O  p  i  n  i

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kita dan Malaria

Oleh : Dr. Hyronimus A Fernandez, dr, M.Kes

Dosen Luar Biasa FKM Undana, Health Policy Consultant, 
anggota Dewan Riset Daerah, tinggal di Kupang


KITA sudah sangat akrab dengan malaria tanpa menyadari daya rusak penyakit ini terhadap sistem kehidupan dalam tubuh manusia, terhadap investasi kemanusiaan yang kita lakukan melalui pemeliharaan kesehatan dan penyelenggaraan pendidikan dan semua yang kita lakukan demi peningkatan kesejahteraan dan mutu kehidupan. Malaria menggerogoti secara pasti, mulai dari sistem kehidupan terkecil, sel tubuh sampai seluruh bagian tubuh manusia sejak dalam kandungan, bayi, balita, anak, remaja, dewasa dan tua renta. Semua menjadi sasaran malaria. Bahkan malaria dapat menggerogoti sistem kehidupan masyarakat bangsa. Kesadaran untuk pemberantasan malaria walau selalu mengalami pasang dan surut, namun tetap perlu didengungkan dan dilanjutkan dengan aksi-aksi lokal untuk mencegah ketidaknyamanan individual dan keluarga, mencegah semakin merosotnya kualitas sumber daya manusia dan perekonomian daerah serta kerusakan yang masif akibat malaria. Untuk melanjutkan usaha ini kejernihan budi, komitmen politik, pilihan strategi, dan ketangguhan pelaksanaan serta partisipasi semua pemangku kepentingan adalah jalan yang harus ditempuh. 
Malaria adalah penyakit infeksi parasit terpenting di dunia yang di banyak negara tropis sudah menjadi penyakit 'langganan' bagi masyarakat. Sedemikian akrabnya penyakit ini sehingga orang dapat dengan mudah menentukan diagnosis malaria untuk dirinya atau orang lain hanya dengan merasakan atau mengamati gejalanya saja. Jika ada sedikit demam dengan sakit kepala apalagi disertai dengan mual orang cenderung sudah langsung divonis kena malaria. Padahal kepastian seseorang menderita malaria hanya diketahui jika ditemukan parasit atau jejak parasit penyebabnya di dalam darah melalui pemeriksaan laboratorium. 
Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk betina yang mengandung parasit malaria yang disebut plasmodium. Pada saat nyamuk betina pembawa plasmodium menggigit ('menghisap') darah manusia yang dia perlukan sebagai makanan untuk telurnya, plasmodium dipindahkan ke dalam tubuh manusia, memasuki sistem peredaran darah, berkembang-biak di dalam sel darah merah, dan kemudian menghancurkan sel-sel darah merah yang menjadi tempatnya berkembang biak. 
Nah, di sini letak daya rusak penyakit ini terhadap manusia. Plasmodium menghancurkan alat pengangkutan oksigen yang sangat penting untuk kehidupan semua sel di semua jaringan dan organ tubuh kita. Pelan tetapi pasti, secara periodik, fungsi pengangkutan oksigen yang diemban oleh sel-sel darah merah dalam tubuh kita dilumpuhkan. Periodisitas penghancurannya ditandai dengan timbulnya gejala demam yang periodik; ada yang berselang satu-dua hari (malaria tropika), tiga hari (tertiana), atau empat hari (quartana) tergantung dari jenis plasmodium. 
Dampaknya terhadap kehidupan, baik pada tingkat selular, jaringan, organ tubuh dan tubuh manusia seluruhnya jelas tampak pada rendahnya kualitas berbagai tingkat kehidupan tersebut. Bahkan perbedaan kualitas terlihat kasat mata dalam populasi pengidap endemik dan bukan pengidap endemik malaria!
Terdapat di lebih dari 100 negara, malaria menjangkiti 40 % populasi dunia dengan berbagai tingkat keparahan/endemisitas. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat 300-500 juta kasus terjadi dalam setahun dengan 120 juta di antaranya kasus baru. Malaria menyebabkan 3 juta kematian/tahun (1 setiap 12 detik, 5 setiap satu menit, 300 setiap jam), 1/3 yang mati adalah anak-anak.
Di Indonesia sejumlah 15 juta penderita malaria ditemukan setiap tahun dan sekitar 30.000 di antaranya meninggal, dengan proporsi 11 kematian pada laki-laki dan 8 kematian pada wanita setiap 100.000 penduduk (Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional, 2001). Beruntung yang meninggal karena yang tidak meninggal akan menjalani sisa hidup dengan tingkat kualitas yang rendah dan terbanyak di antara mereka terdapat di kawasan timur Indonesia, termasuk di NTT yang semua kabupaten/kota-nya adalah daerah high incidence area. Tidak heran jika malaria selalu bergantian dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dilaporkan setiap tahun dari setiap kabupaten selama berpuluh-puluh tahun sampai sekarang, sebagai penyakit infeksi tertinggi pertama atau kedua di seluruh kabupaten/kota di NTT.
Dengan jumlah kasus rata-rata sebanyak 15 juta per tahun, maka kerugian ekonomis akibat malaria karena hilangnya hari produktif dan biaya pengobatan di Indonesia setiap tahun mencapai Rp 8,175 triliun dengan pengobatan menggunakan chloroquine atau mencapai Rp 11,850 triliun/tahun dengan pengobatan artesunat.
Di Nusa Tenggara Timur kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat penyakit malaria berdasarkan data penyakit yang dilaporkan dari seluruh kabupaten/kota dalam jangka waktu sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2007 atau 8 (delapan) tahun mencapai Rp 2.627.636.778.905,00 atau rata-rata Rp 476,1 miliar/tahun dengan pengobatan menggunakan chloroquine atau mencapai kerugian total sebesar Rp 3.808.687.990.730,00 atau sekitar Rp 3,8 atau rata-rata Rp 376,1 miliar/tahun dengan terapi menggunakan obat artesunat!
Kesadaran untuk berupaya untuk memberantas malaria di Indonesia bukan hal baru. Bapak-bapak bangsa yang kebetulan berasal dari kalangan "dokter jawa" menyadari betul hal ini ketika memulai pergerakan kebangsaan Boedi Oetomo. Penderitaan masyarakat akibat malaria dan berbagai penyakit infeksi (terutama patek/puru/frambusia/jaws) pada saat itu yang sedemikian memilukan, mendorong semangat kebangkitan untuk melawan berbagai penderitaan rakyat yang terekam dalam sanubarinya melalui perjuangan yang terorganisasi dengan baik.
Di zaman kemerdekaan, kesadaran pentingnya memberantas malaria ditunjukkan oleh Presiden Soekarno ketika malaria masih menjadi momok di Jawa. Pencanangan pemberantasan malaria diadakan dengan dilakukannya penyemprotan obat pemberantasan nyamuk malaria (DDT) oleh Presiden Soekarno di Slemen, Yogyakarta pada tanggal 12 November 1962. Tanggal yang kemudian kita peringati sebagai Hari Kesehatan Nasional. 
Malaria kemudian seolah hilang dari Indonesia setelah sebagian terbesar penduduknya yaitu di Jawa dan Bali sudah terbebaskan dari penyakit ini. Namun tidak untuk daerah luar Jawa dan Bali. Sampai-sampai Menteri Kesehatan dalam ketetapan tahun 1982 tentang SKN merasa perlu menyebutkan secara spesifik suatu target pemberantasan malaria untuk daerah-daerah di luar Jawa dan Bali! Dalam perjalanan waktu, dengan penanganan setengah-hati, target itu tidak pernah tercapai, malaria semakin nyata menimbulkan masalah kesenjangan sosial, kemiskinan dan menjurus ke politik. Daerah Indonesia timur yang paling tidak merasakan manfaat pencanangan pemberantasan malaria oleh presiden pertama. Produktivitas daerah rendah, daya saing manusianya lemah dan hampir selalu 'kalah' dan menimbulkan kecemburuan sosial-politik. 
Dalam euforia reformasi dan desentralisasi politik masalah ini dapat mengancam keutuhan hidup berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, pada awal desentralisasi Menteri Kesehatan RI mencoba mengingatkan kita dengan sekali lagi mengangkat masalah malaria yang ditandai dengan pencanangan Gerakan Berantas Kembali Malaria (GEBRAK MALARIA) pada tanggal 8 April 2000 di Propinsi NTT.
Tingginya angka kesakitan dan kematian karena malaria di dunia dan berbagai kerugian sosial ekonomi bagi umat manusia di satu sisi serta rendahnya kesadaran global terhadap malaria di sisi yang lain, mendorong dibuatnya keputusan dalam pertemuan World Health Assembly (WHA) tanggal 23 Mei 2007 di Geneva yang dihadiri wakil 192 negara anggota WHO, untuk menyelenggarakan Hari Malaria Sedunia setiap tanggal 25 April terutama bagi Negara-negara yang endemis malaria.
Tiga komponen perlu mendapat perhatian dalam setiap upaya pemberantasan malaria: plasmodium dalam tubuh penderita, plasmodium yang berada dalam tubuh nyamuk betina, dan lingkungan tempat interaksi antara plasmodium-manusia-nyamuk betina yang dikenal sebagai dinamika penularan malaria. 
Berangkat dari pemikiran ini, maka upaya yang esensial adalah pertama (1) menemukan kasus malaria melalui penemuan plasmodium atau jejak plasmodium dalam darah melalui pemeriksaan darah dan pengobatan segera; cara ini telah banyak dilakukan secara teknis medis dan menggunakan sumber daya (baca: biaya) yang tidak sedikit karena selalu mengikuti kemajuan teknologi diagnostik dan terapetik yang terus berkembang. Kedua (2) dengan mengendalikan larva dan nyamuk penular malaria. Pada masa lalu ketika DDT masih dipakai secara luas, cara ini cukup efektif walaupun mahal. Namun karena dampak penggunaan DDT terhadap kesehatan manusia melebihi manfaat yang diperoleh, maka cara ini sudah ditinggalkan. Cara ketiga (3) ialah menghindari gigitan nyamuk pembawa malaria. Cara ini dapat dilakukan pertama-tama dengan mengenali tempat dan waktu saat nyamuk menggigit yang tergantung dari perilaku nyamuk dan perilaku manusianya. Interaksi vector-host ini di berbagai ekosistem berbeda-beda. Oleh karena itu upaya pemberantasan malaria sangat bervariasi karena bervariasinya dinamika penularan. Hal yang sama menjadi alasan pemberantasan malaria melalui vaksinasi tidak cost-effective. Orang tidak mau menginvestasi modal untuk menemukan vaksin malaria yang hanya memberikan kekebalan bagi penduduk dari ekosistem Pulau Semau atau ekosistem Molo Selatan misalnya. Cara ke empat (4) melalui regulasi. Dengan menyadari bahwa perilaku manusia dan perilaku nyamuk dalam batas tertentu dapat dikendalikan, maka regulasi atas berbagai aktivitas semua pihak yang berkepentingan terhadap bertambah atau berkurangnya populasi nyamuk di suatu lokasi dapat dilakukan, misalnya melalui peraturan daerah atau peraturan desa.
Kemarin, tanggal 7 Mei 2008, untuk memperingati Hari Malaria Pertama se-Dunia yang jatuh pada tanggal 25 April yang lalu, di Istana Negara Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bersama semua pimpinan wilayah yang bermasalah dengan malaria yang kebanyakan berasal dari Indonesia Bagian Timur termasuk semua Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan kabupaten/kota di NTT mencanangkan (sekali lagi!) upaya memberantas malaria dengan tema nasional: "Ayo Berantas Malaria!" dan tema Global "Malaria - a disease without borders". Ke Istana Negara untuk 'merayakan ' hari Malaria se-dunia atau sesungguhnya merefleksikan keprihatinan kita akan korban yang masih terus meregang nyawa akibat malaria? Apakah mereka itu yang jumlahnya adalah dua-puluh lima jiwa (kalau anda menyelesaikan membaca artikel ini selama 5 menit) bisa dikatakan beruntung karena seleksi alam? *


 

Artikel yang dikirim ke redaksi tidak lebih dari 1000 kata. Artikel bisa dikirim melalui email ke poskpg_opini@yahoo.com, bisa juga melalui pos. Artikel dalam bentuk ketikan, hendaknya ditik dengan spasi rangkap. Setiap penulis hendaknya menyertakan biodata secukupnya dan foto diri terbaru.