| Berita Utama
4

|
* Kehidupan Warga Terpecil di Pulau Nuse (1)
Ekonominya mulai menggeliat
Oleh Syarifah Sifat
LAUTNYA teduh dan bersih. Dari jauh tampak ke biru-biruan, tetapi setelah didekati berwarna kehijau-hijauan. Terumbu karang dan aneka tanaman laut seperti rumput laut bertebaran. Ikan-ikan bersuka ria bermesra-mesraan di permukaan laut.
Itulah keindahan laut di Dusun Nuse, Desa Ndao Nuse, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao. Laut itu masih terpelihara dari tangan-tangan jahil yang merusak biota laut. Dusun Nuse berada di sebuah pulau kecil yang terletak tidak jauh dari Pulau Rote. Luas wilayahnya hanya sekitar 12 km2 dengan jumlah penduduk 99 kepala keluarga (KK) atau 330 jiwa.
Di pulau ini tidak ada persawahan dan perkebunan. Pohon-pohon umumnya tumbuh liar. Warga di
Dusun Nuse mengandalkan laut sebagai sandaran hidupnya. Kendati demikian, mereka hidup rukun dengan budaya dan sumber daya yang dimiliki.
Kamis (24/4/2008) pagi sekitar pukul 10.00 Wita,
pada saat mentari pagi beranjak naik, rombongan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Kabupaten Rote Ndao menggunakan dua mobil kijang menuju Pulau Nuse.
Perjalanan menuju pulau itu biasanya ditempuh selama
40 menit, namun kondisi jalan yang belum baik memperlambat laju kendaraan.
Untuk mencapai Pulau Nuse orang harus menyeberang menggunakan perahu motor. Jika tidak cermat menghitung arus, maka perahu motor akan terperangkap di tengah laut karena surut yang cukup jauh dari pesisir sekitar 150 meter lebih.
Sekitar pukul 11.00 Wita, rombongan Dinas Perindag, Dinas Perikanan dan Dinas Koperasi sudah berada di bibir pantai Tongga, Kecamatan Rote Barat. Di pantai yang tak ada tambatan perahu ataupun jembatan ini, sudah berlabuh sebuah perahu milik warga Nuse.
Sambil menunggu perahu, rombongan sempat berkunjung ke tempat pengolahan cumi dan rumput laut yang diolah para nelayan di bibir pantai itu. Puluhan ton cumi rebus yang telah diolah menumpuk di pantai itu. Para nelayan umumnya mengolah cumi rebus asin dengan cara menggarami, merebus dan dan mengeringkan. Cumi yang diolah dengan proses ini dijual nelayan langsung kepada pengusaha dengan harga yang cukup mahal Rp 20 ribu/kg.
Selain merebus, sebagian nelayan di wilayah itu juga masih mengolah cumi dengan garam kemudian dikeringkan tanpa rebus, menghasilkan cumi-cumi asin kering. Kalau dijual, harga cumi-cumi ini lebih murah karena kualitasnya kelas dua.
Sesuai data yang diperoleh Pos Kupang, potensi cumi-cumi di Pulau Rote cukup besar pertahun mencapai sekitar 2.114,8 ton dengan jumlah yang boleh ditangkap sehingga sumberdaya ikan tidak terdegradasi adalah 2.114,8 ton kering atau setara dengan 247,3 ton basah dengan tingkat pamanfaatan 11,70 ton. Dengan demikian peluang pengembangan produksi masih sekitar 1.867,5 ton atau 88,31 % dari jumlah yang boleh ditangkap.
Jams Riwu, salah satu motivator dari Dinas Perikanan Kabupaten Rote Ndao yang ikut dalam rombongan, mengakui hal itu. Ia mengatakan, penangkapan cumi-cumi di Rote Ndao baru dilakukan pada beberapa perairan, yaitu perairan Pulau Ndana, Rote Barat Daya, Pulau Nuse, Rote Barat. Itulah sebabnya, potensi cumi-cumi di Rote masih cukup tinggi. Ke depan perlu ada pembudidayaan sehingga cumi-cuni di Rote tidak habis.
"Perairan kita ini kaya akan sumberdaya ikan khususnya cumi-cumi. Saat ini ada beberapa perairan di bagian selatan Kecamatan Rote Timur, Pantai Baru dan Rote Tengah belum dieksploitasi sama sekali. Padahal musim penangkapan cumi-cumi berlangsung sepanjang tahun dengan musim puncak April sampai dengan November. Penangkapan cumi-cumi pada umumnya dilakukan pada malam hari terutama pada hari-hari gelap atau tidak dalam keadaan terang bulan dengan menggunakan alat tangkap seperti jala lompo dan sebagainya," kata Jams.
Menurutnya, pada tahun 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan
merencanakan pembuatan rumah cumi-cumi atau rumpon sebagai langkah budidaya sehingga Rote tidak kehabisan
cumi-cumi.
Usai ceramah singkat dari Jams, rombongan yang dipandu
Kadis Perindag, N. ST. Haning, berjalan-jalan mengitari
lokasi Tongga untuk melihat rumput laut di pinggir pantai itu, baik yang berwarna merah maupun hijau.
Rumput laut yang baru dipanen tersebut tersiram begitu
saja di atas tumpukan rumput-rumput liar yang di pinggir pantai. Petani rumput laut yang umumnya bukan warga asli setempat membiarkan rumput laut mereka kering sendiri dengan proses alami.
"Cara kami menjemur rumput laut seperti itu. Kalau sudah kering tinggal kami angkat dan simpan. Kalau pengusaha sudah mau beli, kami jual dengan harga bervariasi dari Rp 4.500-Rp 6.000/kg," kata Markus, petani setempat.
Kadis Perindag, N. ST. Haning bertekad akan terus memacu warga untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi hasil laut karena saat ini sejumlah investor sudah melirik potensi perikanan di Rote.
"Laut Rote sangat menjanjikan. Di Tongga ini ada cumi-cumi, rumput laut, ikan dan sejumlah hasil laut lainnya. Kehidupan kelautan di wilayah ini semakin menggeliat. Karena itu, kita terus bekerja keras untuk mendampingi masyarakat untuk meningkatkan produksi hasil laut mereka,"katanya.
Selain cumi, rumput laut juga bertebaran di sepanjang
pantai. Namun sayang, nelayan di pesisir pantai ini belum mendapat sentuhan fasilitas dan sarana-prasarana yang memadai. (bersambung)
|