Serambi Rabu 17 September 2003


Kamus.Web.Id

Serambi Indonesia Online serambi_indonesia@yahoo.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

menu utama

PPI Hendaknya tak Ingkar Janji

Alhamdulillah, setelah dihentikan sejak 1 Agustus 2003, gula impor kembali masuk langsung melalui daerah pabean Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Kali ini bukan gula impor via Sabang yang sarat masalah serta anyir dengan bau penyelundupan. Gula yang masuk adalah gula Thailand yang masuk secara legal melalui Pelabuhan Malahayati. Tentu saja komoditi itu dimasukkan setelah melewati ke- tentuan baku kepabeanan nasional.

Untuk sementara dipasok sebanyak 2000 ton. Jumlah itu jelas belum memenuhi kebutuhan gula masyarakat (NAD) yang mencapai sekitar 5000 ton per bulan. Dengan jumlah 2000 ton, gula yang masuk tersebut hanya mencukupi kebutuhan gula NAD untuk dua pekan.

Pasokan langsung gula tersebut jelas membawa angin segar bagi masyarakat NAD. Karena sejak diputuskannya pasokan gula impor via Sabang, warga NAD menggantungkan kebutuhan gulanya pada pasokan gula asal Medan Sumatera Utara.

Masuknya gula impor dari Sabang, membuat warga NAD sempat menikmati gula murah. Bahkan secara nasional, harga gula di NAD termasuk paling murah kala itu. Yakni dalam kisaran Rp 3000 s/d Rp 3.300. Karena gula tersebut belum dikenai bea masuk, PPn dan PPh.

Jelas saja, harga itu sangat 'familiar' di mata masyarakat. Namun semua itu harus diakhiri, karena memang melenceng dari ketentuan baku negeri ini. Gula Sabang dilarang masuk terhitung sejak tanggal 1 Agustus 2003.

Pelarangan itu tentu saja sempat membuat shock masyarakat, karena mereka telah sempat menikmati gula murah. Toh, akhirnya warga juga sadar, ketentuan perundangan harus ditegakkan. Dan gula untuk masyarakat NAD pun didatangkan dari Medan.

Kita tahu, pelarangan itu tujuannya agar petani tebu dan kilang tebu di daerah, tidak mati dalam berbisnis. Ironisnya, sejak beberapa tahun terakhir, pabrik gula tak ada lagi di NAD, termasuk petani yang khusus menanam tebu. Pabrik gula Cot Girek Aceh Utara dan pabrik gula mini Silihnara Aceh Tengah hanya tinggi ke- nangan.

Apa boleh buat, konsideran itu tetap tak bisa menjadi pegangan. Gula untuk NAD akhirnya tetap harus didatangkan dari Medan. Lagi- lagi ketergantungan terhadap Medan, tak bisa dihindarkan.

Lalu apa yang terjadi setelah gula impor via Sabang resmi dihentikan? Mafia Medan secara spontan 'bermain'. Bukan hanya itu dari kalangan pedagang di NAD juga ikut memanaskan situasi. Hanya saja mereka berdalih, cukong Medan yang punya ulah, serta kondisi jalur lalu lintas yang dinilai tak kondusif. Dan hasilnya, gulapun melambung jauh dari harga yang pantas. Bagi masyarakat, tak ada pilihan lain. Gula yang merupakan kebutuhan pokok, harus dibeli dengan harga yang jauh dari kewajaran sekalipun.

Singkat kata, penghentian pasokan gula Sabang ke Aceh, dimanfaatkan secara maksimal oleh cukong Medan. Sementara bagi warga NAD, gula yang terasa manis malah akhirnya makin pahit.

Sekali lagi, kita pantas berucap alhamdulillah, seiring munculnya gula impor via Dermaga Malahayati Kreung Raya, Aceh Besar. Pemerintah akhirnya mendengar harapan rakyat NAD yang menginginkan gula masuk langsung ke NAD. PT PPI ditunjuk sebagai lembaga yang representatif untuk tugas itu.

Angin segar seperti berhembus deras. Yang ada di benak masyarakat seiring pembongkaran itu adalah, harga gula yang terjangkau. Dan tidak lagi menjadi 'mainan' cukong Medan.

Sesuai dengan perkiraan riil lapangan, harga gula yang pantas untuk warga NAD setelah masuknya gula impor milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) adalah Rp 3.900 s/d Rp 4.100/kg. Harga itu tentu saja setelah termasuk bea masuk Rp 700/kg, PPh dan PPn.

Jika nantinya harga gula pasca masuknya gula PPI tersebut, sama dengan harga saat ini, masyarakat tentu belum merasakan dampak dari kehadiran gula impor langsung ke Aceh. Karena itulah kita sangat berharap kehadiran gula PPI bukan hanya sekadar membawa angin segar, akan tetapi kelegaan yang nyata bagi konsumen gula di NAD.

Selain itu gula PPI diharapkan hadir ke NAD secara konsisten, tanpa terpengaruh dengan aksi akal bulus yang kini sedang dilakoni para mafia gula di Medan. Masalahnya, cukong-cukong Medan, kemarin, dikabarkan tiba-tiba menurunkan harga gulanya ke level Rp 165.000 s/d Rp 170.000 per zak. Padahal sebelumnya, mencapai Rp 190.000 per sak.

Kita berharap PPI tak terpengaruh dengan trik busuk cukong gula luar NAD tersebut. Dengan harapan tentunya harga gula PPI sesuai janji, yakni Rp 3.900 e/d Rp 4.100/kg. Hanya dengan kriteria harga tersebut, masyarakat NAD akan mampu merasakan kembali manisnya gula.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Serambi Indonesia Redaksi Jln. Laksamana Malahayati, Km 6 Desa Baet, Aceh Besar/Banda Aceh Tel (0651) 51800 Fax (0651) 51756


 

 

 

 

 

 

 

 

Serambi Indonesia Redaksi Jln. Laksamana Malahayati, Km 6 Desa Baet, Aceh Besar/Banda Aceh Tel (0651) 51800 Fax (0651) 51756