
| Berita Utama
1
|
KM Melati Sejahtera Tenggelam LABUAN BAJO, PK -- Kapal Motor (KM) Melati Sejahtera asal Jeneponto, Sulawesi Selatan, tenggelam di Selat Linta, perairan Pulau Serai antara Pulau Padar dan Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat, Sabtu (10/5/2008) sekitar pukul 22.00 Wita. Salah seorang anak buah kapal (ABK) itu, Haji Hero belum ditemukan, sedangkan 11 ABK lainnya berhasil menyelamatkan diri. Informasi yang diperoleh Pos Kupang di Pelabuhan Laut Labuan Bajo, Minggu (11/5/2008) siang, menyebutkan, kapal motor tersebut bertolak dari Waingapu, Kabupaten Sumba Timur hendak ke Jeneponto, Sulawesi Selatan. Kapal bertonase sekitar 25 GT itu bertolak hari Sabtu (10/5/2008) pukul 08.00 Wita. Kapal tersebut membawa 30 ekor kuda Sumba dan 10 ekor kerbau bersama 12 orang ABK. Dari sejak berangkat sampai malam hari, cuaca di laut cukup baik. Namun pada malam sekitar sekitar pukul 22.00 Wita, kapal dihadang arus deras dan gelombang laut yang tinggi. Akibat tidak mampu menahan hantaman gelombang, kapal naas itu tenggelam. Para ABK berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Tiga ABK, yakni Sawala, Bahrudian dan Iwan berhasil tiba di Pulau Papagarang dan ditolong nelayan setempat. Pada hari Minggu, kemarin, delapan orang ABK kembali ditemukan nelaya dan dievakuasi ke Pulau Papagarang. Kepala Pelabuhan Laut Labuan Bajo, Pariman, yang ditemui di kantornya, kemarin, memperkirakan, kapal naas itu tenggelam karena bertemu arus balik atau arus surut yang keras di Selat Linta. "Saya sendiri setelah mendengar informasi ada kapal yang tenggelam di Selat Linta, maka saya bersama KP3 Laut yang dipimpin Aiptu Nur Menge dan dua orang anggotanya langsung terjun ke lokasi. Kami sulit untuk tempuh ke lokasi sebab arusnya cukup kuat, ditambah gelombang," tutur Pariman. Dia menjelaskan, kapal tersebut adalah kapal yang selalu mengangkut ternak besar dari NTT terutama dari wilayah Sumba dan Flores untuk dibawa ke Jeneponto. "Setelah ada tiga orang selamat, ada juga kemudian menyusul tujuh orang lagi yang dievakuasi oleh kapal wisatawan. Sedangkan satu ABK lainnya ditemukan oleh nelayan yang kemudian dibawa ke Pulau Papagarang," katanya. Juragan Kapal Melati Sejahtera, Isdar saat ditemui Pos Kupang, mengatakan, saat bertolak dari Waingapu cuaca bersahabat dan tidak ada tanda-tanda cuaca buruk. "Saya juga tidak tahu kenapa bisa terjadi musibah ini," kata Isdar (yel) "Saya Sial Dua Kali" MENGENAKAN bajo kaos putih yang bertuliskan DPD PAN Selayar dipadu celana panjang biru, Juragan KM Melati Sejahtera, Isdar, terlihat sangat terpukul dan tidak tenang ketika turun dari speed boat yang membawanya ke Labuan Bajo, Mingu (11/5/2008). Di atas perahu cepat itu ada Kepala Pelabuhan Laut Labuan Bajo, Pariman, dan KP3 Laut, Aiptu Nur Menge, Briptu Aloysius dan Bripda Sanjaya. Danramil Labuan Bajo, Lettu Soimun terlihat menjemput rombongan kecil itu menuju kantor syahbandar setempat. Dengan mata yang agak memerah akibat bertarung dengan arus dan gelombang selama dua jam di laut, Isdar belum bisa diganggu karena masih trauma. Ketika tiba di kantor pelabuhan, Isdar langsung mencari keluarga yang ada di Labuan Bajo. Siapa menyangka kapal bisa tenggelam akibat dihadang arus di saat musim yang tidak mengkhawatirkan, saat ini? Tapi i KM Melati Sejahtera yang berlayar selama 14 jam sejak lepas jangkar dari Waingapu, justeru mengalami musibah itu. Bertemu arus balik (arus pasang surut) yang deras dan gelombang tinggi, kapal naas itu tenggelam bersama seluruh muatan dan ABK-nya. Nakhoda KM Melati Sejahtera, Isdar menuturkan, setelah kapal tenggelam dia dan semua ABK berenang menyelamatkan diri. Dia sendiri bertarung melawan arus dan gelombang selama dua jam hingga berhasil mencapai tepi pantai Pulau Papagarang. Dia mengisahkan, pada hari Sabtu ( 10/5/2008 ) sekitar pukul 08.00 kapal yang dinahkodainya itu lepas jangkar dari Waingapu hendakke Jeneponto dengan mengangkut 38 ekor kuda dan 10 ekor kerbau. "Ketika mulai berlayar, lautnya baik dan aman. Biasa-biasa saja, namun pada malam hari kami bertemu arus dan gelombang yang cukup tinggi sehingga kapal kami tenggelam," kata Isdar. Kisah yang cukup menjadi trauma bagi Isdar adalah karena musibah yang dialaminya itu adalah yang kedua kalinya dengan tujuan pelayaran yang sama. Pada bulan Februari 2008 lalu, Isdar juga mengemudikan sebuah kapal motor yang mengangkut 40-an ekor kerbau dari Waingapu ke Jeneponto. Kapal yang tenggelam beberapa bulan lalu itu, dengan KM Melati Sejahtera pemiliknya sama atau satu saudagar. Kini, Isdar mengaku tidak tahu bagaimana harus menyampaikan musibah ini ke saudagarnya. Sebab sudah dua kali kapal yang dinahkodainya tenggelam. Dia menuturkan, sesaat sebelum kapal itu tenggelam, pelayaran baik-baik saja. Tidak ada gangguan mesin atau gangguan lainnya yang membuat pihaknya dan para ABK harus waspada. Namun tiba-tiba saja, tepat pukul 22.00 Wita kapal tenggelam karena terpukul gelombang. "Sesaat sebelum itu ABK dan kami semua lagi cerita-cerita, namun tiba-tiba kapal tenggelam. Saat tenggelam itu, semua ABK di dek bawah, hanya saya sendiri yang berada di ruang kemudi," katanya. Dia mengatakan, setelah kapal mulai tenggelam sekitar 20-30 menit, salah satu ABK yang bernama Haji Hero masih terlihat. Isdar mengaku sempat memegang baju Hero namun yang bersangkutan diduga sudah tidak bernyawa lagi. "Saat kami mulai berusaha berenang ke tepi, arus masih kencang dan gelombang surut sehingga sulit makanya kami mulai terpisah satu dan yang lainnya. Saya berenang sekitar dua jam dan akhirnya bisa sampai di Pulau Papagarang," jelasnya. Meski begitu Isdar mengaku sedikit terhibur setelah mengetahui bahwa 10 ABK lainnya selamat. Hanya saja Haji Hero belum ditemukan. Dia mengisahkan, pada bulan Februari lalu, dia juga mengalami musibah yang sama. Tenggelam bersama kapal motor yang dinahkodainya. Musibah itu menerjangnya di perairan antara Pulau Selayar dan Pulau Flores. Kapal tenggelam pada siang hari, pukul 10.00 Wita. "Orang yang bepergian dengan mobil di darat saja bisa jatuh dan terkena musibah, apalagi di laut. Dan musibah itu kita semua tidak bisa tahu saatnya. Ini adalah sial saya yang kedua kali di laut dengan rute pelayaran yang sama. Saya mau berhenti, tetapi mau makan apa nanti dan bagaimana untuk menghidupi keluarga, apalagi satu-satunya pencaharian saya itu di laut," katanya. (obby lewanmeru) ABK KM Melati Sejahtera: |