Format : 150 X 225 mm

Cover : Art Paper 300 gsm

Isi : HVS 60 gsm, 352 hlm

Harga : Rp 50.000,- per  eks. Luar kota ditambah ongkos kirim.

Untuk Pemesanan hubungi :

 

Alfons Nedabang

M. 081 339 129 503
 

Novry & Veny

M. 081 339 309 249 &

M. 081 339 453 169
 

Harian Umum Pos Kupang

P.  0380 833820, 828993

Fax. 0380 831801
 

Toko Buku Gramedia Kupang 
 

Kantor Perwakilan

HU Pos Kupang atau wartawan/karyawan

Pos Kupang di seluruh kabupaten/kota se NTT

Pesan melalui email

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

15 Tahun Menyuarakan Suara NTT
Sebuah mosaik tentang NTT
Oleh: Damianus Ola

SUDAH 15 tahun Surat Kabar Harian Pos Kupang setia menemani pembacanya. Mulai dari hanya 12 halaman dengan bentuk tabloid, sempat turun hanya delapan halaman karena dihantam krisis keuangan, kemudian bangkit lagi ke 12 halaman, berkembang menjadi 16 halaman dalam bentuk broadsheet (koran badan lebar) dan kini menjadi 20 halaman. Jatuh bangun harian ini berusaha tetap eksis dan setiap pada pembacanya.
Beberapa hari lagi, yakni 1 Desember 2007, harian ini genap berusia 15 tahun. Dan pada usianya yang ke-15 tahun itu, Pos Kupang kembali membuktikan kesetiaannya, tidak hanya dengan cara rutin tiap hari mengunjungi pembacanya melalui koran, tetapi dengan menulis dan menerbitkan sebuah buku. PT Timor Media Grafika (TMG) yang menerbitkan SKH PosKupang, telah menerbitkan buku dengan judul “15 Tahun Pos Kupang, Suara Nusa Tenggara Timur”. Buku inilah yang akan diluncurkan dalam rangkaian HUT ke-15 SKH Pos Kupang.
Judul buku ini tentu tidak asing lagi bagi pembaca setia Pos Kupang. Sebab di halaman satu setiap edisi, selalu ada tulisan “POS KUPANG” yang dibuat dengan huruf besar dengan ukuran yang lebih besar dan tebal. Di bawah tulisan “besar” itu, tanpa garis pembatas, ada tulisan/kalimat “SUARA NUSA TENGGARA TIMUR”. Itulah yang diambil menjadi judul buku yang segera dipersembahkan kepada publik itu.
Ya, suara Nusa Tenggara Timur. Itulah moto, semboyan, pedoman, bahkan prinsip surat kabar ini. Terlalu lama warga NTT terisolasi dari akses informasi; sesuatu yang sudah menjadi keniscayaan bagi perkembangan dan kemajuan suatu daerah/masyarakat. Sampai dengan kehadiran Pos Kupang 1 Desember 1992 silam, di NTT hanya ada Mingguan Dian yang terbit di Ende. Surat kabar nasional seperti Kompas, Suara Karya dan Jawa Pos memang beredar sampai di NTT tetapi masih sangat terbatas. Sementara televisi baru bisa diakses oleh sebagian kecil penduduk di perkotaan dan hanya sebagian kecil masyarakat di pedesaan yang mengandalkan radio. Bisa dibayangkan seperti apa akselerasi yang dicapai dengan kondisi macam ini.
Maka Prof. Dr. Alo Liliweri dalam Kata Pengantar buku 15 Tahun Pos Kupang, Suara Nusa Tenggara Timur menegaskan bahwa dengan menulis dan menerbitkan buku, Pos Kupang sebagai salah satu institusi sosial pelaku komunikasi manusia tidak hanya sekadar berperan dalam hal sending of message. Prof Alo benar. Pers, termasuk Pos Kupang berperan membentuk opini dan mempengaruhi perubahan sikap masyarakat.
Karena itulah selain melalui koran, Pos Kupang sebagai sebuah institusi pers, perlu menulis dan menerbitkan buku. Yang menarik dari buku ini adalah karena fokus utamanya tentang NTT; propinsi yang sudah hampir setengah abad usianya namun masih bergelut dengan beragam persoalan “kuno tradisional” seperti kelaparan, kemiskinan, kurang gizi dan sebagainya.
Dalam buku tersebut, gubernur dan para mantan Gubernur NTT diajak mempercakapkan tentang persoalan-persoalan yang melilit Propinsi NTT. Dalam buku ini pula, cerdik cendekia, agamawan, politisi, sosiolog, antropolog, dan tidak terkecuali para pegiat pers sama-sama memetakan aneka persoalan yang dihadapi NTT dan menawarkan solusi dengan cara pandangnya masing-masing. Sebuah mosaik tentang NTT dipersembahkan oleh Pos Kupang, tidak hanya dalam rangka HUT-nya yang ke 15 tahun, tetapi juga layak dipersembahkan untuk Propinsi NTT yang bulan depan genap berusia 49 tahun. Selamat ulang tahun! Sehatlah selalu, murah rezeki (agar tidak miskin lagi).
***
Yusran Pare, Pemimpin Redaksi Tribun Jabar yang dulu ikut mengawaki Pos Kupang, memberikan kesaksiannya dalam buku ini bahwa Pos Kupang membuktikan diri sebagai oase yang mampu membasuh dahaga informasi dan intelektual masyarakat NTT. Ya, Pos Kupang sudah, sedang dan akan terus membasuh dahaga informasi masyarakat NTT. Tidak sebatas itu saja, melalui websitenya http://www.indomedia.com/poskup, Pos Kupang sudah mengabarkan ke seluruh dunia tentang NTT, sejalan dengan motonya, Suara Nusa Tenggara Timur.
Kini, di usianya yang ke 15 tahun, Pos Kupang membasuh dahaga intelektual pembacanya dengan menulis dan menerbitkan buku. Mengapa Pos Kupang harus menulis dan menerbitkan buku? Setidaknya beberapa alasan (praktis) bisa dikemukakan di sini. Pertama, menulis buku adalah sebuah tradisi intelektual. Dan, pekerjaan memproduksi surat kabar pun sebetulnya pekerjaan intelektual. Butuh otak untuk memberi konteks pada setiap pesan yang ingin disiarkan di surat kabar. Damyan Godho, Pemimpin Umum SKH Pos Kupang mengatakan bahwa dengan memberi konteks pada setiap berita maka pesan yang ingin disampaikan dalam berita itu punya “roh”, punya spirit untuk membawa perubahan; tidak menyesatkan dan meracuni masyarakat dan perubahan sosial yang dikehendaki bersama. Dan awak Pos Kupang dengan segala keterbatasan dan kelebihannya punya modal untuk melahirkan buku, karena hari-hari melaksanakan pekerjaan intelektual.
“Tradisi intelektual seperti ini harus dipertahankan terus,” demikian penegasan Dion DB Putra, Pemred Pos Kupang dalam rapat pemantapan launching buku, baru-baru ini.
Kedua, sebenarnya Pos Kupang setiap hari mendokumentasikan berbagai macam hal tentang NTT. Pos Kupang telah menjadi tempat masyarakat NTT dari segala lapisan mempercakapkan tentang daerahnya, mengeluarkan kegundahannya atau menyatakan kegembiraannya. Pos Kupang telah menjadi tempat bagi warga NTT berdebat-diskusi tentang berbagai hal. Dan itu mengapa tidak didokumentasikan dalam bentuk buku? Pikiran inilah yang terus menggoda awak Pos Kupang untuk tidak hanya menemani pembacanya dengan koran setiap hari, tetapi juga membangun komunikasi sosial melalui penerbitan buku-buku.
Karena itu di usianya yang ke 15 tahun yang antara lain ditandai dengan peluncuran buku 15 Tahun Pos Kupang, Suara Nusa Tenggara Timur, harian ini kembali menegaskan sikap dan komitmennya untuk tetap menyuarakan suara Nusa Tenggara Timur.