F L O R E S A

     Seputar Flores

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabies 'Bunuh' Enam Warga Mabar

LABUAN BAJO, PK ----Terhitung empat tahun terakhir atau sejak tahun 2004-2008 kasus rabies di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) sebanyak 613 kasus. Enam warga telah terengut nyawanya. Tiga kasus pertama terjadi tahun 2005, dan tiga kasus terakhir pada tahun 2008.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas (Kadis) Tanaman Pangan, Perkebunan dan Peternakan Mabar, Ir. Matheus Janing, di sela-sela rapat Tim Koordinasi (Tikor) Penanggulangan Rabies tingkat Kabupaten Mabar di Aula Hotel Pelangi, Labuan Bajo, Senin (4/8/2008). Hadir dalam rapat itu Bupati Mabar, Drs. Fidelis Pranda, para camat se-Kabupaten Mabar, para pejabat, para dokter hewan, dokter puskesmas, tokoh agama serta undangan.
Menurut Janing, kasus gigitan anjing rabies tahun 2004 tidak menimbulkan korban manusia. Sedangkan tahun 2005 kasus gigitan cukup tinggi menyebabkan tiga warga meninggal dunia. "Pada tahun 2006 kasus gigitan terjadi penurunan, namun kembali mengalami peningkatan tahun 2008. Tapi dalam dua tahun itu tidak terjadi kasus kematian akibat gigitan anjing," kata Janing.
Dia menjelaskan, dari data yang diperoleh dari tim di lapangan hingga tingkat kecamatan, kasus gigitan terbanyak tahun 2005, yakni sebanyak 202 kasus yang menyebabkan tiga warga meninggal dunia secara berurutan. Kondisi yang sama terjadi tahun 2008 di mana rabies merenggut tiga nyawa. "Dalam tahun 2008 hingga saat ini sebanyak 152 kasus gigitan, dan tiga kasus menyebabkan tiga warga meninggal dunia. Dari tiga warga yang meninggal, dua orang warga di Kecamatan Lembor, dan satunya Warga Kecamatan Sano Nggoang," jelasnya.
Dia mengakui, dari kasus gigitan terakhir tahun ini, pihaknya sudah berupaya mengambil sampel spesimen dari anjing yang bersangkutan untuk dikirim ke Laboratorium di Maros. Dari lima spesimen yang diteliti terdapat tiga spesimen anjing dari Desa Siru, Kecamatan Lembor dinyatakan positif rabies.
Tentang strategi yang ditempuh menanggulangi rabies, Janing menyebut SK Gubernur NTT Nomor 36 tahun 2000 tentang penutupan wilayah Flores-Lembata terhadap lalulintas hewan penular rabies (HPR), serta instruksi Gubernur NTT Nomor 7 tahun 2000 tentang vaksinasi terhadap semua jenis HPR, yakni anjing, kucing dan kera. "Target di tingkat propinsi tahun 2008 adalah tahun bebas rabies. Namun di Mabar belum bebas karena masih terjadi kasus gigitan bahkan menimbulkan kematian," tambahnya.
Ia menyebutkan sejumlah upaya yang sudah dan sedang dilakukan pihaknya, antara lain penyuluhan secara luas kepada masyarakat tentang bahaya rabies serta vaksinasi secara menyeluruh semua jenis HPR, terutama anjing serta mengeliminasi secara selektif.
Ketua Panitia Rakor Penanggulangan Rabies tingkat Kabupaten Mabar, Ir. Dominikus Hawan, M.M, mengatakan, pelaksanaan rakor bertujuan mendapat kesamaan persepsi dan pemahaman tentang rabies dan upaya penanggulangan yang ditempuh bersama. "Lewat rakor bisa kita satukan persepsi antarsektor terkait untuk mencari solusi tepat dalam upaya penanggulangan rabies di daerah ini," kata Hawan. (yel)

Data Kasus Rabies di Mabar
Tahun Kasus Mati 
2004       52     -
2005     202     3 
2006      64      -
2007     143     -
2008     152*   3 *
Jumlah   613     6
*) data hingga bulan Juli 2008

Diterpa Angin, Rokatenda Gagal Merapat di Nangakeo 

ENDE, PK--Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Rokatenda, Senin (4/8/2008) pagi, tidak bisa merapat di Pelabuhan Feri Nangakeo-Ende dan terpaksa kembali sandar di Pelabuhan Niaga Ende. Kondisi ini disebabkan bangunan dermaga feri diterpa ombak musin tenggara.
Sejumlah penumpang kapal ditemui di Pelabuhan Niaga Ende, Senin (4/8/2008), mengaku kecewa dengan sistem pelayanan kapal feri yang tidak bisa sandar di Dermaga Feri Nangakeo. Akibatnya, calon penumpang yang sudah menunggu di Nangakeo untuk ke Kupang terpaksa mengeluarkan ongkos tambahan ke Pelabuhan Ende. 
Nakhoda KMP Rokatenda, Yohanes Subakti, ditemui di kapal feri, Senin (4/8/2008), mengatakan, KMP Rokatenda dalam pelayaran dari Waingapu-Sumba Timur ke Ende dan akan berlayar ke Kupang. "Tadi kapal sudah menuju Dermaga Feri Nangakeo, namun ombak musin tenggara besar sehingga kapal dialihkan merapat di Pelabuhan Ende. Gelombang besar musim tenggara sehingga sulit merapat dengan baik di Dermaga Nangakeo," kata Subakti.
Menurut Subakti, kapal feri sudah beberapa kali tidak bisa merapat di Pelabuhan Feri Nangakeo. "Kalau di Pelabuhan Niaga Ende kendaraan tidak bisa diturunkan ataupun dinaikkan ke kapal. Jadi beberapa mobil yang seharusnya turun di Ende terpaksa dibawa terus ke Kupang. Kami tidak berani merapatkan kapal ke dermaga demi keselamatan penumpang," kata Subakti.
Supervisor ASDP Ende, Ebas A Syarif, ditemui saat bersama nakhoda kapal di atas KMP Rokatenda menambahkan, agar kapal feri bisa merapat di Pelabuhan Niaga Ende pihaknya berkoordinasi dengan PT Pelindo Ende. "Kami terpaksa melakukan koordinasi dengan pihak Pelindo dan pihak kapal barang yang bongkar di Pelabuhan Niaga Ende kami minta keluar pelabuhan. Tapi mau bagaimana lagi, terpaksa harus demikian untuk menyelamatkan penumpang," kata Ebas.
Ebas mengaku membayar biaya sandar kapal feri di Pelabuhan Niaga Ende yang dihitung perjam. "Memang biaya sandar kapal tidak terlalu besar, tapi ini juga merupakan masalah. Karena sebenarnya sudah ada Pelabuhan Feri Nangakeo, tapi belum bisa dimanfaatkan karena posisi dermaga tersebut," kata Ebas. (mar)


Di Luar Jangkauan Kabupaten

ENDE, PK---Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Ende, Drs. Mansur Do, mengatakan, masalah desain Dermaga Feri Nangakeo di wilayah Desa Bheramari, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende di luar jangkauan pemerintah kabupaten. Desain dan perencanaan pembangunan dermaga tersebut sudah dilakukan secara teknis oleh tenaga teknis yang ahli di bidangnya.
Seperti diketahui, Dermaga Feri Nangakeo Ende posisinya menghadang ombak, sehingga menyulitkan kapal feri untuk sandar di dermaga tersebut. "Dermaga Feri Nangakeo tidak bisa disandar kapal karena posisinya yang tidak disesuaikan dengan arus air laut dan arah angin. Jadi kapal menjadi tidak nyaman kalau sandar di dermaga dan pembelaan diri kapal sangat terbatas. Kalau dipaksakan tidak ada pilihan lain, Dermaga Feri Nangakeo atau kapal feri yang jadi korban. Sementara yang kita inginkan kedua-duanya tidak boleh dikorbankan," kata Mansur di ruang kerjanya, Senin (4/8/2008).
Mansur juga mengatakan, dirinya selaku Kadis Perhubungan dalam koordinasi dengan pihak ASDP dan nakhoda KMP Rokatenda juga sudah mengarahkan agar kapal feri bisa merapat di Dermaga Pelabuhan Niaga Ende. Karena bagaimana pun juga pelayanan di bidang pelayaran kapal feri kepada masyarakat Kabupaten Ende merupakan hal yang penting. "Hanya kalau soal teknis konstruksi mengapa sampai Dermaga Feri Nangakeo dirancang dan dibangun seperti itu, hal tersebut sudah di luar jangkauan kami di Kabupetn Ende," kata Mansur.
Mansur menambahkan, kehadiran pelayanan kapal feri di Kabupaten Ende sebenarnya sangat bermanfaat bagi perkembangan pembangunan dan perkembangan ekonomi masyarakat di Kabupaten Ende. 
"Harapan kami, ke depan kalau ada pembangunan dermaga atau apa saja yang dikelola oleh pemerintah propinsi atau pemerintah pusat supaya dikoordinasikan secara baik dengan pemerintah kabupaten. Dalam pembangunan Dermaga Nangakeo ini, pihak pemerintah Kabupaten Ende hanya menyiapkan lahan atau areal saja. Masalah teknis pembangunan, pihak Pemkab Ende tidak diikutsertakan lagi," kata Mansur. (mar)


Desa Aibura Terbaik di Sikka

MAUMERE, PK-- Desa Aibura, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka tahun 2008 meraih predikat desa terbaik di kabupatan ini. Desa Aibura menyisihkan 146 desa lainnya yang ikut dalam ajang pemilihan desa terbaik tingkat Kabupaten Sikka. Untuk tingkat Propinsi NTT, Desa Aibura meraih juara harapan III. Dengan kemenangan itu, Desa Aibura mendapat bonus uang Rp 15 juta dari Pemkab Sikka dan Rp 2 juta dari pemerintah propinsi. 
Kades Aibura, Pona Kowan Cornelis, ditemui di Badan PMD Sikka, Senin (4/8/2008), mengatakan keberhasilan Desa Aibura meraih kemenangan berkat usaha dan kerja sama semua pihak, baik aparatur desa, pihak BPD, tokoh masyarakat, tokoh adat, agama maupun masyarakat.
Cornelis yang didampingi bendahara desa, Vinsensia Ludgonda, mengatakan, pihaknya ke depan akan tetap berusaha meningkatkan kemajauan desa, baik bidang administrasi manajemen desa, kebersihan lingkungan, serta kegiatan desa lainnya.
Dengan keberhasilan ini, pihaknya akan menghadiri upacara HUT Proklamasi tanggal 17 Agustus tingkat Propinsi NTT di Kupang. "Kemenangan Desa Aibura tahun 2008 adalah kemenangan seluruh warga Desa Aibura. Kami berharap ke depan bisa ikut upacara 17 Agustus di Istana Negara di Jakarta," kata Cornelis.
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Sikka, Ludgerus Wodong, S.Sos, berharap kemenangan Desa Aibura menjadi contoh dan pemacu semangat bagi desa lainnya di Sikka agar bisa meningkatkan kualitas pembangunan di desanya di waktu mendatang. Penilaian desa terbaik meliputi penilaian kebersihan desa, kegiatan PKK, administrasi dan pembangunan. (vel)

Desa Terbaik 2008 di Sikka 

Desa                  Kecamatan      Bonus
I Aibura             Waigete           Rp 15 juta 
II Gunung Sari    Alok                Rp 10 juta
III Maluriwu       Palue               Rp 7,5 juta


Gempa 5,5 SR Guncang Labuan Bajo

LABUAN BAJO, PK --- Gempa berkekuatan 5,5 Skala Richter (SR) menggoncang Kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Senin (4/8/2008) pukul 11.30 Wita. Goncangan yang tidak begitu lama itu sempat membuat panik warga yang sedang beraktivitas.
Beberapa kegiatan di pemerintahan sempat terhenti karena para pegawai panik akibat goncangan gempa tektoknik tersebut. Rapat tim koordinasi penanggulangan rabies tingkat Kabupaten Mabar di Hotel Pelangi, Labuan Bajo juga terganggu. Semua peserta takut dan panik, ada yang berteriak histeris akibat goncangan dalam ruangan rapat. 
Sejumlah peserta sempat berhamburan keluar ruangan sambil berteriak. Saat itu dalam ruangan sedang ada pemaparan oleh Kepala Dinas (Kadis) Tanaman Pangan, Perkebunan dan Peternakan Mabar, Ir. Matheus Janing. Saat kondisi sudah aman, kegiatan dilanjutkan kembali. Kondisi yang sama terjadi hampir pada sejumlah kantor pemerintah setempat. Para PNS yang merasa adanya guncangan berteriak kemudian berlari keluar ruangan.
Sementara di pasar, dan tempat umum lainnya, warga sempat panik saat gempa meski goyangan atau goncangannya tidak begitu lama. Hal serupa terjadi di sejumlah sekolah dalam Kota Labuan Bajo. Para siswa yang sedang berada dalam ruangan berhamburan keluar sambil berteriak, namun kondisi itu hanya terjadi beberapa detik saja.
Kepala Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Labuan Bajo, Agustinus Bolilera, kepada Pos Kupang membenarkan gempa tersebut. Menurut Bolilera, episentrum gempa terdapat pada 8,26 Lintang Selatan (LS)-120.38 Bujur Timur (BT) dan berada pada 39 kilometer Barat Laut Ruteng dengan kedalaman 110 kilometer. (yel)