
|
S a l a m
|
Jaga teras depan Indonesia SATU lagi tindak kekerasan terjadi di Atambua, Belu. Tindak kekerasan ini disinggung di ruang ini justru karena 'bertindih tepat' dengan perayaan Hari Raya Paskah, Minggu (23/3/2008). Adalah Paulo do Santos yang menjadi korban dalam peristiwa ini. Dia meninggal menyusul perkelahian massal di Kelurahan Motabuik, Kecamatan Fatukbot. Sudah tentu kita menyesalkan aksi kekerasan ini. Kita menyesal tidak saja karena kekerasan itu sendiri merupakan suatu malum, buruk dalam dirinya sendiri. Ada banyak alasan mengapa kita menyesal. Pertama, kekerasan itu sendiri merupakan suatu aksi yang tidak patut. Dalam konteks ini, kekerasan dengan korban jiwa meninggal itu sama-sama tidak kita inginkan. Kedua, kita menyesal karena Atambua atau Kabupaten Belu sangat sering terjadi aksi kekerasan. Beberapa bulan lalu, kita catat terjadi kekerasan antara oknum aparat keamanan dengan seorang tokoh agama. Kasus ini akhirnya diselesaikan dengan bijak dan tanpa ekses lanjutan. Jauh sebelum itu, kita juga masih ingat tewasnya seorang anggota brimob karena aksi kekerasan. Di tingkat desa, sangat boleh jadi terjadi juga aksi-aksi kekerasan, meskipun luput dari liputan media. Ketiga, kita juga menyesal karena tindak kekerasan itu terjadi persis pada Hari Raya Paskah. Kita menyesal karena ketika orang kristiani larut dan khusuk dalam perayaan kemenangan ini, justru terjadi aksi kekerasan yang pada galibnya bertentangan dengan semangat Paskah. Semangat Paskah adalah semangat kemenangan atas segala perilaku tidak betul, kemenangan atas sikap dan tindakan tidak terpuji. Yesus mati dan bangkit mengalahkan maut menyimbolkan kebangkitan manusia atas segala perilaku tidak terpuji. Mestinya, roh Paskah turut merohi semangat manusia untuk menjadi semakin baik dan beradab, termasuk meninggalkan praktek jalanan yang tidak terpuji. Kasus kekerasan yang terjadi di Atambua itu perlu dan bahkan harus diusut tuntas. Kita harapkan agar aparat kepolisian bekerja maksimal mengusut tuntas kasus ini. Bukan apa-apa, tetapi agar di hari-hari mendatang tindak kekerasan semakin menurun frekuensinya. Dalam konteks Atambua, melalui ruang ini ingin kita titipkan beberapa harapan untuk diperhatikan. Pertama, kepada Pemerintah Kabupaten Belu. Melihat trennya, kasus kekerasan di Atambua memperlihatkan grafik meningkat. Tren ini tidak baik, karena dia antara lain turut merefleksikan kegagalan seluruh stakeholder di Belu menjaga keamanan dan ketertiban. Karena itu harapan kita jelas, yakni agar Pemerintah Kabupaten Belu lebih serius lagi memperhatikan aspek keamanan di wilayahnya. Harapan ini penting kita kemukakan terutama karena Kabupaten Belu karena letaknya di daerah perbatasan maka dia menjadi adalah front, teras depan, halaman muka sebagian wilayah Indonesia. Kedua, kepada aparat keamanan, terutama kepolisian. Bagaimana pun juga Belu telah menjadi teras depan Indonesia di mata Timor Leste. Karena itu, keamanan di wilayah ini mutlak dijamin sehingga tidak mudah disusupi kepentingan dari luar. Tetangga kita, Timor Leste, boleh dibilang masih begitu labil dalam hidup bernegara. Dengan kondisi itu, sangat mungkin gejolak lokal di Timor Timur merembes ke Belu dengan segala akibatnya. Dan, kita tahu seringkali terjadi, kekerasan yang terjadi di Timor Timur dengan begitu mudah mengganggu peta dan kondisi keamanan di Belu. Kepada masyarakat. Kita harapkan agar semua warga Belu terus keamanan di wilayahnya. Perlu ada kesadaran bahwa hidup di daerah perbatasan ada risikonya. Sedikit saja lengah dalam sikap, perilaku dan tindakan akan dengan sangat mudah merembes dan merusak seluruh tatanan yang ada. Jika Belu menjadi front, teras depan sebagian 'rumah' Indonesia, maka dia mesti terus ditata dan dijaga agar tetap aman, tenang dan tidak mudah diganggu. Semua pihak di Belu, baik itu pemerintah, aparat keamanan maupun warga kita harapkan terus bahu membahu menjaga nama wilayahnya, menjaga nama daerahnya, menjaga nama Belu agar tidak identik dengan kekerasan. Tidak ada yang patut dibanggakan jika Belu terus terlibat dalam aksi kekerasan. * Curhat
Pojok
BUNG JOKI |