Berita Utama 3

 

 

 

* Kasus Motabuik-Atambua
Polres Belu tetapkan empat tersangka

ATAMBUA, PK -- Penyidik Kepolisian Resor (Polres) Belu sudah memeriksa 12 orang terkait perkelahian antarwarga di Motabuik yang menewaskan Paulo dos Santos, tujuh rumah dibakar, Minggu (23/3/2008). Dari belasan orang yang diperiksa itu, empat di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Polisi masih terus mengembangkan penyelidikan dan penyidikan.
Kepala Polres Belu, AKBP Drs. Mulyadi Kaharni, M.Si mengatakan hal ini saat ditemui Pos Kupang, Selasa (25/3/2008) petang. 
"Setelah peristiwa itu terjadi, polisi sudah ambil keterangan 12 warga. Dari mereka ini sudah empat orang langsung kita tetapkan sebagai tersangka dan saat ini kita sudah ditahan," katanya tanpa menyebut nama para tersangka.
Ditanya apakah ada lagi tersangka baru, Mulyadi mengatakan, peluang tersebut tetap ada karena polisi terus mengembangkan penyelidikan dengan menghadirkan saksi-saksi lain. Mulyadi mengharapkan bantuan dari masyarakat untuk memberikan informasi seputar kejadian itu.
"Sampai saat ini kondisi di Motabuik sudah berangsur kondusif. Kita masih terus siagakan aparat di sana. Saya juga meminta dukungan dari semua pihak baik tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, pemerintah Kabupaten Belu untuk sama-sama membantu menciptakan suasana yang aman sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi," pintanya.
Di tempat terpisah, Komandan Kodim (Dandim) 1605 Belu, Letkol (Inf) Samuel Hehakaya mengatakan, untuk mendukung pengamanan lokasi kejadian, pihaknya sudah menurunkan 2 satuan setingkat regu (SSR) ke Motabuik. Satu SSR disiagakan untuk melakukan patroli tiap malam untuk mem-back up Polres Belu.
Pantauan Pos Kupang, kemarin, keadaan di Motabuik masih lengang. Belum banyak warga yang pulang ke rumah pasca kejadian Minggu (23/3/2008). Hanya terlihat kaum laki-laki yang ada di rumah mereka. 

Tak ada muatan politis
Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez menegaskan, peristiwa di Motabuik, Kelurahan Fatukbot, Kecamatan Kota Atambua, Minggu (23/3/2008), tidak ada muatan politis. Peristiwa tersebut merupakan kriminal murni dan tidak ada kerusuhan, sehingga Pemerintah Kabupaten Belu telah menyerahkan kepada aparat Polres Belu untuk mengusutnya sampai tuntas.
Bupati Lopez, Selasa (25/3/2008), menyatakan sangat prihatin karena peristiwa ini terjadi pada Hari Raya Paskah.
"Dalam peristiwa ini sebagaimana kita ketahui bahwa ada rumah yang dibakar dan dirusak. Ini diakibatkan karena salah paham antarpemuda. Peristiwa ini merupakan kriminal murni tanpa ada embel-embel lainnya. Sekarang ini kita sudah serahkan kepada aparat untuk mengusutnya. Saya perlu tandaskan bahwa tidak ada kerusuhan di Atambua," tegasnya.
Tentang rumah yang dibakar dan dirusak, Bupati Lopez menjelaskan, dirinya sudah meminta aparat di tingkat kelurahan untuk mendatanya dan segera memberikan laporan tertulis kepada instansi teknis agar pemerintah bisa mengambil langkah-langkah penanganan darurat.
"Kita belum bisa pastikan bantuan dalam bentuk apa karena masih didata di lapangan," ujarnya.
Bupati Lopez juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Belu untuk tidak gampang terprovokasi terkait peristiwa yang terjadi di Motabuik. Masyarakat diminta tenang dan menyerahkan seluruh proses kepada aparat berwenang. Setelah keadaan benar-benar kondusif, kata Lopez, pemerintah akan mendamaikan pihak-pihak yang berkelahi.
Diberitakan sebelumnya, bermula dari salah paham, sejumlah pemuda di Motabuik, Kelurahan Fatukbot, Kecamatan Kota Atambua, terlibat perkelahian massal, Minggu (23/3/2008). Dalam kejadian itu, Paulo do Santos, warga Noelbaki-Kabupaten Kupang, tewas akibat terkena pukulan.
Tewasnya Paulo diduga memicu kemarahan rekan-rekannya. Terjadi serangan ke Motabuik dimana 15 rumah warga dibakar dan sejumlah rumah lainnya rusak karena dilempari dengan batu. (yon)

 

PMT di Rote tidak lancar

BA'A, PK -- Pemberian makanan tambahan (PMT) bagi penderita gizi buruk dan gizi kurang di Kabupaten Rote Ndao pasca penetapan status gizi buruk menjadi kejadian luar biasa (KLB), berjalan tidak lancar. Makanan tambahan yang sedianya diberikan kepada balita gizi buruk dan gizi kurang tahap kedua, Senin (24/3/2008), sampai Selasa (25/3/2008), belum juga diberikan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao, dr. Jonathan Lenggu yang dihubungi di kantor bupati setempat, Selasa (25/3/2008), mengakui hal itu. Menurutnya, lambatnya PMT karena kendala teknis pengangkutan bahan makanan dari Kupang ke Rote. Selama tiga hari berturut-turut, makanan untuk balita gizi buruk dan gizi kurang berupa beras, kacang hijau, minyak bimoli, susu dan telur tidak terangkut kapal feri karena pada karung kemasan tidak tertulis tujuan pengiriman barang.
"Kami sudah belanja makanan untuk para balita gizi buruk dan gizi kurang di Kupang namun tidak terangkut. Namun saat ini makanan untuk balita itu sudah tiba di Rote dan siap dibagikan," kata Lenggu di Ba'a, Selasa (25/3/2008).
Ia mengatakan bahwa para kepala puskesmas telah mengambil bahan makanan tersebut untuk selanjutnya dibagikan kepada balita. "Hari ini (kemarin, Red) ada rapat evaluasi soal penyakit TB paru yang menyerang anak-anak dan ini dihadiri semua kepala puskesmas. Karena itu, usai rapat para kepala puskesmas langsung membawa makanan itu ke wilayahnya untuk dibagikan," kata Jonathan yang hendak berangkat ke Kupang bersama Wakil Bupati, Bernad Pelle, S.Ip, untuk urusan penanganan gizi buruk dan gizi kurang.
Ditanya soal pemerataan PMT kepada semua balita yang angkanya saat ini terus meningkat, seperti untuk gizi buruk sebanyak 221, gizi kurang tanpa kelainan klinis 1.247, marasmus 14, kwashiorkhor satu yang menyebar merata di delapan kecamatan, Lenggu mengatakan, saat ini pemerintah terus berusaha dengan anggaran yang ada untuk memberikan makanan tambahan kepada semua balita gizi buruk dan kurang. Dan, untuk makanan, katanya, saat ini Yayasan Theodora telah membantu 207 paket makanan, selain itu ada 50 paket dari MP Asih. Dari rumah sakit juga memberi bantuan yang diterima dari
BPR Pitoby.
"Kalau hanya dari pemerintah saja kita agak kekurangan tapi dengan adanya bantuan dari sejumlah pihak maka PMT kita saat ini cukup," kata Jonathan. 
Sementara itu, kegiatan posyandu di Kantor Lurah Namodale, Selasa (25/3/2008), tampak sepi karena tidak semua anak datang untuk ditimbang. Kegiatan posyandu hari itu hanya menimbang berat badan anak-anak. Tidak ada PMT. 
Perawat di posyandu itu, Nofa yang didampingi bidan Leni saat ditanya soal PMT, mengatakan, untuk Kecamatan Lobalain PMT sudah diberikan kepada 100 lebih anak dan untuk lanjutan PMT pihaknya akan mengevaluasi dulu berat badan anak. 
Ketika ditanya soal posyandu serempak setiap tanggal 13, baik bidan Leni maupun Nofa mengaku tidak tahu. "Kita belum tahu informasi posyandu serempak karena sampai dengan saat ini belum ada pemberitahuan. Dan, kalaupun jadi kita sangat kekurangan tenaga karena saat ini satu orang bisa menangani tiga sampai empat posyandu," kata keduanya. (iva)