Humbalorata

   Sumba, Alor, Lembata

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2007, PBB Sumtim 101 persen

WAINGAPU, PK -- Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Timur (Sumtim) untuk meningkatkan penerimaan dari sektor pajak bumi dan bangunan (PBB) antara lain melalui pemberian apresiasi bagi kepala desa yang mampu merealisasikan target PBB di desanya, membuahkan hasil. Terbukti, tahun 2007 realisasi PBB di kabupaten itu mencapai 101,26 persen dari target Rp 1.414.000.000,00. Tahun ini penerimaan PBB ditargetkan Rp 1.557.618.000,00.
Kepala KP PBB Waingapu, Ignatius Thadeus, S.E mengatakan itu ketika ditemui Pos Kupang, Senin (12/5/2008). Dia menjelaskan, realisasi PBB tahun 2007 terdiri dari sektor pedesaan Rp 771.359.000,00 dan sektor perkotaan Rp 660.483,00. 
"Ini pendapatan murni daerah. Sedangkan dari pertambangan sebesar Rp 21.457.239.000,00 dari target Rp 18.108.000.000,00 atau mengalami peningkatan 118,50 persen. Pendapatan dari sektor pertambangan ini diperoleh dari pembagian penerimaan negara di bidang pertambangan yang dialokasikankembali ke daerah. Di sinilah pentingnya negara kesatuan. Kita yang berada di daerah yang pendapatan asli daerahnya minus, bisa menikmati pendapatan dari daerah lain melalui pemerintah pusat," jelas Ignatius.
Ia mengatakan, penurunan penerimaan PBB justeru terjadi di Sumba Barat. Sumba Barat yang pada tahun-tahun sebelumnya selalu 100 persen pada tahun 2007 hanya mencapai 66,32 persen dari target Rp 1. 291.000.000,00, atau Rp 856.183.000,00. 
"Di Sumba Barat PBB tidak mencapai target karena konsentrasi kerja lembaga itu terbag. Tidak hanya itu, pegawai yang bertugas di bidang
penagihan PBB juga sudah terbag-bagi. Jadi, terjadi kevakuman," kata Ignatius.
Meski demikian, lanjut Ignatius, secara keseluruhan penerimaan dari lima sektor(pedesaan, perkotaan, perkebunan, kehutanan dan pertambangan) tetap melampaui target. Dari target Rp 19.640.000.000,00 berhasil dicapai Rp 22.180.515.000,00 atau 112,94 persen. Sumbangan terbesar berasal dari sektor pertambangan yakni Rp 21.206.735.000,00.
Sementara pencapaian penerimaan untuk KP PBB Waingapu (Sumba Timur dan Sumba Barat), demikian Ignatius, mencapai 115,01 persen atau Rp 45.069.596.000,00 dari target Rp 39.186.000.000,00. Tahun 2008, target penerimaan KP PBB meningkat menjadi Rp 43.594.060.000,00. Untuk penerimaan dari sektor pedesaan dan perkotaan khusus Kabupaten Sumba 
Barat sudah terbagi menjadi tiga setelah ada pemekaran wilayah. Khusus untuk kabupaten Sumba Barat ditargetkan Rp 487.271.000,00, Sumba Tengah Rp 255.118.000,00 dan Sumba Barat Daya Rp 754.571.000,00. (dea)


Petani Alila Minta Bibit Kelapa 

KALABAHI, PK--Para petani di Desa Alila, Kecamatan Alor Barat Laut (ABAL), Kabupaten Alor, meminta pemerintah membantu bibit kelapa untuk menggantikan tanaman kelapa yang mati diserang hama beberapa waktu lalu. 
Permintaan ini disampaikan Kepala Desa Alila, Radjab Maro, saat ditemui Pos Kupang di Kalabahi, Sabtu (10/5/2008). Maro mengatakan, sebelum kelapa di desanya terserang hama tahun 1999, populasinya mencapai ribuan pohon. Saat itu kelapa menjadi salah satu komoditi primadona masyarakat setempat dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. 
Setelah diserang hama, kata Maro, produksi kelapa merosot tajam. Akibatnya, pendapatan ekonomi rumah tangga warga juga menurun drastis. Hal ini yang perlu diperhatikan oleh pemerintah tingkat atas. 
Lebih lanjut Maro mengatakan, sejak 2005 petani di desanya kembali menanam kelapa dengan bibit lokal. Namun warga khawatir bibit lokal itu tidak mampu menahan hama. Untuk itu para petani meminta pemerintah membantu bibit unggul yang bisa menahan hama. 
"Sebelum terserang hama, buah kelapa di desa wilayah kami berlimpah. Kelapa satu-satunya harapan hidup warga karena prospeknya bagus, dengan menjual buahnya atau dalam bentuk kopra," tandas Maro.
Plt. Kadis Perkebunan Kabupaten Alor, Thomas Lalangpuling, yang dimintai tanggapannya, Senin (12/5/2008), mengatakan, pemerintah belum bisa memenuhi permintaan itu. Kebijakan pemerintah daerah berkaitan dengan pengembangan tanaman kelapa yang baru melewati serangan hama, masih dalam tahap pengkajian melalui penelitian mendalam. 
Selain itu, lanjut Lalangpuling, Dinas Perkebunan Propinsi NTT juga memetakan organisme pengganggu tanaman. Saat ini pemkab sedang menunggu hasil itu. (oma)



Kebersihan Sekolah Perlu Dijaga 

WAIKABUBAK, PK--Wakil Bupati Sumba Barat (Sumbar), dr. Kornelius Kodi Mete, mengingatkan semua komponen sekolah menjaga kebersihan lingkungan dan merawat gedung sekolah. Gedung yang ada perlu dimanfaatkan secara baik untuk peningkatan kualitas pendidikan di sekolah itu. 
Penegasan ini disampaikan Kodi Mete ketika meresmikan penggunaan gedung Sekolah Dasar Katolik (SDK) III Waikabubak, Kabupaten Sumbar, Rabu (7/5/2008). Kodi Mete meminta segenap warga SDK III Waikabubak menjaga kebersihan dan perawatan gedung agar bertahan lama dan bermanfaat bagi anak didik sekolah itu. Para guru dan anak murid diminta memanfaatkan gedung sekolah itu dengan baik, karena pembangunannya menelan dana cukup besar. 
Gedung ini, kata Kodi Mete, harus menghasilkan anak didik yang pintar. Gedung sebagus ini, lanjutnya, dibangun tahun anggaran 2007 dengan dana sekitar Rp 800 juta. Wabup berharap gedung itu dapat digunakan sebaik mungkin demi menunjang proses KBM sekolah tersebut. 
Ketua panitia pelaksanaan pembangunan, Matheus Tamo Ama, mengatakan, pembangunan gedung tersebut berlangsung lancar. Dan, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Daerah Sumba Barat yang mau mendengar aspirasi mereka. 
Kepala SDK III Waikabubak, Lince Leda, A.Ma, Pd, mengatakan, pihaknya bersyukur atas pembangunan gedung ini sehingga bisa menampung para siswa yang semakin membludak. Saat ini, kata Lince, jumlah siswa SDK III sebanyak 710 orang. Diperkirakan tahun pelajaran baru akan terus bertambah. 
Meski demikian, kata Lince, pihaknya sudah merasa bangga karena kehadiran gedung itu turut membantu mengatasi problem yang dihadapi selama ini terkait keterbatasan ruang kelas dan gedung yang sudah tak layak lagi digunakan karena sudah tua. 
Pantauan Pos Kupang, gedung berlantai II itu digunakan untuk ruang kelas (lantai I) dan lantai II sebagian untuk ruang kepala sekolah, aula dan perpustakaan. (pet) 



Satpol PP Razia Penimbunan BBM

KALABAHI, PK--Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Setda Alor merazia tempat-tempat yang diduga menjadi tempat penimbunan bahan bakar minyak (BBM), khusus jenis premium atau bensin, Senin (12/5/2008). Penimbunan ini diduga disulut informasi kenaikan BBM dalam waktu dekat.
Informasi kenaikan harga BBM ini sangat meresahkan warga Kota Kalabahi. Sekarang warga mulai kesulitan mendapat bensin di tingkat pengecer yang selama ini dengan mudah ditemui di kios-kios dan pinggir jalan umum. Ironisnya, pembeli eceran dengan menggunakan jerigen di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), terus meningkat. Pengendara sepeda motor dan mobil terpaksa antre memadati SPBU di Tombang. 
Diduga ada spekulan yang menimbun bensin untuk meraup keuntungan yang berlimpah. Untuk itu, Satpol PP menyisir semua tempat penjulan bensin eceran untuk mengecek stok mereka. Jika ditemukan ada penimbunan, Satpol PP akan melaporkan hal itu kepada polisi.
Kepala Satpol PP Kabupaten Alor, Amirullah, S.H, yang ditemui di sela-sela razia, Senin (12/5/2008), mengatakan, mereka mengamati para pembeli di SPBU Tombang-Kalabahi.
Dari gejala yang tertangkap, jelas Amirullah, ada indikasi terjadi penimbunan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan dari informasi kenaikan harga BBM tersebut. 
Menurutnya, Satpol PP menemukan pembelian bensin di SPBU meningkat tajam, khususnya pembelian dengan menggunakan jerigen. Masalah ini, kata Amirullah, menimbulkan antrean panjang di SPBU itu. Karena itu dia menurunkan anggota untuk mengawasi. Langkah itu dilakukan, selain untuk mengantisipasi penimbunan, juga mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. 
Dia juga meminta petugas SPBU mengutamakan kendaraan, ketimbang pembeli jerigen yang memiliki surat izin dari pemerintah. Dia mencegah terjadinya ketidakmerataan pengisian BBM ke kendaraan bermotor yang menyulitkan warga, terutama angkutan umum. (oma)