai bukti sejarah untuk anak cucu, juga sebagai atraksi pariwisata, keunggulan lain negeri ini. Saya sangat terkesan dengan tingkat keamanan dan kenyamanan negeri ini. Situasi Lisabon khususnya dan Portugal umumnya relatif aman kalau tak mau dibilang sangat, sangat aman. Saya sendiri bahkan merasa lebih aman berjalan, biarpun sendirian, sambil menikmati keindahan kota di negeri ini tanpa harus cemas dengan "keselamatan jiwa dan ragaku" daripada di negeri sendiri. Sungguh! Dalam keadaan dunia kita saat ini dimana kita dengan sangat sering menyaksikan tingkat kekerasan dari skalanya yang terkecil sampai ekspresinya yang paling dasyat dengan adanya perang di hampir semua belahan dunia, Portugal tampil sebagai sebuah negara dengan tingkat keamanan yang stabil. Sangat jarang mendengar atau membaca berita kalau ada pembunuhan, perampokan, pemerkosaan atau penganiayaan. Ini bukan berarti tidak ada sama sekali kejadian-kejadian seperti itu. Tapi sangat sedikit dan jarang sekali terjadi sehingga pasti saja akan menjadi berita besar kalau terjadi hal-hal seperti tersebut di atas. Bandingkan saja dengan berita-berita di tanah air. Hampir sepanjang saat kita diberondong oleh berita-berita seputar pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, pemboman, kerusuhan dan lain-lain. Saya bahkan tidak pernah mendengar adanya tawuran antar pelajar atau perkelahian antar mahasiswa atau antar pemuda, satu hal yang lazim terjadi di daerah kita. Kalau Anda menanyakan sesuatu di jalanan orang akan menjawab sebenarnya, kalaupun mereka tidak tahu mereka akan mengatakan setulusnya dan menunjukkan kepada siapa sebaiknya Anda bertanya. Lebih aman lagi kalau Anda bertanya pada polisi atau tentara yang selalu bisa ditemui di tempat-tempat strategis. Sungguh berbeda dengan figur polisi dan tentara kita yang selalu ditakuti dan dijauhi masyarakat. Kesuksesan Portugal menyelenggarakan Euro 2004, misalnya, tidak terlepas dari segi pengamanan yang familiaris. Bayangkan, selama perhelatan akbar persepakbolaan Eropa ini tidak pernah terjadi satu kekacauanpun. Tidak heran kalau UEFA, organisasi tertinggi persepakbolaan Eropa, menilai Euro 2004 sebagai Euro terbaik sepanjang sejarah. Bahkan Jerman, penyelenggara Piala Dunia 2006, Swiss-Austria, tempat berlangsungnya Euro 2008 dan Afrika Selatan, tuan rumah Piala Dunia 2010, datang berguru ke Portugal. Berlebihan? Tentu saja tidak! Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik dan kerendahan hati itu sebuah kebajikan? Satu hal lagi, di manakah Anda bisa menemukan mantan presiden atau mantan-mantan pembesar lainnya berjalan-jalan santai di tempat-tempat umum bersama keluarga sama halnya dengan masyarakat lainnya? Di sini Anda bisa menemukannya. Ini hanya bisa terjadi di tempat di mana situasinya benar-benar pasifik dan para penguasa, selama masa jabatannya telah benar-benar berbuat sesuatu untuk kesejahteraan masyarakatnya. Saya tidak tahu pasti keadaan di negara-negara lain, tapi satu hal adalah pasti, contoh ini mustahil terjadi di tanah air kita. Lisabon tentunya bukanlah "Taman Eden" bukan pula surga-nya dunia. Namun dari pernik-pernik kehidupan ini kita bisa menilai sejauh mana dan sebesar apa tingkat peradaban dan tingkat kesadaran hidup bermasyarakat suatu bangsa. Marilah kita belajar menjadi sebuah masyarakat dan bangsa yang semakin beradab. Kens Sila, anak NTT yang sedang menyelesaikan studi di Lisabon, Portugal. Blog: http://jendela-jiwa.blogspot.com Jullya Vigneshvara - Tersesat Karena Bahasa
WAKTU menunjukkan lewat tengah malam saat saya akan mendarat di bandara Suvarnabhumi Bangkok, Thailand. Dari atas langit malam yang kelam, bandara di kota Bangkok itu bermandikan cahaya yang menjadikannya tampak
berkilauan. Gila! Berapa megawatt yang pemerintah Bangkok sediakan untuk membuat kota Bangkok tampak berpendarpendar di kala malam? Saya langsung teringat kota dimana saya tinggal yang harus mengalami pemadaman bergilir karena pembangkit listriknya masih numpang dari kota tetangga.Bentuk arsitektural Suvarnabhumi berkubahkubah unik yang langsung mengingatkan saya pada kisah 1001 malam di Persia. Dalam imajinasi saya sih seperti topi Aladdin tapi bisa saja asosiasi saya kurang tepat. Barangkali kubah itu bentuknya mirip seperti keong. Tapi apapun itu saya mengagumi tata arsitekturalnya yang digarap dengan serius. Karena ibarat sebuah rumah, bandara adalah pintu masuk. Dan, untuk sebuah negara yang juga mengandalkan pariwisata, adalah sebuah keniscayaan untuk menggarap infrastuktur dan pelayanan publiknya dengan baik. Saya sempat dagdigdug saat akan melewati keimigrasian. Sebelum berangkat, teman saya di tanah air sempat menakutnakuti dengan keangkeran petugas imigrasi Thailand yang kurang ramah pada orang Indonesia. Duh sedihnya saya dengan memburuknya citra Indonesia belakangan ini akibat banyaknya TKI gelap. Saya memang belum memegang tiket apapun untuk keluar dari Thailand meskipun saya telah mempunyai tiket kembali ke tanah air. Tapi syukurlah meski petugas imigrasi yang melayani saya berwajah sedikit cemberut tapi sama sekali tak mempersulit pemberian visa dan tidak repotrepot menanyai saya. Barangkali wajahnya yang tidak bersahabat itu hanya karena lelah saja. Ya, siapa yang tidak jika harus begadangan sepanjang malam. Bangkok ternyata juga bukan sebuah kota yang sulit untuk dieksplorasi. Sistem transportasinya sudah tertata dengan baik. Sebagaimana kotakota metropolitan lainnya, lalu lintas di Bangkok juga sering macet. Tapi dengan Bangkok Sky Train yang merupakan salah satu moda transportasi masal, waktu tempuh perjalanan hampir bisa diperkirakan sehingga tidak perlu menjadi tua di jalanan. Jika jalur tujuan tidak dilayani oleh kereta layang ini, kita bisa menggunakan kereta bawah tanah (MRT) yang juga menjadi sarana transportasi umum di Bangkok. Dan kita tidak perlu khawatir kesulitan transportasi karena keduanya beroperasi hingga tengah malam dan relatif aman. Tapi pengalaman yang unik justru saya rasakan saat menumpang Tuktuk, semacam bajainya Thailand. Rupanya, tidak banyak pengemudi Tuktuk yang bisa berbahasa Inggris. Selain itu lafal bahasa Inggris mereka juga agak sedikit berbeda. Jadi saat saya mau pergi ke CentralWorld yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Bangkok dengan naik Tuktuk, saya nyasarnyasar entah ke mana saja karena rupanya pengemudi Tuktuknya tidak memahami pengucapan saya. Bahkan saat saya menunjukkan peta, sang pengemudi tetap tidak bisa memahami karena peta tersebut ditulis dengan huruf latin. Thailand memang memiliki hurufhuruf yang khas yang menjadi tulisan sehariharinya. Agak kesal juga mulanya karena banyak waktu yang terbuang dan tentunya saya harus membayar lebih dari kesepakatan semula. Mungkin akan lebih baik kalau dinas pariwisatanya memberikan pelatihan praktis bahasa Inggris bagi para garda depan pariwisata ini. Tapi ya sudahlah, namanya juga jalanjalan. Jadi ya dinikmati sajalah nyasarnya. Hitunghitung berkeliling kota. Dan saya pikir, ada baiknya lain kali saya juga membekali diri dengan pengetahuan bahasa praktis setempat agar tidak perlu nyasar dan tentu saja bisa menawar dengan lebih baik. (*) Jullya Vigneshvara tinggal di Banda Aceh NAD gemar melancong, menulis dari Bangkok Yuditiya Purwosunu - Sindrom Hikikomori BEBERAPA waktu lalu saya baca artikel tentang kisah seorang remaja di Jepang. Suatu hari, setelah dropout dari sekolah, dia masuk ke kamar tidurnya dan tidak keluar lagi selama tahuntahun berikutnya. Tidak sekolah, tidak bekerja, tidak punya teman dan menghabiskan seluruh waktunya termasuk makan di kamar.Bertahuntahun hanya di dalam kamar bermain game TV, surfing internet, nonton TV dan mendengarkan musik. Beberapa hanya empat tahun, tapi ada juga yang lebih dari sepuluh tahun ngamar. Kadang hanya sebulan sekali membeli CD game di toko musik atau keluar malam membeli kit model pesawat untuk stok satu bulan berikutnya.. Sindrom ini dikenal di Jepang dengan Hikikomori, atau berarti "menarik diri". Walau ada hikikomori perempuan, tapi 80 persen hikikomori adalah anak lakilaki, dimulai mungkin paling muda sekitar umur 1314 tahun, dan ada yang lebih dari 15 tahun melakukan hikikomori. Fenomena ini sering dijumpai di negara maju. Jepang merupakan negara paling maju di antara negaranegara asia. Di antara negara maju di asia, Korea selatan dan Taiwan juga mempunyai beberapa kasus sindrom yang sama. Tapi hanya di Jepang, hikikomori menjadi fenomena sosial yang meluas di bicarakan di TV dan media lainnya. Ada film dokumentari yang dibuat "Home", dimana memfilmkan kisah saudara lakilakinya sendiri yang melakukan hikikomori. Atau berita heboh di media tentang seorang hikikomori yang menculik seorang anak perempuan 9 tahun dan menyimpannya di kamar tidurnya selama lebih dari 10 tahun. Sebab pastinya tidak jelas. Kebanyakan publik di media menyalahkan faktor keluarga hilangnya figur ayah (karena kerja berlebihan sampai malam), ibu yang terlalu memanjakan anak (mungkin karena jumlah anak yang sedikit), tekanan akademik di sekolah, pelecehan di sekolah (school bullying), dan video game di Jepang yang luar biasa menggoda. Mungkin bisa dibilang mereka menarik diri dari tekanan kompetisi pelajar, pelaku ekonomi atau pekerja di negara yang luar biasa kompetisinya. Jumlah pastinya tidak diketahui pasti, ada yang menghitung sekitar 1 persen dari populasi. Ini berarti sekitar 1 juta orang Jepang hikikomori. Hitungan yang lebih konservatif berkisar antara 100 ribu dan 320 ribu orang yang hikikomori. Tekanan di sekolah sedikit banyak berperan akan hikikomori. Kebanyakan mereka dilecehkan karena terlalu gemuk, kurus, tinggi atau melebihi kemampuan dari yang lainnya dalam hal apapun. Ada seorang hikikomori dengan kemampuan lebih dari biasanya dalam basket dan mengalami pelecehan dimana tidak mendapatkan kesempatan waktu main normal di tim sekolahnya. Seperti pepatah jepang, paku yang menonjol akan dipalu untuk menjadi seragam. Di jepang, keseragaman adalah utama, penampilan dan respek (postur tubuh atau muka) adalah penting, maka pemberontakan akan kompetisi dilakukan dengan menarik diri hikikomori. Semakin tua seseorang hikikomori, semakin kecil kemungkinan dia bisa berkompeten di dunia luarnya. Bila setahun lebih hikikomori, ada kemungkinan dia tidak bisa kembali normal lagi untuk bekerja atau membangun relasi sosial dalam waktu lama, menikah misalnya. Beberapa tidak akan pernah meninggalkan rumah orang tuanya. Pada banyak kasus, saat orang tuanya meninggal atau pensiun akan menimbulkan masalah karena mereka tanpa kemampuan kerja dan sosial minimal bahkan untuk membicarakan masalahnya dengan orang lain atau kantor pemerintah. Hikikomori memang salah satu masalah bagi Jepang, setelah lebih dari satu dekade sebelumya menikmati kemajuan ekonomi yang luar biasa. Beberapa dekade terakhir ini, negara jepang masih bergulat mengembalikan kejayaan ekonominya walau masih jauh dari puncak sebelumnya. Akibatnya banyak lowongan kerja penuh waktu atau salariman (yang menerima gaji tetap tiap bulan dan akan menikmati uang pensiun) menjadi hal yang sulit didapat. Walau pekerjaan paruh waktu tetap banyak, tetapi kemapanan bekerja di satu perusahaan dengan gaji tetap tiap bulan dan menikmati keamanan uang pensiun merupakan anganangan sebagian besar pekerja di Jepang. Satu sebab lainnya adalah kultur gender, dimana anak lakilaki mendapat tekanan untuk sukses di bidang akademik dan pekerjaan dibanding anak perempuan. Seperti biasa, sekolah dari pagi hingga sore kemudian dilanjutkan dengan sekolah private untuk persiapan masuk universitas hampir selama tujuh hari seminggu. Karena hanya dengan masuk universitas bergengsi (Universitas Tokyo, misalnya), mereka bisa di rekrut masuk dalam kelas pekerja tetap dan menikmati pensiun. Sisanya bekerja di pekerjaan paruh waktu atau tanpa pekerjaan sama sekali, yang tidak memberikan keamanan finansial yang tetap. Di mana pada satu titik, beberapa merasa masa bodoh dengan tekanan ini, keluar dari jalur kompetisi dan menutup dirinya hikikomori. Alhasil ada sekelompok pemuda yang tidak bisa dan tidak akan ikut dalam kelas pekerja Jepang yang terkenal pekerja keras itu. Sindrom ini mungkin tidak banyak ditemui di Indonesia, walau saya pernah menjumpainya yang tidak seekstrem di Jepang. Namun dalam skala yang lebih kecil, tanpa kita sadari, sindrom hikikomori mini dan micro telah berjalan sejak lama. Tiap hari kita menemui sikap hikikomori menutup diri, masa bodoh, dan terbelit inersia dari kesulitan tanpa memulai untuk berjuang memecahkan masalah. Terutama di negara di mana suara rakyat dan simpati amat sulit didengar di pemerintahan. Entah hanya dengan membuang sampah tidak pada tempatnya, menunda pekerjaan atau hal kecil lainnya, rasa apati itu bisa makin membesar, masa bodoh dan membuat kita keluar dari dunia normal. Semoga kita bisa belajar. Yuditiya Purwosunu yuditiya@gmail.com adalah dokter asal Indonesia yang tengah mengambil spesialis obstetri dan ginekologi di Jepang Ria Susanti - Petaka Puntung Rokok (Ramah Lingkungan ala Hong Kong) FRANKY Sahilatua baru saja mengeluarkan kotak rokoknya dari dalam saku, ketika ia melihat saya menggelengkan kepala.
"Beneran nggak boleh ya?," tanyanya, sambil kembali memasukkan kotak rokok ke saku.
Hari itu, awal Mei 2007, tepat lima bulan pemerintah Hong Kong menetapkan aturan larangan merokok di tempat umum, termasuk taman kota, pantai, dan bar.
Franky yang kerap mampir ke Hong Kong, biasa meluangkan waktu merokok di Taman Victoria Park, taman terbesar di Hong Kong yang menjadi tempat mangkal pekerja sektor rumah tangga asal Indonesia jika libur hari Minggu. Namun sejak Januari 2007, taman seluas tujuh kali lapangan sepak bola tersebut dipenuhi tanda larangan merokok. Denda yang dipatok untuk para pelanggar maksimal HK$5000 (sekitar Rp 5,5 juta). Meskipun dalam praktiknya, denda yang dikenakan pada pelanggar sama dengan denda membuang sampah tidak pada tempatnya dan denda meludah sembarangan, yakni HK$1500 (sekitar Rp 1,7 juta). Beberapa distrik, masih "berbaik hati" dengan menyediakan tempat khusus merokok di taman kota mereka. Tapi distrik yang membawahi Victoria Park, tak cukup berbaik hati, Jadilah, para pelancong Victoria Park yang hobi merokok terpaksa berdiri di tong sampah pinggir jalan raya jika ingin menyalurkan hobi merokoknya. Dengan catatan, puntung rokok harus dibuang persis di lubang tong sampah. Tapi sial memang kadangkadang datang tanda diduga. Meski saya berhasil mengingatkan Franky untuk membatalkan niat merokoknya di Victoria Park, saya gagal menasihati kawan sendiri. Kawan yang menetap di Hong Kong lebih lama dari saya tersebut, menelepon saya suatu malam dan mengabarkan bahwa ia telah dijatuhi denda hanya garagara menjentikkan puntung rokok persis di jalanan depan halte bus. "Aku kena HK$1500. Ini polisi di sampingku. Tak bisa ditawar," ujarnya. Sepertinya dia masih membawa tabiat Jakarta, berpikir bahwa urusan denda bisa tawar menawar. Usut punya usut, kawan ini membuang puntung rokoknya di jalanan, persis saat polisi patroli melintas di sampingnya. Kontan dia langsung kena denda. Ia diberi surat denda dyang harus ia berikan ke kantor pos terdekat, berikut dengan uang HK$1500. Saat kawan saya mencoba menggoda polisi tersebut dengan mengatakan bagaimana misalnya jika dia tak membayar, sang polisi pun berucap enteng, "Boleh saja. Tapi jangan salahkan kami jika Anda tak bisa pulang ke Indonesia karena Anda dicekal Imigrasi saat akan keluar Hong Kong." Waduh, ternyata urusan puntung rokok bisa berbuntut cekal juga. Catatan kriminal, sekecil apapun, bisa mereka lacak dengan mudah. Namun yang menarik, tak ada tawar menawar dalam urusan pelanggaran aturan. Begitu Anda ketangkap basah, jangan berharap ada belas kasihan. Agaknya, dengan aturan seketat itu, Hong Kong mencoba mengurangi jumlah para perokok. Setelah pajak tinggi untuk rokok, ternyata tetap tak mempan. Bayangkan, sebungkus rokok Marlboro yang di Indonesia bisa dibeli dengan harga Rp 10.000,di Hong Kong, orang harus membelinya sekitar HK$31 atau sekitar Rp. 35.000. Ria Susanti adalah warga Indonesia yang tinggal di Hongkong
|