|
K u p a n g





|
Karyawan RSU Belum Terima ULP
KUPANG, PK -- Karyawan RSU Prof. Dr. WZ Johannes-Kupang mengeluh karena belum menerima uang lauk pauk (ULP) selama tiga bulan, yakni sejak Februari-April 2008. Mereka juga mempertanyakan uang kekurangan gaji sejak Januari-Maret 2008 yang sampai saat ini belum diterima.
Informasi ini diperoleh dari beberapa karyawan RSU Kupang yang tidak bersedia dituliskan namanya, Jumat (8/5/2008). Mereka mengatakan, pegawai di instansi lain di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang sudah menerima ULP.
"Sebenarnya manajemen RSU Kupang harus transparan menyampaikan kepada karyawan tentang alasan keterlambatan pembayaran ULP ini. Sampai saat ini kami belum pernah mendengar informasi resmi dari manajemen tentang alasan keterlambatan pembayaran uang lauk pauk dan kekurangan gaji," kata salah seorang karyawan rumah sakit itu.
Wadir Umum dan Keuangan RSU Kupang, dr. Hendrik Djojana, yang ditemui di ruang kerjanya, Jumat (8/5/2008), membenarkan keluhan para karyawan itu. Saat dikonfirmasi, Djojana didampingi Kepala Bagian Keuangan RSU Kupang, Adrianus Ledo.
Djojana menjelaskan, keterlambatan pembayaran itu bukan ada unsur kesengajaan dari manajemen. Khusus untuk uang lauk pauk lebih disebabkan karena adanya keterlambatan penyerahan data kehadiran dari unit atau ruangan di RSU.
Penyebab lainnya, karena ada kekeliruan dari para karyawan dalam mengisi daftar hadir. Ada karyawan, kata dia, yang mengisi daftar hadir tidak sesuai dengan waktu kerja yang ditetapkan. "Sesuai aturan, ada karyawan yang bekerja hanya lima hari, sementara dalam daftar hadir diisi enam hari kerja," katanya.
Djojana menambahkan, berdasarkan hasil verifikasi dari bagian keuangan, daftar hadir itu dikembalikan lagi ke unit-unit di RSU Kupang. "Cepat atau lambatnya, pembayaran uang lauk pauk itu, sangat tergantung dari penyerahan data yang akurat dari unit-unit yang ada di RSU ini," katanya.
Sementara soal uang kekurangan gaji yang belum dibayar, Djojana menjelaskan, saat ini masih dalam proses penyelesaian di bagian keuangan. Untuk menyelesaikan pekerjaan ini, sesuai prosedur tetap (Protap) di RSU Kupang, pekerjaan ini adalah tambahan yang diberikan manajemen RSU Kupang kepada bagian keuangan. "Bagian keuangan menyelesaikan pekerjaan ini pada akhir bulan. Bagian keuangan lebih memrioritaskan pekerjaan rutin, seperti gaji dan pekerjaan lainnya, " katanya. (den)
Pedagang Oeba Datangi Kantor Walikota
KUPANG, PK -- Belasan pedagang dari Pasar Oeba di Kelurahan Fatululi, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, mendatangi kantor Walikota Kupang untuk menanyakan realisasi rumah susun sederhana sistim sewa (Rusunawa) yang hingga saat ini belum dibangun. Mereka menilai pemerintah tidak serius menangani Rusunawa ini.
Koordinator Pedagang Oeba, Saul Djoekeni mengatakan hal itu usai berdialog dengan Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe, Wakil Walikota Kupang, Drs.Daniel Hurek, Asisten II Pembangunan, Dra. Thruice Balina Uly dan Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kupang, Ir. Niky Ully, M.Si, di kantor Walikota Kupang, Senin (12/5/2008).
Menurut Saul, kondisi Pasar Oeba saat ini belum tertata secara rapi. Alasan itulah yang mendorong para pedagang untuk menemui Walikota Kupang mempertanyakan realisasi Rusunawa. Saat berdialog mereka meminta agar pemerintah segera membangun Rusunawa.
Walikota Daniel Adoe yang dihubungi usai dialog itu ,mengatakan, aspirasi pedagang Oeba itu ditampung dan akan diteruskan ke Pemerintah Propinsi NTT.
Bantuan Rusunawa itu, kata Adoe, yakni bangunan pasar moderen yang rapi dan nyaman. Bagian atas bangunan Rusunawa akan dijadikan tempat tinggal, sedangkan bagian bawah bangunan akan dijadikan sebagai tempat jualan.
Pasar moderen, kata Adoe, yakni pasar yang ditata secara apik dengan menyediakan semua kebutuhan warga Kota Kupang. Untuk program Rusunawa itu, jelas Adoe, penanganannya ditangani oleh Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek.
Ketika ditanya tentang lokasi Rusunawa, Adoe menambahkan, para pedagang Oeba akan dipindahkan ke lokasi Rusunawa tak jauh dari Pasar Oeba saat ini. Penataan pasar di Kota Kupang, jelas Adoe, akan dilakukan secara bertahap. Hal senada dikemukakan Kepala Bappeda Kota Kupang, Ir.Nikcy Ully, M.Si.
(osa)
Berdayakan Bahan Lokal
KUPANG, PK -- Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Kupang, Ny. Welmintje Benyamin-Adoe meminta para peserta pelatihan Keterampilan Pengolahan Produk Makanan Lokal agar memberdayakan bahan-bahan lokal guna meningkatkan pendapatan ekonomi rumah tangga.
Permintaan itu disampaikan Ny.Welmintje saat membuka pelatihan tersebut di rumah jabatan Walikota Kupang, Senin (12/5/2008).
Ny. Welmintje yang didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan Kota Kupang, Ir. Thomas Gah dan Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan Kota Kupang, Ny. Hanifa Yoesof, mengatakan, untuk merintis usaha yang besar harus dimulai dari usaha yang kecil. Apalagi, masyarakat kecil yang menjadi peserta pelatihan tidak memiliki modal yang besar.
Buah lontar (saboak), jelas Ny.Welmintje, menjadi salah satu bahan lokal yang bisa dimanfaatkan secara baik untuk dijadikan makanan seperti dodol. Selain dodol, peserta juga bisa memanfaatkan sisa kain, daun jagung serta daun lontar untuk bahan pembuatan kipas dan kerajinan lainnya.
Pemanfaatan bahan lokal, kata dia, selain mudah diperoleh di sekitar rumah, bahan-bahan yang ada tidak kalah mutunya sebagai bahan utama sebuah usaha.
Ketua Panitia Pelaksana Pelatihan, Drs. Iskandar Kapitan mengatakan, pelatihan itu bertujuan menciptakan peluang kerja untuk meningkatkan penghasilan.
(osa)
Perlu Sosialisasi Kontinyu Tentang TPST
KUPANG, PK -- Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Kolhua, Paskalis Tokan, S.STP mengatakan, agar rencana pengoperasian tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) dapat dilaksanakan di lokasi Pasar Tani Kelurahan Kolhua, pihak Cipta Karya perlu melakukan sosialisasi secara kontinyu kepada masyarakat.
Tokan mengatakan hal ini saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (8/5/2008). Sosialisasi ini sangat perlu, sebab, kata dia, sampai saat ini masih ada warga masyarakat yang belum menerimanya. "Umumnya mereka masih awam dan belum paham benar tentang penggunaan alat pengolah sampah itu," katanya.
Padahal sampah tersebut nantinya akan didaur ulang dengan menggunakan mesin pengolah sampah. Jenis sampah yang didaur ulang itu, yakni sampah organik dan anorganik. Hasil dari daur ulang itu dapat dimanfaaatkan oleh masyarakat.
Tokan menjelaskan, tidak semua sampah yang berasal di Kota Kupang akan ditampung di Pasar Tani. Untuk Kelurahan Kolhua pada tahap awal, hanya sampah yang berasal dari enam RT, yakni 13, 14, 15, 16, 17 dan RT 22. Di setiap RT juga mungkin di setiap rumah akan disediakan bak sampah bantuan dari Satker PLP Dinas Cipta Karya Propinsi NTT.
Pengolahan selanjutnya, kata Tokan, para ketua RT akan membentuk kelompok swadaya masyarakat (KSM) di tiap RT. "Para anggota KSM ini nantinya yang akan mengangkut sampah dari setiap rumah di wilayah RT masing-masing ke lokasi Pasar Tani. Dinas Kebersihan Kota Kupang akan menyiapkan satu tangki bak sampah di Pasar Tani untuk menampung sampah yang tidak bisa diolah," kata Tokan.
Sebelum alat pengolah sampah ini digunakan, pihak kelurahan, Cipta Karya dan Dinas Kebersihan Kota Kupang telah dua kali melakukan sosialisasi. Pertama di Gereja Kaisarea. Kedua di Pasar Tani Kolhua. Hadir dalam acara itu para ketua RT.
Tokan mengharapkan para ketua RT yang mengikuti sosialisasi itu dapat memberikan penjelasan yang lebih detail kepada masyarakat di RT masing-masing.
Sebelumnya, Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe, telah menghibahkan lokasi Pasar Tani Kolhua sebagai tempat TPST. (den)
-- Kami Bicara ---
Simon Boysala, warga Kota Baru, Maumere
Tambah Dokter
HAL yang masih kurang di setiap puskesmas di setiap kecamatan di Kabupaten Sikka adalah penempatan tenaga dokter. Setiap puskesmas yang memiliki wilayah atau desa yang banyak itu kadang-kadang tidak memiliki dokter. Selain itu juga penempatan bidan desa, rata-rata di setiap kecamatan atau puskesmas hanya ditempatkan 2-3 bidan. Menurut saya, ke depan yang harus dipikirkan oleh pemerintah ialah bagaimana menempatkan jumlah dokter di puskesmas sesuai dengan jumlah kecamatan yang ada di kabupaten itu. Penempatan jumlah bidan juga harus sesuai dengan jumlah desa yang ada di wilayah kecamatan. Dengan demikian pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya ibu hamil bisa lebih maksimal. Ini adalah impian yang sangat diharapkan dan bisa diwujudkan oleh pemimpin baru NTT nanti. (vel)
Nety Herawaty, Warga Kelurahan Matawai, Waingapu
Posyandu Bagus
SAMPAI anak ke delapan ini saya tidak masalah dengan pelayanan kesehatan. Kita di sini posyandu di Matawai. Setiap bulan rutin setiap tanggal 10. Di sini selain penimbangan bayi, bayi kita juga mendapat imunisasi BCG, vitamin A dan makanan tambahan. Kita berharap bahwa pelayanan seperti ini bisa berlanjut dan tidak hanya untuk kita yang di kota tetapi juga daerah-daerah terpencil. (dea)
Aleks Sarni, warga Desa Bangka Pau,
Poco Ranaka, Manggarai Timur
Utamakan Aspek Kemanusiaan
PELAYANAN kesehatan masyarakat, khususnya pasien gakin sering terbentur pada persyaratan administrasi. Petugas kesehatan lebih mementingkan norma administrasi, padahal pasien yang datang sangat membutuhkan pelayanan agar bisa segera pulih. Karena itu utamakan pelayanan kesehatan daripada adminisitrasi. Kami dari pasien gakin sering mengalami hal itu. Karena itu sangat diharapkan agar petugas medis lebih mengutamakan aspek kemanusiaan. Selain itu, dalam tugas pelayanan para medis hendaknya menampilkan pesona yang ramah dan baik, bukan bentak-bentak pasien. Tata krama yang baik membantu mempercepat proses kesembuhan
pasien. (lyn)
Saatnya Anda Bersuara.....
ANDA punya keluhan, harapan, masukan, anjuran tentang pelayanan kesehatan? Saatnya Anda bersuara. Sampaikan aspirasi Anda menyangkut pelayanan kesehatan yang Anda lihat, Anda alami, Anda rasakan melalui SMS ke 0852 3947 7425, faks ke 0380 831801, email
poskpg_opini@yahoo.com. Ayo!
***
081 339 2XX XXX : Saya punya pengalaman waktu anak saya sakit diopname di RS Larantuka . Eh saya disuruh bersihkan kamar
mandi/WC oleh seorang perawat. Dia kepala ruangan anak. Demi
anak, saya lakukan apa yang disuruh oleh bidan itu. Apakah aturan di RSU Larantuka
begitu? Dia bilang masuk RS tidak bayar, emangnya tidak bayar itu potong gaji
perawat?
085 239 2XX XXX: Untuk Pemkab Rote Ndao,tolong perhatikan bidan di Kecamatan RBD karena tidak pernah tinggal di
desa. Paling parah lagi, pelayanan di Desa Oebatu tidak maksimal sehingga masyarakat harus berjalan kaki 2 km ke Busalangga untuk
berobat.
081 339 4XX XXX: Saat ini, kami pasien di Sikka banyak mengeluh tentang kekosongan obat saat
berobat. Menurut keterangan yang kami dapat bahwa harga obat yang terlalu murah berdasarkan SK Menkes sehingga ada obat-obat tertentu yang tidak bisa diproduksi oleh perusahaan farmasi karena biaya produksi lebih besar dibanding harga
jual.
081 339 3XX XXX: Mat pagi Bapak Kadis Kesehatan Propinsi NTT. Tolong audit kinerja dan profesionalisme dokter ahli kandungan pada RSUD TC Hilers
Maumere, karena sudah banyak pasien yang meninggal setelah
dioperasi, tolong pak ini menyangkut nyawa manusia, bukan
binatang. Jangan jadikan manusia sebagai kelinci
percobaan. Istri saya stres sehingga akhirnya saya bawa ke Kupang untuk operasi
sexio. Makasih.
Antonius D, Bajawa, 085 253 2XX XXX: Pengalaman berobat di RS Surya
Husadha-Denpasar, ramah tamahnya karyawan dari security hingga dokter yang melayani dengan
hati. Bagi pasien baru dilayani dari loket pendaftaran, diantara ke poli yan
dikunjungi, ditawarkan menunjukkan ruang Lab. Bagi pasien dari luar Pulau Bali diantara ke kantin dan
penginapan. Kagetnya saya setelah di penginapan saya berikan tips sebagai ucapan terima
kasih, petugas tersebut menolak dengan mengatakan, jangan
pak, ini memang tugas saya. Apakah petugas kesehatan di NTT juga
demikian? Harapan kami RSUD di NTT tidak menolak pasien yang
berobat. Uang bisa dicari tapi layani dulu pasiennya. Jangan pasien yang gawat disuruh beli sendiri
obat. Terima kasih dr. Wirajaya, SpPD yang bertugas di RS Sanglah dan RS Surya
Husadha, yang pernah bertugas juga di Manatuto Timor Leste dan
Bajawa-Flores.
085 737 0XX XXX: RSUD Lewoleba punya dokter, apa punya
pemabuk? Ipar saya sudah pendarahan butuh pelayanan
serius, para bidan tanpa tahu harus berbuat apa. Katanya tunggu kata
dokter. Nah, sang dokternya enak-enak mabuk di pesta daripada menolong
pasien. Akhirnya ipar kami keguguran. Pemda Lembata harus memecat dokter
pemabuk. Jangan hanya sibuk urus proyek-proyek.
Anisa Duanara, 085 239 0XX XXX: Kepada Bapak Gubernur NTT dan Kadis Kesehatan NTT. Harapanku tolong lebih diperhatikan lagi masalah kesehatan masyarakat NTT, terutama kesehatan anak-anak yang rata-rata terkena gizi
buruk. Soalnya agak memalukan bila berita yang sering muncul di layar TV, NTT yang selalu dikenal dengan masalah gizi
buruk.
085 239 3XX XXX: Yth. Bapak Kepala Dinkes TTU, bagaimana dengan pendistribusian obat-obatan ke setiap
Polindes? Dan apa tugas dari seorang tenaga medis yang ditempatkan di
Polindes? Saya prihatin dengan pelayanan kesehatan di Polindes kami di Desa Fafinesu A, Kecamatan Insana
Utara. Sering warga kami yang sakit pergi berobat ke
polindes, bukannya diobati tapi diberi surat rujukan ke RSU dengan alasan kekurangan alat atau obat tidak
ada. Pak Kadis tolong perhatikan hal ini. Terima kasih.
|