|
F L O R E S A
Seputar
Flores

|
PKH di Ende Telan Rp 2,6 Miliar
ENDE, PK-- Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Ende tahun anggaran (TA) 2007 menelan dana sebesar Rp 2.612.258.000.00. Dana tersebut bagi 5.610 rumah tangga sangat miskin (RSTM) yang tersebar pada delapan kecamatan atau di 85 desa/kelurahan di Kabupaten Ende.
Ketua Unit Pelaksana Progam Keluarga Harapan, Andreas Pawe mengatakan hal itu kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Kamis (27/3/2008).
Dia menjelaskan, pelaksanaan pembagian uang dalam progam PKH kepada RSTM di Kabupaten Ende untuk tahun 2007 yang dilakukan dalam tiga tahap telah berakhir. Tahap I proses pembagianya dilakukan pada 16 Februari, tahap II pada 15 Maret dan tahap III tanggal 22 Maret 2008.
"Meskipun proses pembagiannya baru dilakukan tahun 2008, namun progam itu untuk tahun 2007. Namun karena pada tahun 2007 persiapannya belum matang sehingga pelaksanaan pembagiannya dilakukan tahun 2008," papar Andreas.
Tentang kendala dalam proses pembagian dana PKH tahun anggaran 2007, Andreas mengatakan, secara teknis tidak terlalu ada kendala. Namun demikian, ada beberapa kendala seperti kondisi penerima dana PKH cukup jauh seperti yang berdomisili di Kecamatan Kota Baru cukup menyulitkan untuk pembagian PKH.
Kendala lain, katanya, masih ada pro-kontra terkait dana PKH dimana ada masyarakat yang klaim mereka tidak mendapatkan dana PKH mestinya layak terima dan sebaliknya.
Terkait sikap pro-kontra dalam proses pembagian dana PKH, demikian Andreas, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk menentukan karena yang melakukan pendataan RSTM adalah Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ende. Sedangkan pihaknya hanya menerima data yang diterbitkan BPS untuk memroses pembagian dana PKH.
Fasilitator PKH Kecamatan Kota Baru, Benyamin David mengatakan, kendala yang mereka hadapi dalam proses pembagian PKH adalah kendala geografis, dimana warga desa penerima PKH letaknya cukup jauh dari jalan umum. Meski begitu, proses pembagian PKH berlangsung baik.
Benyamin mengatakan, ia menjadi fasilitator PKH untuk tiga desa di Kecamatan Kota Baru, yakni Desa Detua Ara, Tana Langi dan Desa Tani Woda. (rom)
Lebu Raya Jadi Anak Tua Adat Taga
RUTENG, PK-- Drs. Frans Lebu Raya yang kini menjabat Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) diangkat menjadi anak tua adat di Taga, Kelurahan Wali, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. 'Pelantikan' Frans sebagai anak tua adat akan digelar hari Sabtu (29/3/2008) di rumah adat Taga.
Anggota DPR RI, Cypri Aoer, menyampaikan hal itu kepada wartawan di Ruteng, Kamis (27/3/2008). Menurut dia, dengan diangkatnya Frans Lebu Raya menjadi anak angkat adat hal ini sebagai bentuk pendekatan budaya. Sebab, budaya merupakan satu sendi kehidupan manusia. Lebu Raya diangkat oleh tokoh adat setempat agar menjadi bagian dari budaya Taga.
Dia mengemukakan, tokoh adat Taga memberi apresiasi yang besar bagi sosok Frans Lebu Raya. Karena itu, masyarakat adat di wilayah itu memberi apresiasi yang tinggi. "Ritual adat akan dilakukan di rumah adat Taga," ujar Aoer.
Terhadap pengangkatan tersebut, kata Aoer, Frans Lebu Raya merasa senang sebagai bentuk perhatian dan tanggung jawab bersama dalam kehidupan bermasyarakat. Prosesi pengangkatan dilakukan mulai dari Bandara Satar Tacik dan Frans Lebu Raya akan mengenakan pakaian adat menuju Taga. "Usai pengangkatan menjadi anak tua adat Taga, ia akan melakukan kegiatan lain dalam kapasitasnya sebagai Wakil Gubernur dan Ketua DPD PDIP NTT," kata Aoer.
Ditambahkannya, Frans Lebu Raya juga akan mengunjungi Borong untuk aktivitas politik dan negara.
(lyn)
Horinara Juara Festival Budaya Flotim
LARANTUKA, PK-- Sanggar Horinara meraih juara I Festival Budaya Flores Timur (Flotim) yang digelar di Taman Kota, tepi Pantai Kelurahan Lokea- Kota Larantuka, Rabu (26/3-2008) malam. Sanggar milik masyarakat adat Kecamatan Klubagolit ini unggul diantara 17 sanggar yang ada di 18 kecamatan di Flotim dengan menampilkan Tarian Lebe.
Pantauan Pos Kupang, Rabu (26/3-2008) petang, sebelum festival digelar pukul 18.00 Wita, didahului pawai keliling kota pukul 15.00 Wita. Tujuh belas sanggar (kecuali Kecamatan Adonara Barat yang tidak hadir), tampil dengan kostum dan aksesoris budaya dari masing-masing kecamatan. Mereka menumpang kendaraan roda empat yang disiapkan lalu berarak keliling Kota Larantuka menabuh alat musik tradisional gong.
Hadir dalam pawai ini, Bupati Flotim, Drs. Simon Hayon, didampingi anggota muspida Flotim. Festival yang juga ajang hiburan malam untuk menghibur masyarakat Kota Larantuka dibanjiri ribuan penonton dari 14 kelurahan di Kota Larantuka.
Ketua Tim Juri Festival Seni Budaya Flotim, Hironumus Miten Bao, kepada wartawan dipenghujung kegiatan ini menjelaskan, enam dari 17 sanggar yang meraih prestasi sesuai keputusan tim juri sebagai sanggar berpenampilan terbaik. Aspek yang dinilai, antara lain orisinal tarian sebagai tarian tradisional masyarakat Flotim, penyerapan, pola gerakan, pola lantai (khusus penyajian) dimana gerakan harus identik dengan irama.
"Untuk tarian tradisional Flotim, gerakan utama adalah kaki yang mendominasi gerakan tarian. Sedangkan pola lantai, semua tarian tradisional Flotim menggunakan pola gerak melingkar," kata Miten Bao.
Tujuan festival seni budaya yang berlangsung semalam suntuk diikuti masyarakat dari 17 kecamatan, antara lain untuk mengembangkan potensi budaya daerah Flotim, menjaga dan mengembangkan potensi seni budaya sebagai aset daerah dan memancing kunjungan wisatawan manca negara untuk berkunjung ke Flotim.
Untuk itu, kepada 17 sanggar peserta festival diberikan masing-masing piagam, piala serta uang pembinaan Rp 1 juta/sanggar dan Pemkab Flotim menyerahkan penghargaan khusus kepada enam sanggar yang meraih juara I-VI. (art)
Juara Sanggar Kecamatan Tarian
II Nara Laga Bunga Adonara Timur Lili
III Helero Wulanggitang Gong Bitong
IV Nusa Tadon Adonara Tengah Gawe Awu
V Seni Timo Tawa Witihama Geleda Watunerin
VI Apu Kebarek Solor Barat Tarian Belu.
------------------------
Juara Uang
I Rp 5 juta
II Rp 4 juta
III Rp 3 juta
IV Rp 2 juta
V Rp 1,5 juta
VI Rp 1 juta.
Selandia Baru Perkuat Kapasitas Media
ENDE, PK-- Selandia Baru menilai perkembangan pers di Indonesia dewasa ini cukup maju. Pada masa mendatang perlu kerja sama dengan media massa dalam bentuk pelatihan untuk memperkuat kapasitas media massa.
DemikianWakil Duta Besar Selandia Baru, David Strachan, didampingi Awan Poesoro selaku Public Diplomacy pada Kedutaan Besar Selandia Baru, saat mengadakan kunjungan kerja di Kantor Biro Pos Kupang di Ende, Jalan Kokos Raya Perumnas-Kota Ende, Rabu (26/3/2008).
Kedatangan Wakil Dubes Selandia Baru diterima para karyawan Pos Kupang yang bertugas di Biro Ende, yakni Pius Romualdus, Ance Kerans dan Maria Goreti Kerong serta para agen Pos Kupang di Ende.
Dalam dialog dengan karyawan Pos Kupang, Wakil Dubes, Selandia Baru mengatakan, dalam setiap kunjungan kerjanya ke daerah di Indonesia, ia selalu berusaha mengunjungi kantor media massa. Hal ini untuk melihat dari dekat perkembangan pers Indonesia khususnya pers di daerah pada saat ini.
David mempertanyakan tentang kontrol media massa terhadap kebijakan publik, dalam arti pemanfatan dana oleh pemerintah apa sudah tepat sasaran atau belum. Dia mengharapkan agar media massa dalam penyajian berita senantiasa memberikan kesejukan, dan bukan sebaliknya berperan menyulut terjadinya konflik.
David mengatakan, saat ini pemerintah Selandia Baru memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Indonesia yang ditandai dengan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudohyono ke Selandia Baru.
Tentang Selandia Baru, David mengatakan, banyak orang punya kesan bahwa Selandia Baru hanya memiliki domba. Padahal, kesan itu keliru karena Selandia Baru tidak hanya memiliki domba namun punya industri, pertanian dan peternakan lainnya. "Banyak orang mengatakan di Selandia Baru domba lebih banyak dibanding manusia. Itu pendapat yang keliru,"ujarnya.
Sementara Awan Poesoro mengatakan, ia sengaja berkunjung kantor Pos Kupang Biro Ende karena berdasarkan hasil riset beberapa waktu lalu ia mendapati bahwa di NTT koran Pos Kupang merupakan yang terbaik dari sejumlah media cetak yang ada. "Kami memiliki catatan tentang Pos Kupang maka kami mendatangi Pos Kupang untuk melihatnya lebih dekat," kata Awan.
Wartawan Pos Kupang Biro Ende, Pius Romualdus mewakili lembaga Pos Kupang menyampaikan terima kasih atas kunjungan Wakil Dubes Selandia Baru ke kantor Biro Pos Kupang di Ende. "Kunjungan ini merupakan penghormatan dan penghargaan bagi Pos Kupang," kara Pius.
Dalam kesempatan itu dilakukan pertukaran cenderamata, di mana Ance Kerans menyerahkan buku 15 Tahun Pos Kupang Suara NTT, sedangkan Wakil Dubes Selandia Baru menyerahkan topi.
Kedatangan Wakil Dubes Selandia Baru ke Ende merupakan bagian kunjungan ke Pulau Flores. Mereka juga mengunjungi Maumere, Ruteng dan Labuan Bajo. Selama di Ende, Wakil Dubes Selandia Baru mengunjungi Danau Kelimutu dan mengadakan dialog dengan Pemda Ende, Muhammadiyah dan Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr dan melihat kerajinan tangan di Woloare.
(rom)
UGM Kaji Adonara Jadi Kabupaten
LARANTUKA, PK --Kajian pemekaran Kabupaten Flores Timur (Flotim) menjadi dua wilayah otonom, yakni Kabupaten Flotim daratan dan Kabupaten Adonara sesuai aspirasi masyarakat Adonara akan dilakukan Pemkab Flotim awal bulan April 2008. Kajian akan dilakukan oleh tim dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.
Bupati Flotim, Drs. Simon Hayon, mengatakan hal itu ketika bertemu delapan wakil tokoh masyarakat Adonara di ruang kerja Sekab Flotim, Drs.Frans Diaz Alffi, M.M, Selasa (25/3/2008).
"Nota persetujuan dengan UGM sudah kita tandatangani," kata Bupati Simon, kepada delapan tokoh masyarakat dan 34 anggota Ikatan Keluarga Adonara (IKA)-Lembata yang menggelar demo damai dengan memajang spanduk di pintu masuk Kantor Bupati Flotim. Tim IKA dipimpin, Agus Baro Wuran dan Suban Pulo mendatangi Pemkab Flotim untuk menanyakan proses pemekaran/pembentukan daerah otonom (kabupaten) Adonara. Mereka menilai Pemkab Flotim kurang tanggap memroses pembentukan calon Kabupaten Adonara.
Bupati Simon menyatakan, keputusan pembentukan Kabupaten Adonara tidak bisa sekadar asal jadi untuk memenuhi harapan satu dua orang. Pemerintah, lanjutnya, mengharapkan prosesnya melalui tahapan yang wajar. Dan untuk itu, tegas Simon, Pemkab Florim saat ini sedang mempersiapkan melakukan kajian akademis melibatkan UGM.
Tentang hasil kajian akademis yang dilakukan UGM, Simon mengatakan, hasil kajian bisa diperoleh dalam waktu tidak terlalu lama. Bupati Simon menekankan penggunaan keuangan yang telah disetujui DPRD Flotim untuk kajian dimaksud juga harus melalui prosedur. "Tidak bisa dikeluarkan begitu saja. Saya tidak ada kompromi untuk itu," tegasnya.
Tujuan pembentukan Kabupaten Adonara, demikian Simon, tidak untuk memenuhi kepentingan bupati, dan tidak untuk kepentingan kelompok tertentu, namun untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sementara IKA berharap pemerintah selain menunggu hasil kajian UGM, juga membantu masyarakat melalui aparat di tingkat bawah seperti camat dan kepala desa dalam rangka mempersiapkan kelengkapan administrasi sebagai persyaratan pembentukan kabupaten baru.
IKA berharap, kajian nantinya harus meliputi prospek ke depan, baik kabupaten Adonara hasil pemekaran, maupun kondisi Flores Timur pasca pemekaran secara ekonomi. Koordinator IKA, Agus Baro Wuran, kepada Pos Kupang sebelum diterima Bupati Simon Hayon mengatakan, kehadiran kelompok ini untuk menanyakan langsung kepada Bupati Flotim tentang hambatan yang dihadapi pemerintah dalam proses pembentukan daerah otonom Adonara karena sudah delapan bulan kajian akademis belum dilakukan.
"Sebab, sejak Agustus 2007 lalu DPRD Flotim telah sepakati untuk lakukan kajian termasuk dana untuk itu. Tapi kenapa sampai sekarang belum dilaksanakan. Kami cuma minta waktu 10 menit bertemu Bupati Simon untuk menjelaskan apa hambatannya," ujarnya. (art)
|