| Berita Utama
4

|
* Safari PLS ke Sabu (1)
Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu
Oleh Yosep Sudarso
SEORANG pria mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Di antara ratusan peserta dialog yang bersesakan di Istana Teni Hau, istana Raja Sabu, dia seolah-olah ingin mendahului yang lain. Kursi yang ia tempati pun ditariknya ke belakang. Setelah memegang mikrofon, suaranya menggelegar di tengah lebatnya hujan yang mengguyur Kota Seba, Rabu (19/3/2008).
Sehari sebelumnya, ibukota Kecamatan Sabu Barat yang juga bakal ibukota Kabupaten Sabu itu sedang kedatangan sejumlah pejabat dari dunia pendidikan. Ada anggota Komisi X DPR RI, komisi yang membidangi dunia pendidikan, Ruth Nina Kedang, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) NTT, Thobias Uly, Kasubdin Pendidikan Dasar dan Menengah, Jusuf Miha Ballo, dan Kasubdin Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Marthen Dira Tome. Hadir pula staf Menteri P dan K yang ditugaskan khusus untuk meneliti kelayakan pembangunan SMPN 2 Liae, Susetyo.
Semarak penyambutan ini sudah terlihat ketika pesawat Perintis Merpati melandas mulus di Bandara Terdamu setelah menempuh perjalanan Kupang-Seba selama kurang lebih 45 menit. Di tangga pesawat terlihat delapan penari tengah menghentakkan kakinya mengikuti iringan bunyi gendang dan gong yang ditabuh enam lelaki. Sesaat kemudian Camat Sabu Barat, Wempy Imanuel Riwu, Koramil 1603-IV/Sabu Raijua, Kapten Philipus Widodo, dan sejumlah tokoh masyarakat Seba maju menghampiri rombongan ini. Peluk dan cium khas Sabu lalu menjadi tanda ucapan selamat datang di Seba, selamat datang di Sabu-Raijua.
Belasan mobil termasuk ambulans dan mobil kejaksaan lalu beriring-iringan menuju pusat Kota Seba. Perjalanan ini mestinya tidak terlalu memakan banyak waktu bila kondisi jalannya tidak separah keadaan sekarang. Jalan tanpa nama ini (dan ternyata semua jalan di Sabu belum punya nama) penuh lubang dan banyak aspal yang sudah terkelupas. Sementara di sisi kiri kanan jalan terlihat hamparan sawah. Sayang, beberapa petak sawah tergenang banjir yang tingginya sudah menutupi padi-padi yang ditanam. Pesan puso atau gagal panen menjadi mimpi buruk para petani.
Sekitar setengah jam kemudian rombongan ini tiba di Teni Hau. Di tempat ini, pada keesokan harinya, H.D. Radja, lelaki yang mengacungkan tangannya, bersuara lantang. Ia tegas menyatakan ketidaksetujuannya atas penilaian sekelompok orang bahwa implementasi program PLS di Kabupaten Kupang, khususnya di Pulau Sabu-Raijua tidak berjalan bahkan fiktif.
Tomas yang mantan anggota DPRD Kabupaten Kupang ini berpendapat, isu fiktif sengaja dilemparkan kelompok-kelompok tertentu semata karena kepentingan politik. Menurutnya, warga Pulau Sabu-Raijua menikmati hasil dari implementasi program ini. Karena itu kepada para pengelola dan pendamping program ini, ia meminta tidak boleh terpengaruh oleh pelbagai isu yang dihembuskan. "Biarkan anjing menggonggong, kafilah terus berlalu. Anak Luther (Marthen Dira Tome) dan semua pendamping harus terus berjalan. Yakinlah, kami warga Sabu- Raijua ada di belakang kalian karena kami menikmati hasil program-program ini," ujarnya disambut tepuk tangan semua yang hadir. Mereka setuju bahwa setidaknya di Sabu-Raijua PLS tidak fiktif.
Saat dialog tentang pendidikan ini, Dira Tome menjelaskan, PLS atau yang sering disebut juga Pendidikan Non Formal (PNF) adalah salah satu produk unggulan Dinas P dan K. Walaupun demikian, dengan mengutip UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), ia mengatakan, program ini hanya berfungsi sebagai pengganti, penambah atau pelengkap pendidikan formal dalam mendukung pendidikan sepanjang hayat.
Tentang tujuan dan cakupannya, Dira Tome menegaskan, PLS/PNF berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta perkembangan sikap dan kepribadian profesional (pasal 26 ayat 2). Dalam ayat berikutnya disebutkan PLS/PNF meliputi pendidikan kecakapan hidup (life skill), pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan dan pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Barangkali karena tujuannya yang luhur dan didukung fakta implementasinya telah dinikmati masyarakat banyak, senada dengan H. D. Radja, Thobias Uly mengajak kelompok PLS dan para pendampingnya untuk terus berkarya. Ketekunan bekerja, katanya, tidak pertama-tama untuk kepentingan pembuktian bahwa program ini berjalan, melainkan meningkatkan kualitas hidup anggota kelompok yang pada gilirannya mempengaruhi kualitas hidup masyarakat banyak. (bersambung)
|