Berita Utama 4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Kehidupan Warga Terpecil di Pulau Nuse (1)
Belum Ada Tambatan Perahu

Oleh Syarifah Sifat


LAUT di Rote Ndao cukup luas, mengelilingi pulau
Rote, Pulau Nuse, Pulau Ndao, Pulau Ndo dan lain-lain. Namun, sarana-prasarana pendukung kelautan di kabupaten terselatan Indonesia itu hingga kini belum memadai. Tidak ada tambatan perahu apalagi pelabuhan rakyat. Tak ada kapal pemantau atau kapal patroli untuk mengawasi perairan yang kaya akan hasil laut. Karena itu, banyak kapal liar masuk ke wilayah itu untuk mengambil hasil-hasil laut dengan cara ilegal dan merusak biota laut. 
Sambil berkhayal akan keindahan laut di Pulau Nusa Lote itu, tiba-tiba rombongan dikejutkan oleh pemilik perahu yang juga kepala dusun, Simon Leulela (38). Ia berteriak memanggil rombongan agar cepat menaiki perahu mengingat hari sudah siang. 
Baru sekitar pukul 12.00 Wita, di tengah teriknya mentari yang membakar kulit tubuh, Simon dan sejumlah anak buahnya terus menahan perahu itu di bibir pantai Tongga agar para penumpang bisa naik. Wajah Simon dan anak buahnya tampak hitam sehingga dari jauh jelas terlihat gigi mereka.
Maklum, mereka adalah pelaut dan sehari-hari menghabiskan waktu mereka di laut. Melihat perahu sudah berada di bibir pantai, satu-persatu rombongan menggulung kaki celana mereka
setinggi lutut agar tidak basah. Mereka naik menggunakan tangga perahu yang sudah disiapkan. Namun, tiba-tiba pemilik perahu, Simon yang sedang memegang kendali perahu berteriak, "Tolong dong gendong wartawannya. Kasihan dia sendiri perempuan," teriak Simon sambil tertawa.
Teriakan berbau guyonan itu mengundang tawa meski sebelumnya rombongan sempat tegang menaiki anak tangga perahu itu. Namun, tidak ada yang digendong, semuanya dengan kekuatan sendiri menaiki perahu itu dari tangga yang telah dibuat Simon sebagai pegangan bagi penumpang saat menaiki perahu yang cukup tinggi.
Menaiki perahu yang hanya disandarkan di bibir pantai butuh keahlian. Kelincahan dan kecepatan membuat orang tidak basah. Orang yang besar tinggi atau kurus kecil tidak berpengaruh. Nyatanya, Kadis Perindag,N.ST. Haning yang kecil dan kurus, begitu juga KTU Disperindag, Musa, saat menaiki tangga tidak basah. Yang basah hanya pemilik perahu karena mereka harus
memegang perahu mereka agar perahu-perahu lain tidak diterpa ombak. "Kalau saja ada tambatan perahu kita tidak seperti ini," keluh Haning.
Sekitar 20 menit, saat semuanya sudah berada di atas
perahu, Simon mulai membunyikan mesin dan menggunakan
tali nilon sebagai setir. Simon cukup menarik tali nilon itu sebagai pengendali untuk melihat arah kapal apakah menuju sasaran atau tidak. Ombak yang cukup besar membuat perahu itu oleng. Namun, selama sekitar 15 menit sambil menikmati makan siang di atas kapal, tiba-tiba saja perahu sudah berada di bibir pantai Pulau Nuse. 
Kini satu-persatu rombongan kembali menggulung kaki celana dan selanjutnya melompat ke pasir, walau ada yang memilih menggunakan tangga yang telah disediakan pemilik perahu. Lompat ke pasir atau turun menggunakan anak tangga
sama-sama berisiko. Jika melompat dan tumpuan
kaki kuat dengan ketinggian perahu sekitar 2 meter di atas pasir maka tidak menjadi masalah. Tetapi, ketika kaki tidak kuat, maka risiko kaki patah atau keseleo itu mungkin saja terjadi. Ketika memilih turun menggunakan tangga, maka saat dihempas ombak tubuh kita ikut basah.
Risiko-risiko ini sebenarnya bisa ditekan jika pemerintah mau membangun tambatan perahu baik di Tongga, di Pulau Nuse dan di pulau-pulau berpenghuni lainnya yang belum memiliki tambatan perahu sehingga membantu warga untuk melakukan
aktivitas keluar pulau. 
Usai turun dari perahu dan beberapa menit menarik nafas, rombongan langsung menuju ke rumah produksi ikan kering Nuse. Rumah ini dibangun cukup sederhana dengan bangunan setengah bebak ukuran sekitar 6 x 10 meter yang dibangun Disperindag bersama kelompok Mialain menggunakan dana bantuan Menteri Percepatan Desa Tertinggal untuk mengelola produksi hasil laut.
Dari luar tidak tampak kalau bangunan itu digunakan Kelompok Mialain untuk mengelola produksi ikan kering. Karena bangunan itu masih sangat sederhana dan kecil sehingga belum pantas dikatakan rumah produksi ikan kering. Walau demikian, di dalam bilik bangunan itu sudah tersimpan sejumlah peralatan pengemasan ikan kering mulai dari cool box, generator, mesin fakum ikan dan sejumlah peralatan lain yang harganya mencapai ratusan juta.
Ketua Kelompok Mialain, Simon Leulela yang ditemui
di lokasi produksi ikan kering di Dusun Nuse bersama Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Rote Ndao, N.ST. Haning, SE, Jumat (25/4/2008), mengatakan, ikan kering olahan kelompok Mialain sudah berlangsung empat bulan dan mendapat hasil yang cukup. Karena saat ini, kata dia, produksi ikan kering olahan kelompoknya telah dipasarkan ke sejumlah kabupaten terutama di Kupang melalui Perusahaan Daerah (PD) Ita Esa. 
"Kami berusaha untuk terus meningkatkan kualitas ikan dengan bantuan Dinas Perindag. Selama ini hasil tangkapan kami banyak, namun kadang tidak terjual. Dan, dengan adanya kelompok ini, ikan yang kami tangkap langsung dibeli kelompok Mialain dan diolah menjadi ikan kering. Untung kami sekarang doble. Selain keuntungan karena ikan kami terjual, di dalam
kelompok kami juga mendapat keuntungan," kata Simon di sela-sela mengemas ikan kering.
Menurutnya, saat ini produksi ikan kering yang dihasilkan kelompok Mialain selama empat bulan berjalan sejak Januari-April 2008 berkisar ribuan bungkus yang dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 5.000,00/bungkus hingga Rp 10.000,00 dan akan dijual dengan harga berbeda oleh PD Ita Esa. 
"Ikan kering yang kami jual harganya cukup murah karena dalam satu kemasan berisi dua hingga empat ekor tergantung besaran ikan. Apalagi, jenis ikan pancing itu bermacam-macam, termasuk ikan kerapu. Bahkan ikan yang dikeringkan itu belum kena es. Karena itu, tidak rugi membeli ikan olahan kelompok Mialain," ujar Simon yang hanya tamatan SD, namun memiliki banyak keterampilan ini. (bersambung)