Humbalorata

   Sumba, Alor, Lembata

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Danlantamal VII Tinjau Sumba dan Sabu
Jaga Perairan Laut dan Pulau Terluar


WAINGAPU, PK-- Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) VII Kupang, Brigjen TNI (Mar) Syaiful Anwar, minta masyarakat di Pulau Sabu dan Pulau Sumba agar bersama-sama menjaga perairan laut dan pulau terluar di wilayah NTT. Hal ini dimaksud agar tidak dicaplok pihak luar, apalagi wilayah NTT berbatasan dengan Australia dan Timor Leste.
Permintaan ini disampaikan Danlantamal VII Kupang ketika melakukan kunjungan perdana ke Pulau Sabu dan Sumba Timur, Selasa (6/5/2008). Danlantamal ke Sabu dalam rangka mengujungi Pos TNI AL di Seba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Kupang, sekaligus bersilaturahmi dengan masyarakat Pulau Sabu. Hal yang sama dilakukannya di Pulau Sumba dengan berkunjung ke Posal di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.
Ikut serta dalam kunjungan, sejumlah perwira di lingkungan Lantamal VII, antara lain Kol Fery Sidjaja (Asisten Intelijen), Kol Iswan Sutiswan (Asisten Operasional), Mayor dr. Saptono (Kadis Kesehatan), Mayor Roly (Perwira Penerangan), Mayor Putu (Perwira Staf Logistik), Kapten Andike (Dan KRI Weling 
822).
Rombongan Danlantamal berangkat dari Kupang, Selasa (6/5/2008), menggunakan KRI Weling, tiba di Dermaga Seba, Selasa siang. Rombongan diterima warga secara adat. Hadir jajaran Muspika Kecamatan Sabu Barat dan sejumlah gadis Sabu mengenakan sarung tenun ikat. Dari dermaga, rombongan diarak ke Pos TNI AL Seba sejauh sekitar 2 km.
Dalam sambutannya, Danlantamal menyampaikan terima kasih kepada warga Sabu atas sambutan meriah. "Ini pengalaman tak terlupakan di pulau bagian dari NKRI ini," kata Danlantamal.
Danlantamal mengingatkan bahwa di Sabu terdapat sebuah pulau terluar tak berpenghuni dan berbatasan langsung dengan Australia, yaitu Pulau Dana. "Kami titipkan pulau ini kepada warga Sabu. Kalau ada info kurang mengenakkan silakan beri tahu kami. Kita awasi pulau ini secara bersama-sama, jangan sampai ada pihak luar (negara lain) yang menguasainya," pintanya.
Ia juga mengungkapkan, kunjungannya ini sekaligus dalam rangka patroli laut untuk mengawasi kapal yang masuk secara ilegal ke laut NTT. "Kalau di sini butuh bantuan TNI AL untuk pengamanan laut, kami siap membantu. Wilayah kerja kami cukup luas selain NTT juga NTB dan Maluku Tenggara (Wetar)," tegasnya.
Camat Sabu Barat, Wempy Imanuel Riwu, S.Ip, menegaskan, walaupun terpencil Sabu bagian dari NKRI. Sekarang Pulau Sabu terdiri dari 6 kecamatan. "Dua tahun lalu masyarakat Sabu sudah ajukan aspirasi melalui DPRD Kabupaten Kupang agar Sabu menjadi daerah otonom (kabupaten). Alasannya, karena Sabu jauh dari jangkauan. Kami tidak mau nasib pulau ini sama dengan Sipadan dan Ligitan yang sudah diambil negara lain (Malaysia)," kata Wempy.
Ia menambahkan, pada bulan September sampai Desember lautan di sekitar Sabu sering terjadi aksi pemboman ikan. Aktivitas ilegal ini sulit ditanggulangi karena Pos AL Sabu kekurangan fasilitas. Karena itu, ia harapkan Danlantamal mengupayakan fasilitas seperti kapal patroli di Sabu.
Dari Sabu rombongan terus ke Waingapu, Sumba Timur. Pada malam harinya Danlantamal berdialog dengan muspida dan pimpinan dinas/instansi di Sumba Timur. 
Danlantamal minta warga Sumba menjaga keamanan laut dan pulau terluar di Sumba, yaitu P Salura dan Mangudu. Pulau-pulau ini rawan karena berbatasan langsung dengan Australia. Ia minta Pemda Sumba Timur menyediakan lahan untuk pembangunan Lanal Waingapu. 
Asisten Tatapraja Sumba Timur, Drs. Samuel Pekulimu, saat memandu dialog di ruang rapat Bupati Sumtim, mengatakan, pemda siap dan sudah menyediakan tanah untuk pembangunan Lanal. Di lokasi itu akan dibangun kantor, perumahan, dermaga, sekolah dan rumah sakit.
Hal ini sekaligus menjawab permintaan Wakil Ketua DPRD Sumtim, Drs. Lukas Kaborang dan Kadis Peternakan, Ir. Robert Gana. Menurut Kaborang, laut di Sumtim sering terjadi pemboman ikan. Akibatnya, kekayaan laut banyak rusak. Supaya kondisi ini tidak makin parah, TNI AL perlu memberikan bantuan pengamanan. 
Sementara Robert Gana berharap TNI AL bisa membantu mengawasi dan mencegah penyelundupan ternak dari Sumba Timur ke luar. (ati/dea)

Pemkab Alor Diminta Dukung Posyandu

KALABAHI, PK--Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Alor diminta mendukung kader posyandu di kelurahannya dalam melaksanakan tugas sosial. Dukungan bisa berupa pemberian insentif kader dan biaya operasional posyandu.
Permintaan itu disampaikan oleh Lurah Kabola, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Rafael Penlaana saat ditemui Pos Kupang di Kabola, Senin (5/5/2008). Ia mengatakan, posyandu di kelurahan tersebut ada lima kelompok dan kelompok posyandu ini berjalan aktif.
Namun, demikian Rafael, para kader posyandu mengalami kendala dalam menjalankan kegiatannya karena sejumlah hal, baik sarana dan prasarana maupun dana insentif dan operasional. Insentif bagi kader yang ada sekitar Rp 25 ribu/tahun padahal tugas kader sangat membantu masyarakat, khususnya bagi ibu dan anak-anak.
Menurut Rafael, masalah ini sering dikeluhkan oleh sejumlah kader di wilayahnya. Namun, lanjutnya,anggaran kelurahan dari pemerintah terbatas untuk posyandu sehingga alokasi yang diberikan untuk posyandu pas-pasan.
Berkaitan itu, Rafael berharap pemerintah kabupaten dapat memperhatikan posyandu diwilayah ini dengan memberikan bantuan memadai sehingga para kader dalam menjalankan tugas tidak menemui kendala dan posyandu lebih aktif.
Dengan perhatian yang ada, Rafael yakin kader akan lebih bersemangat dalam menjalankan tugasnya. "Kegiatan di posyandu tidak sebatas timbang balita namun juga ada pemberian makanan tambahan (PMT). Karena dana operasional terbatas ke posyandu sehingga kegiatan cuma timbang bayi. Namun PMT jarang diberikan," tandasnya.
Namun dia mengaku di kelurahannya tidak ada anak yang bermasalah dengan gizi tapi perlu diantisipasi dengan PMT sehingga anak-anak tetap diperhatikan gizinya. 
Akibat keterbatasan dana, posyandu tidak dapat mengembangkan kegiatan kreatif berupa olah makanan dan lomba lainnya. "Kami harap posyandu bisa mendapat alokasi dana lebih besar dari pemerintah. Masyarakat sangat respon dengan kegiatan posyandu. Apabila ada dukungan dana maka posyandu kegiatannya tidak hanya sebulan sekali namun bisa lebih dari itu," tambahnya.
Rafael berjanji memperjuangkan dalam berbagai forum pembahasan pembangunan agar mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten. "Posyandu cukup efektif bagi ibu-ibu hamil yang secara rutin memeriksakan kesehatan di bidan maupun kader yang ada," tegasnya. (oma)


35 Tahun Lagi Semua Rumah Berlistrik
* Di Kabupaten Sumba Timur

WAINGAPU, PK-- Untuk memenuhi kebutuhan penerangan listrik semua masyarakat di Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) memerlukan waktu 35 tahun lagi. Rentang waktu ini dengan asumsi jika pengadaan energi listrik setiap tahun hanya 20 unit sampai 25 unit pembangkit listrik berkapasitas 5 KW. Jika setiap tahun ada penambahan 71 unit pembangkit listrik berkapasitas 5 KW, maka pengadaan energi lsitrik untuk seluruh warga di kabupaten itu memerlukan waktu 10 tahun lagi.
Kepala Dinas (Kadis) Pertambangan Sumtim, Ir. Umbu Manggana, menyampaikan hal iru ketika ditemui di ruang kerjanya, Selasa (6/5/2008). Ia menjelaskan, kondisi saat ini masyarakat yang menikmati pelayanan listrik di Sumtim, baik yang dilayani PLN maupun secara swadaya baru 24 persen dari total 206.000 penduduk di Sumtim (data tahun 2006). 
Manggana mengatakan, dengan kondisi keuangan daerah saat ini, maka cukup sulit untuk mewujudkan semua rumah tangga di Sumtim berlistrik dalam waktu lima tahun. "Kalau tahun 2006 jumlah penduduk 206 ribu orang, maka 10 tahun ke depan atau tahun 2016 kita prediksikan jumlah penduduk 269 ribu orang. Target kita tahun 2016 seluruh masyarakat Sumtim sudah menikmati listrik. Target itu bisa tercapai jika ada penambahan 71 unit generator kapasitas 5 KW setiap tahun. Namun cukup sulit karena kondisi keuangan daerah," kata Manggana.
Ia menjelaskan, tahun ini penambahan generator yang disetujui 25 unit. "Kalau setiap tahun jumlahnya begini, maka butuh 35 tahun baru semua penduduk di Sumtim bisa menikmati listrik. Dengan asumsi PLN berjalan di tempat atau tidak ada pengembangan listrik dari swasta atau perorangan," tambahnya.
Pemadaman bergilir
Pelayanan listrik PLN di Sumtim terganggu sehingga PLN kembali berlakukan pemadaman bergilir dalam rangka pemeliharaan pembangkit. Menurut Kepala PLN Cabang Sumba, Sarbani Sofyan, yang dihubungi hari Selasa (6/5/2008), pemadaman listrik bergilir dilakukan dalam rangka pemeliharaan pembangkit.
Pemadaman bergilir baru akan berakhir pada bulan depan. "Satu mesin sudah memasuki masa pemeliharaan. Kalau kita paksakan akan lebih parah. Tiga hari lagi perlatan sudah sampai dan pasokan listrik akan kembali normal," kata Sarbani 
Sementara masyarakat menginginkan jika ada pemadaman bergilir sebaiknya didahului pemberitahuan melalui radio agar pelanggan bisa antisipasi. 
Terkait informasi ini, Sarbani mengaku ia sudah instruksikan karyawan yang bertugas di bidang humas. "Saya selalu instruksikan petugas agar disampaikan melalui radio. Mungkin petugasnya lupa," katanya. (dea)


Buruk, Proyek Jalan di Kabola

KALABAHI, PK-- Lurah Kabola, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Rafael Penlaana meras kesal terhadap pengerjaan jalan pada ruas jalan Selamat Jalan-Mali di wilayah Kelurahan Kabola. Pasalnya, pekerjaan yang dikelola pemerintah ini hanya menambal jalan berlubang. Sedangkan kondisi jalan di pintu gerbang masuk Kota Kalabahi ini rusak parah karena kondisi aspal keropos. Kondisi ini tidak nyaman lagi bagi pengguna jalan.
Rafael Penlaana, kepada Pos Kupang di Kabola, Selasa (5/5/2008) mengungkapkan, pihaknya merasa kesal dengan pekerjaan perbaikan jalan di wilayahnya itu karena dilakukan dengan sistem tambal. Pola seperti ini hampir setiap tahun dilakukan pemerintah pada ruas jalan di wilayah ini.
Padahal, kata Rafael, kondisi jalan yang ada sudah rusak parah. "Pemerintah mestinya merencanakan melakukan pekerjaan perbaikan jalan tersebut secara permanen. Tetapi yang terjadi cuma tambal sehingga tidak heran kondisi jalan tersebut eslalu rusak," katanya.
Menurut Rafael, pekerjaan aspal dengan volume besar terjadi jika ada pejabat dari pusat atau propinsi yang mau datang ke Alor. Misalnya, tahun 2004 presiden dan wapres serta petinggi negara lainnya datang ke Alor, Begitu juga ada informasi pejabat propinsi mau datang ke Alor sehingga dilakukan pengaspalan jalan pada lokasi-lokasi tertentu.
Cara kerja seperti ini, tegas Rafael, membuat masyarakat kecewa. Padahal, wilayah Kabola disebut-sebut sebagai pintu gerbang masuk Kota Kalabahi, Ibukota Kabupaten Alor karena Mali-Kabola ada Bandara Mali. Wilayah Kabola juga sebagai daerah wisata. "Kalau pintu gerbang maka kita harus menata dengan baik, jalan harus mulus namun yang terjadi ruas jalan cukup memprihatinkan," tambahnya. 
Dia mengaku belum cek pekerjaan sistem tambal sulam ini dikelola instansi mana. "Tapi kerja seperti ini cukup mengecewakan," tegasnya. (oma)