Humbalorata

   Sumba, Alor, Lembata

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11 Kades Tolak Camat Tanah Righu

WAIKABUBAK, PK-- Sebelas orang kepala desa (kades) dan sejumlah tokoh masyarakat (tomas), serta tokoh pemuda di Kecamatan Tanah Righu, Kabupaten Sumba Barat (Sumbar), Senin (5/5/2008), mendatangi Bupati Sumba Barat, Drs. Julianus Pote Leba, M.Si. Mereka mendesak bupati membatalkan pelantikan Camat Tanah Righu, Melkianus Bili, dan meminta bupati melantik Sekretaris Kecamatan Tanah Righu yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Camat Tanah Righu, DD Robaka, S.Sos menjadi camat di wilayah ini.
Robaka dinilai rajin turun ke desa, mengenal warganya, memiliki visi misi membangun di Tanah Righu sehingga jika diganti maka program ini tidak akan berjalan. 
Sebelas kades yang datang bertemu Bupati Potelaba diwakili 3 orang kades, yakni Bili Duka (Kepdes Loko Riy), Lende Poety (Kades Malata), ATU Paty (Kades Lingu Lango), dua tokoh masyarakat yakni DA Tenda, dan BU Pare, dan tokoh pemuda, Melkianus Pandang. Sedang lainnya menunggu di luar. Kedatangan puluhan warga pakai bus Damri semula hendak bertemu Bupati Julianus Pote Leba. Namun bupati tugas ke luar daerah sehingga 30 tokoh masyarakat dan kades menunggu di ruang kerja Wakil Bupati (Wabup) Sumba Barat, dr. Kornelius Kodi Mete untuk menyampaikan aspirasi ini. 
Wabup Sumba Barat, dr. Kornelius Kodi Mete, usai hadiri sidang pelantikan Panwas Pilgub NTT, Senin (5/5/2008), langsung bertemu para kades dihadiri Asisten I, Drs. Richard Djami, Asisten II, Drs.Umbu Sappi Pateduk, Kabag Tatapem, Trasisius Tamo Ama, dan Kepala BKD, Drs. AN Dapawole.
Tokoh masyarakat, BU Pare, mengatakan kedatangan 11 kades dan tomas serta tokoh pemuda bersama sejumlah warga Tanah Righu bukan untuk demo, tapi ingin menyampaikan aspirasi. "Kami masyarakat Tanah Righu hendaki agar Plt Camat DD Robaka dilantik menjadi camat Tanah Righu agar program kerja yang dicanangkan dapat berjalan. Warga Tanah Righu bangga dengan keputusan Bupati Sumbar menempatkan kader Tanah Righu jadi Plt camat namun diharapkan bisa diikuti kebijakan pelantikan menjadi camat defenitif. Kalau diganti maka program tidak dapat berjalan," kata Pare. 
Hal senada disampaikan DA Tenda kalau mereka bukan aksi demo tapi ingin sampaikan aspirasi. "Pengambilan keputusan sepenuhnya ditangan bupati dan wakil bupati," tegasnya. 
Tokoh pemuda, Melkianus Pandang mengatakan, kehadiran masyarakat menyampaikan aspirasi agar didengar pemerintah. 
Wabup Kornelius Kodi Mete, sebelum menanggapai aspirasi ini menanyakan apakah aspirasi ini murni atau tidak. "Saya bisa katakan sekcam berada dibalik semua ini. Sebagai aparat pemerintah seharusnya memahami aturan kepegawaian karena Sekcam Tanah Righu belum memenuhi syarat kepangkatan untuk dilantik menduduki posisi camat. Dia harus dipindahkan dulu untuk menduduki jabatan lain baru dipromosi menjadi camat. Penempatan dalam jabatan ada aturannya. Bila penempatan PNS tidak sesuai ketentuan maka bupati dan wakil bupati bisa disalahkan," tegasnya. 
Mendengar penjelasan wabubu, BU Pare lalu meminta agar camat yang dilantik jangan putra daerah tapi orang luar agar mengerti dan mau bekerja untuk Tanah Righu. "SK sudah ditandatangani bupati. Pejabat yang dilantik sudah memenuhi syarat dan layak ditempatkan di wilayah itu," tegas Kodi Mete. Mendengar penjelasan ini warga bisa memahaminya. (pet) 

2.000 Predator Dilepas di Atadei

LEWOLEBA, PK--Dinas Perkebunan Kabupaten Lembata bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, sejak akhir Maret sampai April 2008 telah melepas 2.000 ekor predator chilocorus politus untuk memangsa hama kelapa aspidiotus destructor rigidus yang menyerang tanaman kelapa pada lima desa di Kecamatan Wuladoni dan Atadei. Sejak disebarnya predator ini, kondisi tanaman kepala mulai membaik.
"Ada dampak positifnya sejak pelepasan predator pertama tanggal 26-27 Maret 2008. Daun kelapa yang semula kuning perlahan-lahan hijau kembali. Tumbuh pucuk mudah. Namun untuk penyembuhan, pemerintah daerah mengharapkan partisipasi masyarakat supaya menurunkan daun kelapa yang kuning. Langkah ini bisa mengurangi populasi aspidiotus," kata Kepala Sub Dinas Perlindungan Tanaman, Dinas Perkebunan Kabupaten Lembata, Bediona Felix, kepada Pos Kupang, di Lewoleba, pekan lalu. 
Penjelasan tersebut disampaikan Felix menyusul serangan hama kelapa terhadap kebun kelapa milik petani di Desa Atakera dan Leworaja, Kecamatan Wulandoni dan Desa Leba Ata, Doripewut dan Nubahaeraka, Kecamatan Atadei. Hama ini mulai menyerang tanaman pada Juli 2007 dan kondisinya semakin berat pada awal 2008.
Dia mengatakan, serangan berat hama menimpa 5.403 pohon pada lahan seluas 54 ha. Kondisi sangat berat 33.708 pohon di 337,08 ha dan pohon kelapa yang mati akibat hama penyakit ini 5.514 pohon atau seluas 55,14 ha.
Pada tahap pertama tanggal 26-27 Maret 2008 dilepas 1.000 ekor chilocorus dan 23-24 April 2008, bersama Prof. Dr. Ir. FX.Wagiman, SU, dari Lembaga Pengendalian Hayati Fakultas Pertanian UGM, memantau langsung pelepasan 1.000 ekor kumbang tahap kedua. 
Dari 2.000 ekor kumbang itu, dilepas 10 ekor/ha atau sekitar 200 ha tanaman pohon kelapa. Dari total 2.000 ekor kumbang dewasa tersebut, hanya sekitar 10 persen atau 200 ekor kumbang jantan dan sisanya predator betina, akan berkembang biak menjadi banyak. Satu ekor chilocorus, diprediksi bisa memangsa 40 ekor hama aspidiotus/hari atau sekitar 8.000 ekor hama/hari.
Ia menjelaskan, chilocorus betina dewasa yang sudah dilepas ini, setelah seminggu akan bertelur. Seekor induk chilocorus menghasilkan 400 butir telur. "Semua telurnya jadi. Tak ada yang rusak akan berkembang biak lagi. Jumlah kumbang akan bertambah banyak memangsa aspidiotus," kata Felix. 
Felix memperkirakan, setelah 1.000 ekor kumbang dilepas pada Maret lalu, kini berkembang biak sebanyak 1.500 ekor kumbang baru. Setelah chilocorus tersebut dewasa, akan terbang dari pohon ke pohon kelapa memangsa hama kelapa.
Hama aspidiotus atau kutu perisai diduga berasal dari Asia Timur memiliki ciri-ciri bulat, diameter dua milimeter (mm) putih kotor dan menempel pada daun kelapa tua maupun muda. Cara merusak atau menyerang kelapa dengan mengisap zat hijau daun dan cairan kelapa menyebabkan daun kelapa kuning, layu dan kering. Air liur aspidiotus meracuni tanaman kelapa mengakibatkan pertumbuhan kelapa terhenti karena kekurangan tenaga. Akibatnya, pohon kelapa berhenti berbuah, daun rontok, gundul dan mati, batangnya rapuh.
Pohon kelapa telah terserang berat hama aspidiotus biasanya berhenti berbuah. Pengalaman di beberapa tempat, meski telah sembuh kelapa akan berbuah lagi. Dua tahun jika serangan ringan, tiga tahun jika serangan berat dan lima tahun jika serangan sangat berat. Tetapi dengan perangsangan buah, kelapa akan cepat berbuah. (ius)