| Pro
Bisnis

|
Sistem Hambat Penerbitan SBU
KUPANG, PK -- Sistem atau mekanisme koneksi internet yang digunakan oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) membuat proses penerbitan Sertifikat Badan Usaha (SBU) menjadi terhambat. Hal ini membuat para kontraktor mengeluh karena proses tender untuk tahun angaran 2008 saat ini sudah berlangsung.
Ketua Gabungan Perusahaan Konstruksi Nasional (Gabpeknas) NTT, Sebastian Udjan S.Sos, M.M mengakui kondisi ini, ketika ditemui di Kupang, Kamis (27/3/2008).
"Saat ini banyak kontraktor yang mengeluh mengenai lambannya proses penerbitan SBU. Persoalannya adalah karena perubahan sistem penerbitan yang menggunakan koneksi internet. Sistem server dari website LPJK sering error, bahkan macet. Kami sudah mengeluhkan persoalan ini ke LPJK sehingga mudah-mudahan secepatnya diatasi," kata Udjan.
Dia mengatakan bahwa tahun ini, dari hampir 500 anggota Gabpeknas NTT, yang mendapatkan GBU belum mencapai 50 anggota. "Untuk anggota Gabpeknas NTT baru puluhan anggota yang mendapatkan sertifikasi. SBU mereka yang terbit tahun lalu dan akan berakhir tanggal 1 April sehingga mereka sangat memerlukan SBU baru untuk mengikuti proses tender," jelasnya.
Untuk itu, Udjan menyarankan agar untuk sementara LPJK menggunakan sistem manual dalam proses penerbitan SBU. Sistem internet, kata Udjan, bisa kembali digunakan oleh LPJK kalau jaringan di servernya sudah kembali normal.
"Saran saya, bagaimana kalau LPJK untuk sementara menggunakan sistem manual. Bagaimanapun juga, LPJK harus memahami posisi para asosiasi," kata Udjan.
(eko)
Tarif Kapal Feri Naik 20 Persen
KUPANG, PK -- Tarif kapal feri yang beroperasi di NTT, akan naik 20 persen dari tarif yang berlaku selama ini. Kenaikan tarif itu untuk mempertahankan operasional kapal-kapal feri di daerah ini.
Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan NTT, Fred M Solo, S.Ip kepada Pos Kupang, Kamis (27/3/2008). Saat itu, Fred didampingi Kepala ASDP Cabang Utama Kupang, La Unru dan Kasubdin Penyeberangan Dinas Perhubungan NTT, Afand Djafar, S.Ip.
Dikatakannya, kenaikan tarif itu telah dipertimbangkan secara matang dari pelbagai aspek dan melibatkan berbagai pihak. Pertama, biaya operasional kapal feri makin membengkak akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kedua, kenaikan tarif kapal feri itu dilakukan agar bisa mempertahankan keberadaan kapal feri di NTT. Di daerah lain, katanya, tarif kapal feri sudah dua kali menaikkan tarif.
"Di daerah lain, tarif kapal feri sudah naik dua kali, malah di atas 30 persen. Tapi di NTT, baru dinaikkan tahun ini dan kenaikannya 20 persen dari tarif yang berlaku saat ini," ujar Fred dibenarkan La Unru.
Kenaikan tarif 20 persen ini pun, lanjut dia, bukan diberlakukan sekaligus melainkan secara bertahap. Tahap pertama naik 10 persen dan setelah dievaluasi, baru dinaikkan lagi 10 persen pada enam bulan berikutnya. Kenaikan tarif ini berlaku untuk semua rute penyeberangan di NTT.
Pemerintah Propinsi NTT, lanjut dia, juga sangat memahami kemampuan ekonomi masyarakat NTT. Namun demi menjaga kelangsungan ASDP di NTT dan menunjang arus transportasi penyeberangan, pemerintah sepakat memberlakukan tarif baru.
Penetapan tarif baru itu, lanjut Fred lagi, bukan ibarat membalik telapak tangan. Penetapannya setelah melewati semua tahapan.
"Mulanya manajemen ASDP Kupang mengajukan usul untuk tarif baru itu. Usul itu kami bahas dengan melibatkan semua pihak terkait, termasuk Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) NTT. Setelah dikaji lagi dari berbagai aspek, akhirnya kami menetapkan kenaikan tarif yang sesuai dengan kondisi masyarakat," ujar Fred.
(kro)
"Mulanya dengan Rp 2 Juta"
"LEMBAGA yang saat ini dikenal dengan nama Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Tanaoba Lais Manekat (TLM) mulai dirintis tahun 1995. Mulanya dana yang digunakan hanya Rp 2 juta. Uang itu semuanya dikelola untuk membantu kaum papa."
Demikian Direktur Eksektutif Yayasan Tanaoba Lais Manekat, Rozali, kepada Pos Kupang, Kamis (27/3/2008) petang. Saat itu, ia didampingi Direktur Operasional Elvys E Datty dan Direktur Keuangan, Zesly NW Pah.
Dikatakannya, dari pengelolaan uang yang dilakukan secara profesional, uang Rp 2 juta itu pun berkembang amat pesat. Selain itu, jumlah wong cilik yang menjadi sasaran kucuran uang itu pun bertambah banyak. Dari grafik perkembangan inilah, lanjut dia, akhirnya didirikan BPR Tanaoba Lais Manekat yang beralamat di Jalan Ahmad Yani Nomor 43-Kupang ini. Bila tak ada rintangan, gedung bank ini diresmikan penggunaannya oleh Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, petang ini.
Menurut Rozali, BPR Tanaoba Lais Manekat ini dipayungi Gereja Masehi Injili Timor (GMIT). Olehnya, visi misi yang diemban, ialah terus membantu "kaum pinggiran" untuk mengangkat harkat dan martabat mereka.
"Kami punya mimpi, orang-orang kecil itu punya investasi di BPR ini. Kami punya mimpi, saatnya nanti, di dalam alukosu (bahasa Dawan: tas kecil yang biasa diisi sirih pinang) bukan hanya ada sirih pinang, tetapi juga ada buku bank. Dan buku itu adalah BPR Tanaoba Lais Manekat. Itu mimpi kami," ujar Rozali.
Di BPR ini, lanjut dia, manajemen bank memiliki sejumlah produk yang menguntungkan nasabah. Ada yang namanya Tabungan TLM dengan suku bunga yang bersaing.
Ada juga Tabungan Rencana TLM. Tabungan ini untuk pendidikan, holyland tour, menikah, membeli aset dan lain-lain. Suku bunganya sampai 7 persen. Ada juga deposito. (kro)
Aset Perbankan Rp 8,52 Triliun
KUPANG, PK -- Kinerja perbankan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukan peningkatan yang cukup signifikan dari perkembangan aset, kredit maupun dana pihak ketiganya. Aset perbankan mencapai Rp 8,52 triliun atau naik 12,29 persen dari tahun 2006. Realisasi kredit tumbuh 31,63 persen atau Rp 4,20 triliun dan dana pihak ketiga naik 10,16 persen atau Rp 7.30 triliun.
Demikian disampaikan Pemimpin Bank Indonesia-Kupang, Putra Nusantara Stefanus pada seminar Perkembangan Perekonomian Propinsi NTT di Hotel Kristal-Kupang, Kamis (27/3/2008) pagi.
Stefanus mengatakan, dana masyarakat di perbankan didominasi oleh simpanan Rp 3,53 triliun. Berdasarkan golongan pemilik, maka share terbesar dana pihak ketiga (DPK) dimiliki oleh perorangan 63,89 persen atau Rp 4,65 triliun dan pemerintah daerah 25,10 persen atau Rp 1,83 triliun.
Sementara kredit, penyalurannya berdasarkan penggunaan didominasi oleh kredit konsumsi Rp 2,86 triliun. Berdasarkan sektor ekonomi, share terbesar adalah kredit kepada sektor lain- lain Rp 2,87 triliun diikuti sektor perdagangan Rp 988 miliar.
Khusus pembiayaan perbankan tahun 2007, katanya, masih didominasi oleh konsumsi sebesar 68,10 persen, modal kerja 29,29 persen dan investasi 2,86 persen.
"Jadi pembiayaan perbankan untuk sektor-sektor produktif masih rendah," ujarnya.
Dia memprediksi, outlook ekonomi NTT tahun 2008 akan lebih baik. "Kalau beberapa faktor bisa dikendalikan, kami yakin pertumbuhan ekonomi tahun 2008 ini akan lebih baik dari tahun lalu," ujarnya.
Sementara inflasi tahun 2008 diperkirakan lebih rendah dari tahun 2007, dengan tekanan inflasi yang aman khususnya dari bahan makanan seperti beras, kedelai, minyak goreng yang akan berpengaruh ke produk-produk turunannya. (cha)
|