| Berita Utama
4

|
* Catatan dari Menu-Fatuat di TTS
(2)
Memacu masyarakat di selatan Timor
Oleh Ferry Ndoen
BANYAK pesan bernas disampaikan para petinggi negara, baik Menteri PU, Joko Kirmanto, maupun Sekretaris Duta Besar (Dubes) Jepang, Mr. Morunaga saat meresmikan Jembatan Menu dan Fatuat.
Menteri PU, Joko Kirmanto minta masyarakat di wilayah itu dan masyarakat di selatan Pulau Timor umumnya agar memanfaatkan dua jembatan ini sebagai sarana untuk mendukung dan memacu percepatan perekonomian masyarakat yang ada di wilayah tersebut.
Menurut Joko Kirmanto, pembangunan dua jembatan ini untuk menopang aksesibilitas masyarakat dan sebagai jalan alternatif di selatan Pulau Timor sampai di wilayah perbatasan.
"Masyarakat harus memanfaatkan jembatan ini untuk meningkatkan jasa distribusi. Kalau dulu pada musim hujan masyarakat tidak bisa lewat, maka saat ini sepanjang tahun bisa melintasi wilayah ini dan lintasan ini menjadi jalan penghubung ruas jalan kolektor dan jalan arteri yang ada," katanya menegaskan.
Sementara Sekretaris Dubes Jepang, Mr. Morunaga berharap kehadiran dua jembatan yang dibangun di selatan Pulau Timor ini bisa mendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi masyarakat di wilayah ini. Juga bisa meningkatkan persahabatan Pemerintah Indonesia dan Jepang karena peresmian dua jembatan ini bertepatan dengan hari dan tahun emas (50) persahabatan Indonesia-Jepang.
Apa yang disampaikan para petinggi dalam sebuah acara seremonial merupakan sebuah ungkapan klise, namun sarat makna. Hal ini bertujuan untuk memotivasi masyarakat agar lebih memanfaatkan sarana dan prasarana yang sudah dibangun dan disediakan pemerintah demi kesejahteraan mereka.
Masyarakat TTS juga perlu menyimak ungkapan yang disampaikan pendonor, dan masyarakat patut menyampaikan ucapan terima kasih kepada pendonor dan kontraktor pelaksana Hazama Corporation terkait peresmian Jembatan Menu dan Jembatan Fatuat karena pembangunan fisik dua jembatan ini lebih cepat dua bulan dari jadwal yang direncanakan dalam kontrak, yakni pada bulan Mei 2008 mendatang. Namun semuanya ini terpulang kembali pada masyarakat sendiri, apakah mereka melihat sarana yang disiapkan ini bisa lebih menyejahterakan mereka?
Kembali pada kehadiran dua jembatan 'megah' di wilayah selatan Pulau Timor ini, kita boleh katakan ini sebagai sarana penghubung yang sangat strategis karena berada di ruas jalan propinsi (trans nasional).
Sebagai gambaran umum, untuk sampai di dua jembatan ini jika kita bergerak dari Kota, SoE, Ibukota Kabupaten TTS, harus menempuh sekitar 80 km atau sekitar 3 jam perjalanan dengan melintasi sebagian medan jalan yang masih buruk, dan sebagian jalan terjal belum beraspal.
Ruas jalan propinsi (trans nasional) ini juga bisa dilewati dari Batuputih - Panite - Kolbano - Boking - Wanibesak - Besikama hingga Halilulik dengan panjang ruas 257,39 km. Sedangkan jika kita bergerak dari Kupang - Baun - Ekam - Oekabiti - Oemoro - Panite harus menempuh jarak 133,67 km dengan total panjang ruas jalan 391.06 km.
Masuk ke ruas jalan di selatan Pulau Timor ini bisa melalui ruas jalan nasional dari Bokong-Batuputih (km 76 dari Kupang), masuk jembatan Noelmina pada ruas jalan Bokong (Kabupaten Kupang) lalu menuju Batuputih-Panite-Kolbano-Boking (Kabupaten TTS) menuju Wanibesak-Besikama (Belu) dan akan sambung di ruas jalan Halilulik (Kabupaten Belu/ruas jalan nasional).
Selain itu, kita bisa melintas dari arah Kupang-Baun-Ekam- Oekabiti-Oemoro (Kabupaten Kupang) menuju Panite (Kabupaten TTS) terus ke Wanibesak-Belu.
Lintas jalan di selatan Pulau Timor ini juga merupakan salah satu jalur alternatif strategis menghubungkan wilayah daratan ke negara Timor Leste, dan di wilayah selatan ini membentang luas samudera/lautan Indonesia berbatasan dengan wilayah utara Australia.
Wilayah selatan Timor ini memang layak mendapat perhatian karena wilayah ini menyimpan sejumlah potensi sumber daya alam yang menjanjikan seperti batu kerikil putih dan merah di pesisir pantai Kolbano, dan peternakan sapi di dataran Bena (sepanjang ruas Panite-Kolbano), serta minyak bumi (pesisir pantai Boking). Selain itu, peternakan sapi, perkebunan kelapa sepanjang ruas jalan Baun-Ekam-Oekbiti-Oemoro, serta masih 'perawannya' objek wisata pantai selatan.
Namun di jalur selatan Pulau Timor ini Pemerintah Propinsi NTT masih harus memikirkan pembangunan empat jembatan di empat sungai karena belum memiliki jembatan, termasuk jembatan Bailley berlantai kayu (klas C) dengan bentang 60 meter yang belum memenuhi standar sehingga perlu diganti dengan jembatan kelas B.
Karena itu, pada saat peresmian jembatan Menu-Fatuat, Kadis Kimpraswil NTT, Ir. Fredrik Allo, M.Si, dalam laporannya tanpa 'malu-malu' kembali memohon perhatian negara donatur Jepang untuk bisa membantu dengan dana hibah serupa untuk membangun jembatan besar masih belum tertangani di lintasan selatan Pulau Timor ini.
Negara donor ini juga dimohon untuk membantu dana untuk penanganan jalan di lintasan selatan Timor, serta dua jembatan yang belum dibangun, yakni di kali Oemoro dan kali Boking.
Hal senada disampaikan Bupati TTS. Drs. Banunaek saat diberi kesempatan menyampaikan sambutan dan ucapan terima kasih atas nama rakyat dan Pemda TTS.
Bahkan, Fredrik Allo pada kesempatan itu menyampaikan sejumlah rencana program pembangunan yang akan dilaksanakan Pemprop NTT ke depan namun masih terbentur dengan keterbatasan dana pembangunan yang ada.
Ia berharap ada bantuan dana serupa untuk penanganan lintas jalan lingkar luar Kota Kupang, lintas utara Pulau Timor, lintas utara Pulau Flores, lintas selatan Pulau Sumba, lintas selatan Pulau Rote, dan jalan lingkar Pulau Lembata.
Semua ungkapan dan harapan telah terpatri di wilayah Menu dan Fatuat saat peresmian dua jembatan yang dibangun dengan dana hibah pemerintah Jepang ini. Karena itu, apa pun yang ingin dan akan dikerjakan/dilaksanakan pemerintah tentu semuanya akan bermuara bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Pulau Timor, dan masyarakat di Nusa Tenggara Timur tercinta. Semuanya itu tergantung apakah masyarakat bisa menjawab sebuah tantangan dan harapan dengan memanfaatkan sarana dan prasana jalan yang sudah ada. (habis)
|