Pro Bisnis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tiga Kabupaten Kekurangan Pangan

"Ini hasil deteksi dini yang kami lakukan. Kami berharap pemerintah kabupaten proaktif mengatasi persoalan ini." 
--- Drs. Petrus Langoday ---

KUPANG, PK -- Tiga kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diperkirakan akan mengalami kekurangan pangan dalam tahun 2008 ini, yakni Kabupaten Lembata, Rote Ndao dan Alor.
Kepada Badan Bimas dan Ketahanan Pangan NTT, Drs. Petrus Langoday mengatakan hal tersebut kepada Pos Kupang, baru- baru ini. "Di tiga kabupaten ini, warga akan mengalami kekurangan pangan," tutur Langoday.
Dikatakannya, prediksi kekurangan pangan tersebut memang agak kontras dengan kondisi NTT pada musim hujan yang lalu. Soalnya hari hujan relatif banyak dan tingkat curah hujan di atas normal.
Akan tetapi, lanjut dia, pada musim tanam tahun ini, ada beberapa daerah yang justeru mengalami musibah seperti tanaman mereka disapu banjir, angin dan hama. Selain itu, sebagian daerah juga mengalami kekeringan.
Berdasarkan laporan dari lapangan, lanjut Langoday, di Kabupaten Rote Ndao, ada tiga desa yang diprediksi akan mengalami krisis pangan cukup hebat. Sebanyak 173 rumah tangga dengan 826 jiwa akan menderita kekurangan pangan.
Di Kabupaten Lembata, katanya, krisis pangan itu bakal menimpa 49 desa. Jumlah penduduk yang akan menderita karena kondisi itu tercatat 3.262 rumah tangga dengan 9.786 jiwa.
Sedangkan di Kabupaten Alor, ungkap Langoday, krisis pangan itu masuk kategori sedang. Ada 11 desa dengan 1.502 rumah tangga dan 4.446 jiwa diidentifikasi berkemungkinan didera persoalan pangan.
"Data ini merupakan hasil dari deteksi dini yang kami lakukan. Kami sangat berharap agar pemerintah kabupaten lebih proaktif dalam mengatasi persoalan ini," ujar Langoday. 
LUEP Bantu Masyarakat
Pada bagian lain dia menyebutkan, sebagai salah satu upaya membantu masyarakat mengatasi persoalan yang bakal dihadapinya, ia telah meminta pengelola lembaga usaha ekonomi pedesaan (LUEP) membantu masyarakat dengan membeli hasil panenan petani.
Pembelian hasil pertanian itu mengacu pada Inpres No 1/2008 tertanggal 22 April 2008. Dalam inpres itu ditetapkan bahwa harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Rp 2.200,00/kg dan Rp 2.450,00/kg di tingkat penggiling.
Berikutnya HPP untuk gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan Rp 2.800,00/kg dan harga beras di gudang Rp 4.300,00/kg. Standar harga ini harus dipatuhi oleh pengelola LUEP agar membawa manfaat bagi masyarakat petani. (kro)



Harga BBM Naik Picu Inflasi

JAKARTA, PK -- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kali ini, akan memicu laju inflasi terutama pada bulan saat kenaikan itu dilaksanakan. Dari hitungan yang dilakukan, kenaikan BBM 30 persen itu memicu tambahan inflasi bulanan sekitar 2,7 persen.
"Memang kenaikan harga BBM akan memicu inflasi. Tetapi kami akan mencari hitung-hitungan yang paling rendah," kata Menkeu Sri Mulyani Indrawati, di Jakarta, Rabu (7/5/2008) malam.
Menkeu menyebutkan, saat kenaikan BBM pada 2005, inflasi year on year (tahunan) pada bulan bersangkutan mencapai 8,8 persen, inflasi selanjutnya 8,12 persen, dan 8,04 persen. Sedangkan inflasi bulanan pada bulan saat kenaikan BBM itu, tercatat tambahan 1,91 persen dan dua bulan berikutnya masing-masing 0,34 persen dan 0,21 persen.
"Tapi situasi 2008 berbeda karena ada tambahan juga dari kenaikan harga pangan, inflasi kemungkinan bisa lebih tinggi. Hitungan kita untuk month to month pada bulan bersangkutan dengan kenaikan harga BBM 30 persen, tambahannya 2,7 persen, dan bulan-bulan selanjutnya 0,4 persen dan 0,35 persen," kata Menkeu.
Pemerintah bersama BI, lanjut Sri, akan terus memantau perkembangan inflasi di dalam negeri. Saat ini inflasi regional rata-rata di atas 8 persen, bahkan ada negara seperti Filipina, mendekati 9 persen.
Menkeu mengatakan, dengan melihat sisi kemampuan pemerintah, kenaikan harga BBM sebesar 20 hingga 30 persen masih bisa diserap masyarakat dan dunia usaha. Dengan demikian, APBN bisa menjalankan fungsinya dengan baik.
"Pemerintah mengamankan APBN karena untuk mengamankan lapisan masyarakat khususnya yang terbawah diperlukan APBN yang sehat. Kita tidak mungkin dapat melindungi masyarakat jika APBN kita tidak sehat," kata Menkeu. (ant)


Beras Naik 15.000,00/kg

HARGA beras di pasar Kota Kupang saat ini melonjak cukup tajam. Beras cap nona kupang, misalnya, kalau pekan sebelumnya Rp 184.500,00/karung 40 kg, saat ini naik menjadi 195.000,00.
Sedangkan beras cap dewi sri yang sebelumnya Rp 180.000,00/karung 40 kg, saat ini naik menjadi Rp 192.500,00 - Rp 195.000,00. "Harga beras saat ini naik. Selain itu, tepung terigu dan minyak goreng bimoli juga naik," ujar Tammase, salah seorang pedagang di pasar Kasih, Naikoten I Kupang, Kamis (8/5/2008) siang.
Menurut dia, kenaikan harga beras saat ini kemungkinan besar terus terjadi pada hari-hari mendatang. Sebab harga beras di tingkat petani juga sudah naik. Belum lagi ditambah ongkos transportasi dan lain sebagainya.
Tammase mengatakan, sebagai pedagang, pihaknya terpaksa menaikkan harga bahan kebutuhan pokok tersebut. Pasalnya, semua aspek terkait pengadaan bahan pangan itu rata-rata sudah meningkat.
Pantauan Pos Kupang di pasar-pasar di Kota Kupang, harga beras sudah naik paling tinggi Rp 15.000,00/karung 40 kg. Sedangkan beras yang dijual eceran, kenaikannya bervariasi mulai dari Rp 300/kg - Rp 1.500,00/kg. (kro)


Australia Bantu pasarkan Jeruk Keprok SoE

SoE, PK -- Cita rasa jeruk keprok SoE yang menjadi buah primadona dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) membuat Pemerintah Australia kepincut. Bekerjasama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Naibonat Kupang, Australia berencana membantu memasarkan jeruk keprok SoE keluar NTT. 
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten TTS, Ir. Gede Witadharma, M.M mengatakan hal itu saat ditemui di SoE, Kamis (8/5/2008) pagi. Australia ikut membantu pemasaran, lantaran melihat jeruk keprok SoE merupakan satu-satunya jeruk di Indonesia yang mampu menyaingi jeruk impor.
"Australia melihat kualitas jeruk keprok SoE memiliki keunggulan dan prospek yang bagus. Untuk itulah, saat ini Australia bekerjasama dengan Litbang BPTP Naibonat dan Litbang Tlekung Malang amelakukan survai model jeruk seperti apa yang laku di pasaran," ujar Gede. 
Menurut dia, model jeruk itu yakni ukuran buah dan jumlah produktivitas yang laku di pasaran nasional dan internasional. Melalui survai itu diharapkan jeruk yang dijual nanti akan laku keras di pasaran. 
Melalui survai itu juga, lanjut Gede, petani akan mendapatkan gambaran bagaimana membudidayakan jeruk keprok SoE. Tak hanya itu, tim juga akan merangkul para pengepul jeruk dan pihak ketiga sebagai penyuplai jeruk ke berbagai wilayah. 
Tentang tahapan yang sudah dilalui tim Australia dan Libtang, Gede mengemukakan, tim sudah bertemu para petani jeruk di Desa Ajobaki, Kecamatan Mollo Utara. Dalam pertemuan itu, petani menyatakan sanggup memenuhi permintaan jeruk keprok SoE di pasaran. 
Sebagai gambaran, demikian Gede, tahun lalu produktifitas jeruk keprok SoE mencapai 12.000-an ton. Jumlah itu merupakan akumulasi produksi jeruk dari berbagai kecamatan di Kabupaten TTS. 
Saat ini, katanya, potensi pengembangan jeruk keprok SoE di daerah itu masih terbuka lebar. Pasalnya, jeruk keprok SoE itu dapat tumbuh dan berbuah di seluruh wilayah TTS. "Tidak hanya di wilayah Mollo saja, Amanuban dan Amanatun juga bisa dibudidayakan jeruk keprok SoE," urainya.
Gede menuturkan untuk memacu masyarakat mengembangkan jeruk keprok SoE, dinas pertanian setempat telah membuat kebun jeruk keprok SoE percontohan. Kebun itu berlokasi di wilayah Oof, Pika, Noenbila dan Tetaf, Kecamatan Amanuban Barat. (aly)