| Berita Utama
2

|
Harga Bensin Rp 20.000/Botol
LABUAN BAJO, PK -- Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) selama lima hari terakhir di Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat (Barat) mengakibatkan harga premium (bensin) meningkat tajam. Pada Kamis (8/5/2008), harga bensin yang dijual dalam kemasan botol bekas air mineral ukuran 1.500 mililiter, sudah mencapai Rp 20.000/botol.
Informasi yang diperoleh Pos Kupang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Haji Jafar Ali Rawi dan Premium Solar Packed Dealer (PSPD) Prundi, kemarin siang, menyebutkan, kelangkaan sudah terjadi sejak hari Minggu (4/5/2008). Kelangkaan itu akibat belum masuknya kapal tanker yang mengangkut BBM melalui depot pertamina Reo. Kemungkinan kapal tanker pengangkut BBM baru merapat di Reo pada tanggal 9 atau 10 Mei 2008.
Di dua SPBU itu, antrean kendaraan mengisi BBM terlihat sejak Rabu (7/5/20080. Bahkan sampai Kamis (8/5/2008), stok premium di SPBU Haji Jafar habis sama sekali. Aktivitas sepeda motor ojek mulai sepi karena kehabisan bahan bakar. PLN setempat pun mulai memberlakukan pemadaman bergilir.
Dengan kondisi itu, para penjual bensin eceran mulai menaikkan harga. Bensin yang biasanya dijual dalam kemasan botol bekas air mineral ukuran 600 mililiter (ml) dijual seharga Rp 5.000/botol. Sedangkan bensin yang diisi dalam kemasan botol bekas air mineral ukuran 1500 ml, yang biasanya dijual Rp 10.000/botol, kini dijual seharga Rp 20.000/botol.
Esi Kurnia, penjual bensin eceran, mengatakan, kenaikan harga bensin dilakukan karena persediaan sudah sangat terbatas.
Beberapa tukang ojek yang ditemui terpisah, mengeluh karena tidak bisa beroperasi. "Sudah dua hari saya cari bensin, hanya dapat sedikit. Sebentar lagi saya tidak bisa cari penumpang lagi karena bensin tidak ada," keluh Ahmad, tukang ojek di Labuan Bajo.
Di Belu dan TTU
Dari Atambua, Kabupaten Belu dilaporkan, penyidik Polres Belu dan Kejari Atambua diminta untuk menyelidiki terjadinya kelangkaan BBM jenis solar di Atambua yang sudah berlangsung selama dua pekan. Penyelidikan guna mencari tahu kemungkinan ada pihak-pihak tertentu yang melakukan penimbunan BBM terkait rencana pemerintah yang akan menaikkan harga BBM.
Anggota DPRD Belu, Cyprianus Temu mengatakan itu menjawab Pos Kupang di Atambua, Kamis (8/5/2008). Temu mengatakan bahwa kelangkaan solar sangat berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Pemkab Belu, katanya, harus segera memanggil pihak pertamina untuk dimintai penjelasannya terkait kelangkaan itu.
"Kalau kelangkaan ini dibiarkan terus, jelas aktivitas akan lumpuh. Saya minta polisi dan jaksa segera turun tangan," katanya.
Pantauan Pos Kupang, kemarin, di tiga SPBU di Atambua, yakni SPBU Simpang Lima, SPBU Motabuik dan SPBU Sesekoe, antrean kendaraan makin panjang. Warga dari berbagai wilayah juga sudah mulai "menyerbu" SPBU untuk mendapatkan BBM. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, aparat dari lantas Polres Belu disiagakan di setiap SPBU.
Kelangkaan solar juga terjadi di Kefamenanu, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Sejak Rabu (7/5/2008) hingga Kamis (8/5/2008), banyak truk dan bus antre di dua SPBU di Kefamenanu.
"Kami tidak tahu kenapa. Pasokan solar didatangkan dari Depot Pertamina Atapupu, di Kabupaten Belu. Di Atambua juga solar sangat susah," kata petugas SPBU Naesleu, kemarin.
Dikatakan, permintaan untuk kebutuhan normal biasanya 15 ton/hari. "Tapi kami cuma diladeni 5 ton atau hanya satu truk tanki solar yang datang. Kalau 5 ton solar, dalam waktu dua jam saja sudah habis," katanya.
Epy Magang, sopir truk dari Kupang, mengaku heran dengan kondisi kelangkaan di Kefa. "Di Kupang dan SoE, solar tidak langka. Anehnya di Kefamenanu dan Atambua solar tidak ada. Bukan saya curiga, tapi aneh sekali kalau solar kok habis di daerah yang berbatasan langsung dengan Timor Leste," katanya.
Selus Afoan, sopir bus, menuduh ada mafia yang beraksi untuk menyelundupkan solar ke Timor Leste. Dia meminta aparat keamanan memberantas kegiatan penyelundupan BBM di daerah perbatasan yang diduga dibekingi aparat keamanan.
Sebagaimana pantauan Pos Kupang, kemarin pagi, di SPBU depan Gereja Petra di Kilometer 4, bus dan truk antri seperti ular raksasa hingga depan Toko Sinar Oematan. Sedangkan di SPBU Naesleu, kendaraan antri hingga depan Toko Kraton.
Di Alor dan Lembata
Informasi mengenai rencana pemerintah menaikkan harga BBM langsung membuat warga Kalabagi di Alor langsung bereaksi. Di SPBU Tombang di Kalabahi, misalnya, dalam dua hari terakhir terjadi peningkatan pembelian BBM, khususnya bensin.
Di SPBU Tombang, kemarin, terjadi peningkatan pembelian BBM jenis bensin oleh masyarakat. Selain kendaraan, cukup banyak warga yang datang membeli bensin menggunakan jerigen. Akibatnya penjualan bensin di SPBU itu ditutup lebih awal karena kehabisan stok.
Salah seorang petugas SPBU tersebut mengatakan, peningkatan pembelian bensin terjadi karena beredarnya berita mengenai kenaikan harga BBM. "Jadi masyarakat berpikir, lebih baik beli memang saat harga masih belum naik," katanya.
Sementara penjual bensin eceran pun mengurangi volume bensin yang dijual dalam botol bekas kemasan air mineral. Meski isinya berkurang, harga besin masih tetap sama seperti sebelumnya, yakni Rp 5.000/botol.
Kepala Depot Pertamina Kalabahi, Purwoto melalui Asisten Keuangan di depot tersebut, Abdul Kadir Tido menegaskan, harga BBM belum naik. Dia meminta masyarakat jangan panik dan penjual jangan menaikkan harga. Menurut Tido, stok BBM di Alor masih cukup sehingga masyarakat tidak perlu resah. Sampai kemarin, stok bensin masih 240 KL yang dapat bertahan hingga tanggal 23 Mei nanti. Sementara solar masih 318 KL yang dapat bertahan sampai 26 Mei, dan minyak tanah stok yang ada masih 493 KL yang dapat bertahan hingga 32 hari ke depan.
Dari Lewoleba dilaporkan, selama dua hari belakangan, Rabu dan Kamis (7-8/5), tak tampak antrian kendaraan roda empat dan dua mengisi premium dan solar pada Agen Pembelian Minyak Solar (APMS) di Jalan Trans Lembata. Sementara pedagang eceran premium dan solar yang biasanya antri di depan loket pembelian juga tak terlihat.
Harga premium eceran yang dijual pedagang kaki lima di hampir semua lokasi di pusat kota dan pinggiran kota, bervariasi antara Rp 5.500/liter-Rp 6.000/liter.
(yel/yon/ade/oma/ius)
|